14 | ꦥꦼꦂꦏꦠꦄꦤ꧀ꦪꦁꦩꦼꦚꦏꦶꦠ꧀ꦏꦤ꧀꧈

Tengah malam Gilang tidak bisa tidur. Ia merasa ada sesuatu yang memperhatikkan di balik kegelapan. Ia juga meragukan ucapan Raidan. "Apa? Apa bener kata Raidan sore tadi?." gumamnya duduk di tepi kasur melihat Zafran yang tidur membelakanginya menghadap tembok.

"Lang." tubuh Gilang menegang beberapa detik merasakan sesuatu berada di bahunya. Mau tidak mau cowok itu menutup mata dan memutar badannya kebelakang dimana Zafran tengah menatapnya aneh terheran.

"Fyuhh!!." cowok itu meraup oksigen paksa.

"Lo kenapa?." tanya Zafran.

Cowok itu menjelaskan apa yang di rasakannya sebelum datang ketempat itu. Saat Zafran menggantikann ia menyetir, Gilang melihat sekelebat bayangan besar yang seperti menghalanginya masuk. Saat itu juga ia menjadi lebih sensitif dan responsif melihat sekitarnya. "Apa lo liat? Cewek yang ngikutin kita sejak awal berangkat?." tanya Zafran di angguki.

"Gak liat sih sebenernya, tapi gue ngerasanya gitu. Atau lo bisa liat gitu? Disini sekarang ada apaan?." tanya beruntun Gilang memegang kedua bahu Zafran.

"Enggak, tapi guee... Dapet peringatan kedua." jelas Zafran pada Gilang menganga.

"Kenapa lo gak bilang Za? Lo sayang kita sama diri lo sendiri kan? Harusnya lo bilang biar gue sama yang lain dan juga diri lo gak pergi ketempat ini. Peringatan pertama waktu itu, udah cukup membuktikan kalo sesuatu yang memperingati lo itu bener. Semua kejadian gak masuk akal menimpa kita." Gilang menunduk marah.

Zafran meminta maaf. "Tapi dia bukan seseorang yang harus di percayai." Gilang menatap Zafran, benar ucapan cowok itu. Apalagi yang memperingati hanyalah sesosok tanpa wujud yang terus mengikuti.

———

"Kita balik sekarang." Gilang berucap. Mereka semua tengah berada di lobi Villa sedang makan yang langsung mendapat tatapan aneh dari para sahabatnya.

"Lho kenapa? Baru aja beberapa hari disini? Gila lo? Sia-sia dong kita kesini!." Raidan menyeloroh kesal karena ia kan sudah capek menyetir, dan apa-apaan ucapan sahabat laki-lakinya itu.

"Bener tuh!." Stella ikut membantah.

"Kalo kepala lo masih sakit mending ke rumah sakit terdekat aja Lang, daripada mikir yang aneh-aneh." Reyhan menimpali.

"Iniii gak sesimpel yang kalian kiraa..." lirih Gilang beranjak pergi, cowok itu merasa memang mengganggu suasana. Zafran menatap tajam sahabat-sahabatnya mengikuti Gilang dari belakang.

Kazea merasa ada yang salah pada salah satu kakaknya itu. "Eh bang Rey sama bang Dan kok gitu. Tanya dulu dong ada apa, kan bang Gilang jadi sedih." gadis itu beranjak pergi.

"Apa-apaan sih Gilang?! Egois bener jadi anak maunya di turutin terus." Reyhan berceletuk kesal saat ia di tegur Kazea. Jadi meluapkan kekesalannya pada Gilang yang mana sang empu tengah duduk.

"Bangg Gilangg, heyyy?!." Kazea duduk di samping cowok itu yang tidak berminat mengalihkan pandangannya. Kazea tersenyum riang melihatnya.

"Cerita dongg..." pintanya.

"Gak ada apa-apa Ze, sana main sama Cece." ucapan Gilang memang seperti mengusir Kazea, tak urung gadis itu berlalu pergi. Di gantikan Zafran di sampingnya. Cowok itu merasa paling egois karena tidak memberitahu sejak awal perjalanan.

"Eh kalian berdua mau kemana?!." tanya Bima mengalihkan atensi semua anak. Gilang berlalu pergi meninggalkan.

"Rumah sakit." Zafran menjawab singkat tanpa berbasa-basi. Mereka berdua keluar dari Villa membuat keheningan melanda.

Reyhan merasa meskipun Gilang tida mendengar ucapannya waktu itu tentang keeogisan. Tapi ia merasa bersalah karena membicarakan sahabatnya sendiri di belakang secara kasar. Raidan terdiam.

Tapi jawaban Zafran tidaklah bohong. Gilang sendiri yang meminta untuk di temani jika mungkin saja ada yang salah dengan otaknya persis perkataan Reyhan. Jadi lebih baik ia memeriksanya.

▪ ▪ ▪

Doorrr!!

"Lang... Sorii." Reyhan dan Raidan meminta maaf saat melihat kedatangan Gilang dan Zafran yang kembali dari rumah sakit. Kedua cowok itu awalnya ingin sesuatu yang menyenangkan tanpa gangguan.

"Ya gue fine." jawab Gilang berlalu.

Cowok itu memang tak ambil pusing. Hingga waktu sore tiba, mereka berkumpul untuk makan bersama. "Bang Gilanggg.. Kita semua setuju balik kok." Kazea mengacungkan jempolnya setelah bicara.

"Oh baguslah." jawab Gilang singkat.

"Tidakk!! Kamu terlambat!!."

"Semuanya akan dimulaii!!."

"Salahmu!! Semua ini salahmu!!."

Telinga Zafran berdenging mendengar sahut menyahut secara beruntun dan tidak jelas. "Lo gak papa?." tanya Gilang di gelengi Zafran mengacuhkan teriakan itu. Hingga teriakan itu semakin jelas membuat Zafran kehilangan kesadaran sepenuhnya.

"ZAFRANNN!!." teriak mereka panik.

Waktu semakin malam dan tidak ada tanda-tanda kesadaran dari cowok itu. Gilang yang lelah menunggu memilih menutup matanya sejenak sebelum gedoran pintu membangunkannya.

DUK!

DUKKK!!

DUKK!

"ZE-... ZEA LANG!! ZEA-... ZEA ILANG!!." Gilang menegang dan membuka matanya lebar. Spontan ia melirik kearah Zafran yang masih belum sadarkan diri. Jika cowok itu bangun dan mendapati adiknya tidak ada, habislah ia dan mereka semua. Cowok itu akan marah dan bertanya mengapa mereka tidak menjaga adiknya dengan baik. Padahal mereka semua adalah kakak Kazea.

"Bim, lo sama cewe-cewe ke kamar gue jagain Zafran. Rey, Dan, kita panggil petugas buat nyusur cari. Pantai kayak gini pasti luas dan kebanyakan tempat terbuka. Harusnya Zea bisa ditemuin." ucap Gilang.

"Tapi Lang,, lo gak tau?." tanya Reyhan di gelengi Gilang.

"Disebelah timur Villa ini kan ada hutan yang lebat banget." sahut Stella mendahului. Pikiran Gilang sudah tidak karuan saat mendengarnya. Apalagi peringatan itu, ia meragukannya namun jika semua itu benar. Apa yang harus di lakukan olehnya.

Pencarian dilakukan secara terpisah. Tim petugas yang menyusuri juga sudah di mintai bantuan atas dasar hilangnya salah satu pengunjung. Di sekitar pantai tidak ditemukan apapun, disinilah Gilang berada. Jalan masuk hutan dekat pantai tersebut yang auranya sangat mencekam.

"ZEAAA!! LO DIMANA?!!." teriak Reyhan.

Tidak ada jawaban, semuanya hening dan terlalu sunyi. Tim petugas yang di kerahkan untuk mencari juga tidak berani masuk terlalu jauh kedalam hutan. Gilang yang merasa tidak ada jalan lain memilih bersembunyi dan mendekat kearah hutan lebih dalam. "Lang." cowok itu kaget melihat Reyhan dan Raihan yang menyengir di belakangnya.

"Gak ngajak-ngajak kita lo." ketus Raidan.

"Gue yakin kalo Zea gak ada di sekitar pantai. Bisa aja di masuk ke hutan ini, tapi petugas gak ada yang berani masuk. Apalagi ini udah tengah malem, gue gak mau Zea kenapa-kenapa lebih lama." jelas Gilang meyentuh hati. Tentu saja ia kan kakak yang dapat diandalka adik-adiknya.

"Okelah kita ikut.." mereka bertiga masuk lebih dalam melihat betapa lebat dan tertutupnya hutan itu. Seperti berada di sebuah goa yang ada jutaan tahun lalu.

Episodes
1 01 | ꦭꦶꦧꦸꦫꦤ꧀ꦩꦸꦱꦶꦩ꧀ꦥꦤꦱ꧀꧈
2 02 | ꦥꦼꦂꦠꦩꦏꦭꦶꦢꦶꦏꦩꦂꦩꦤ꧀ꦢꦶ꧉
3 03 | ꦊꦉꦁꦢꦶꦧꦮꦃꦒꦸꦤꦸꦁꦩꦼꦫꦃ꧉
4 04 | ꦩꦭꦩ꧀ꦠꦤ꧀ꦥꦧꦸꦭꦤ꧀ꦧꦶꦤ꧀ꦠꦁ꧉
5 05 | ꦭꦫꦔꦤ꧀ꦪꦁꦠꦼꦂꦥꦠꦃꦏꦤ꧀꧈
6 06 | ꦱꦼꦫꦁꦏꦆꦪꦤ꧀ꦩꦶꦱ꧀ꦠꦼꦫꦶꦠꦼꦫꦸꦁꦏꦥ꧀꧈
7 07 | ꦏꦼꦧꦼꦤꦫꦤ꧀ꦢꦤ꧀ꦱꦼꦩꦸꦮꦚꦱꦼꦊꦱꦆ꧉
8 08 | ꦠꦼꦫꦶꦪꦏꦤ꧀ꦪꦁꦏꦼꦩ꧀ꦧꦭꦶꦢꦶꦢꦼꦔꦂ꧉
9 09 | ꦥꦼꦂꦩꦸꦭꦄꦤ꧀ꦢꦼꦔꦤ꧀ꦱꦼꦧꦸꦮꦃꦄꦚ꧀ꦕꦩꦤ꧀꧈
10 10 | ꦏꦭꦶꦩꦠ꧀ꦱꦼꦢꦼꦂꦲꦤꦪꦁꦧꦼꦂꦧꦼꦢ꧉
11 11 | ꦠꦔꦶꦱꦤ꧀ꦱꦼꦱꦼꦎꦫꦁꦢꦶꦧꦮꦃꦥꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀꧈
12 12 | ꦉꦚ꧀ꦕꦤꦥꦼꦔꦶꦱꦶꦪꦤ꧀ꦮꦏ꧀ꦠꦸꦢꦶꦩꦸꦭꦆ꧉
13 13 | ꦥꦼꦫꦶꦔꦠꦤ꧀ꦏꦼꦢꦸꦮꦱꦼꦭꦩꦥꦼꦂꦗꦭꦤꦤ꧀꧈
14 14 | ꦥꦼꦂꦏꦠꦄꦤ꧀ꦪꦁꦩꦼꦚꦏꦶꦠ꧀ꦏꦤ꧀꧈
15 15 | ꦄꦥꦪꦁꦠꦼꦂꦗꦢꦶ?
16 16 | ꦏꦼꦧꦼꦂꦱꦩꦄꦤ꧀ꦢꦤ꧀ꦏꦼꦩ꧀ꦧꦭꦶꦥꦸꦭꦁ꧉
17 17 | ꦏꦶꦱꦃꦚꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ꦱꦼꦊꦱꦆ꧉
18 18 | ꦏꦼꦆꦔꦶꦤꦤ꧀ꦪꦁꦠꦼꦂꦱꦩ꧀ꦥꦆꦏꦤ꧀꧈
19 19 | ꦄꦢꦄꦥꦢꦼꦔꦤ꧀ꦱꦶꦠꦸꦮꦱꦶꦆꦤꦶ꧉
20 20 | ꦩꦶꦠꦺꦴꦱ꧀ꦄꦠꦈꦥ꦳ꦏ꧀ꦠ꧈ꦏꦶꦠꦧꦸꦏ꧀ꦠꦶꦏꦤ꧀꧈
21 21 | ꦕꦼꦫꦶꦠꦪꦁꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦠꦱ꧀꧈
22 22 | ꦩꦼꦭꦶꦧꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦠꦤ꧀ꦥꦧꦼꦫꦸꦱꦲ꧉
23 23 | ꦠꦶꦢꦏ꧀ꦄꦢꦪꦁꦠꦶꦢꦏ꧀ꦧꦶꦱ꧉
24 24 | ꦠꦼꦩ꧀ꦥꦠ꧀ꦪꦁꦠꦏ꧀ꦥꦼꦂꦤꦃꦢꦶꦏꦸꦚ꧀ꦗꦸꦔꦶ꧉
25 25 | ꦏꦼꦱꦭꦃꦥꦲꦲꦩꦤ꧀ꦪꦁꦩꦼꦚꦶꦏ꧀ꦱ꧉
26 26 | ꦄꦮꦭ꧀ꦪꦁꦧꦆꦏ꧀ꦱꦼꦥꦼꦂꦠꦶꦧꦸꦔ꧉
27 27 | ꦢꦼꦱꦩꦠꦲꦫꦶꦠꦼꦂꦧꦼꦤꦩ꧀꧈
28 28 | ꦱꦾꦫꦠ꧀ꦏꦼꦱꦭꦲꦤ꧀ꦪꦁꦠꦼꦫꦸꦱ꧀ꦠꦼꦫꦸꦭꦔꦶ꧉
29 29 | ꦮꦤꦶꦠꦧꦼꦂꦱꦼꦊꦤ꧀ꦢꦁꦩꦼꦫꦃ꧉
30 30 | ꦱꦼꦩꦸꦮꦚꦧꦼꦫꦏ꦳ꦶꦂꦱꦄꦠ꧀ꦆꦠꦸ꧉
Episodes

Updated 30 Episodes

1
01 | ꦭꦶꦧꦸꦫꦤ꧀ꦩꦸꦱꦶꦩ꧀ꦥꦤꦱ꧀꧈
2
02 | ꦥꦼꦂꦠꦩꦏꦭꦶꦢꦶꦏꦩꦂꦩꦤ꧀ꦢꦶ꧉
3
03 | ꦊꦉꦁꦢꦶꦧꦮꦃꦒꦸꦤꦸꦁꦩꦼꦫꦃ꧉
4
04 | ꦩꦭꦩ꧀ꦠꦤ꧀ꦥꦧꦸꦭꦤ꧀ꦧꦶꦤ꧀ꦠꦁ꧉
5
05 | ꦭꦫꦔꦤ꧀ꦪꦁꦠꦼꦂꦥꦠꦃꦏꦤ꧀꧈
6
06 | ꦱꦼꦫꦁꦏꦆꦪꦤ꧀ꦩꦶꦱ꧀ꦠꦼꦫꦶꦠꦼꦫꦸꦁꦏꦥ꧀꧈
7
07 | ꦏꦼꦧꦼꦤꦫꦤ꧀ꦢꦤ꧀ꦱꦼꦩꦸꦮꦚꦱꦼꦊꦱꦆ꧉
8
08 | ꦠꦼꦫꦶꦪꦏꦤ꧀ꦪꦁꦏꦼꦩ꧀ꦧꦭꦶꦢꦶꦢꦼꦔꦂ꧉
9
09 | ꦥꦼꦂꦩꦸꦭꦄꦤ꧀ꦢꦼꦔꦤ꧀ꦱꦼꦧꦸꦮꦃꦄꦚ꧀ꦕꦩꦤ꧀꧈
10
10 | ꦏꦭꦶꦩꦠ꧀ꦱꦼꦢꦼꦂꦲꦤꦪꦁꦧꦼꦂꦧꦼꦢ꧉
11
11 | ꦠꦔꦶꦱꦤ꧀ꦱꦼꦱꦼꦎꦫꦁꦢꦶꦧꦮꦃꦥꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀꧈
12
12 | ꦉꦚ꧀ꦕꦤꦥꦼꦔꦶꦱꦶꦪꦤ꧀ꦮꦏ꧀ꦠꦸꦢꦶꦩꦸꦭꦆ꧉
13
13 | ꦥꦼꦫꦶꦔꦠꦤ꧀ꦏꦼꦢꦸꦮꦱꦼꦭꦩꦥꦼꦂꦗꦭꦤꦤ꧀꧈
14
14 | ꦥꦼꦂꦏꦠꦄꦤ꧀ꦪꦁꦩꦼꦚꦏꦶꦠ꧀ꦏꦤ꧀꧈
15
15 | ꦄꦥꦪꦁꦠꦼꦂꦗꦢꦶ?
16
16 | ꦏꦼꦧꦼꦂꦱꦩꦄꦤ꧀ꦢꦤ꧀ꦏꦼꦩ꧀ꦧꦭꦶꦥꦸꦭꦁ꧉
17
17 | ꦏꦶꦱꦃꦚꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ꦱꦼꦊꦱꦆ꧉
18
18 | ꦏꦼꦆꦔꦶꦤꦤ꧀ꦪꦁꦠꦼꦂꦱꦩ꧀ꦥꦆꦏꦤ꧀꧈
19
19 | ꦄꦢꦄꦥꦢꦼꦔꦤ꧀ꦱꦶꦠꦸꦮꦱꦶꦆꦤꦶ꧉
20
20 | ꦩꦶꦠꦺꦴꦱ꧀ꦄꦠꦈꦥ꦳ꦏ꧀ꦠ꧈ꦏꦶꦠꦧꦸꦏ꧀ꦠꦶꦏꦤ꧀꧈
21
21 | ꦕꦼꦫꦶꦠꦪꦁꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦠꦱ꧀꧈
22
22 | ꦩꦼꦭꦶꦧꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦠꦤ꧀ꦥꦧꦼꦫꦸꦱꦲ꧉
23
23 | ꦠꦶꦢꦏ꧀ꦄꦢꦪꦁꦠꦶꦢꦏ꧀ꦧꦶꦱ꧉
24
24 | ꦠꦼꦩ꧀ꦥꦠ꧀ꦪꦁꦠꦏ꧀ꦥꦼꦂꦤꦃꦢꦶꦏꦸꦚ꧀ꦗꦸꦔꦶ꧉
25
25 | ꦏꦼꦱꦭꦃꦥꦲꦲꦩꦤ꧀ꦪꦁꦩꦼꦚꦶꦏ꧀ꦱ꧉
26
26 | ꦄꦮꦭ꧀ꦪꦁꦧꦆꦏ꧀ꦱꦼꦥꦼꦂꦠꦶꦧꦸꦔ꧉
27
27 | ꦢꦼꦱꦩꦠꦲꦫꦶꦠꦼꦂꦧꦼꦤꦩ꧀꧈
28
28 | ꦱꦾꦫꦠ꧀ꦏꦼꦱꦭꦲꦤ꧀ꦪꦁꦠꦼꦫꦸꦱ꧀ꦠꦼꦫꦸꦭꦔꦶ꧉
29
29 | ꦮꦤꦶꦠꦧꦼꦂꦱꦼꦊꦤ꧀ꦢꦁꦩꦼꦫꦃ꧉
30
30 | ꦱꦼꦩꦸꦮꦚꦧꦼꦫꦏ꦳ꦶꦂꦱꦄꦠ꧀ꦆꦠꦸ꧉

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!