Tubuh Zahra menegang seketika. Tanpa melihat sekalipun, Zafran yang berada di kamarnya dengan punggung bersandar dinding tembok itu sudah tahu. Ibunya tidaklah menyesali kehadirannya, beliau hanya tidak merelakan suaminya pergi sedangkan teman-teman beliau masih sehat bahkan tergolong orang-orang penting.
Chika menarik lengan Stella, Reyhan dan Gilang yang menyembulkan kepalanya di balik pintu. "Gak sopan!." tegur gadis itu menajamkan tatapannya menghunus. Mereka menyengir bersikap tak bersalah.
Waktu semakin larut, rumah Zafran sudah sepi ketika para sahabat dan orangtua meninggalkan rumah itu sore tadi. "Za, Ze turun!! Ayo makan!!." teriak Zahra dari bawah. Rumah itu berlantai dua yang cukup minimalis dan nyaman untuk di tinggali.
"Ma, besok aku mau kerumah temen."
"Memang punya?." tanya Zahra di angguki Kazea yang memang sudah berjanji pada seseorang. Zahra memperbolehkan asalkan gadis itu tahu waktu, apalagi ia tidak terlalu yakin jika putrinya mempunyai seorang teman di Jakarta. Mungkin saja ada beberapa yang tidak di ketahui olehnya.
Anak rambut Zafran bergerak kesana kemari saat jendela cowok itu terbuka. Kazea dan Zahra pergi urusan masing-masing. Tidak seperti dirinya yang bosan namun tidak tahu akan melakukan apa. Tak berselang lama kemudian, ponsel di atas meja itu berdering getar.
"Baik." Zafran menutup teleponnya. Ia baru saja di terima bekerja di sebuah mininarket terdekat, daripada memiliki waktu luang banyak yang terbuang, lebih baik mengisinya. Cowok itu meraih hoodienya dan bergegas keluar rumah.
———
"Cece!!." teriak Stella memanggil nama Chika yang berjalan melewati taman. Ternyata para sahabatnya tengah berada di sana kecuali Zafran. Gadis berbando kuning itu menghampiri Chika yang berdiri dengan beberapa buku tebal di pelukannya.
"Kalian disini lagi ngapain?." tanya Chika mendapati para sahabatnya menghampiri.
"Duduk aja disini, tadi kita kerumah lo tau. Kata bokap lo lagi keluar, yaudah kita nongkrong disini, eh ternyata lo disini." Chika menganggukkan kepalanya.
"Iya mau balikin buku." balas Chika..
Mata gadis itu mengedar. "Zan kemana?." tanya Chika yang selalu menyingkat nama Zafran. Mereka semua menggelengkan kepalanya, Reyhan bangkit.
"Lagi kerja di minimarket katanya. Nih." Reyhan menunjukkan chat pesan yang baru ia kirimkan pada cowok itu yang tidak bisa bergabung bermain bersama karena harus bekerja.
"Yaudah nanti abis balikin ini gue kesini lagi." Chika berjalan pergi diikuti Raina.
Mereka semua melanjutkan aktivitas mereka di tepi danau tadi, seperti Stella yang berselfie, Bima dan Gilang yang makan, Reyhan, Raidan dan Maudi yang bermain ponsel mereka masing-masing.
Beralih pada Zafran yang membawa kardus kedalam tempat penyimpanan makanan. Cowok itu bekerja di bagian pengecekan stok barang dan pengangkatan. Lagipula jika ia menjadi kasir, akan terlalu ramai dan itu mengganggunya. Lebih baik bekerja di belakang yang lebih nyaman.
Cowok itu mengalihkan atensinya pada seorang gadis berambut panjang yang datang dengan pakaian lusuh. Seperti tidak mengerti style zaman modern sekarang. Namun Zafran memilih pergi masuk kebelakang daripada mengidahkan gadis tersebut yang pergi lagi selang beberapa menit tanpa membeli apapun.
"Aku laparrr... Hikss!!"
Zafran memberikan roti yang ia dapat sebagai bonus tambahan bekerja itu pada gadis yang duduk di kursi kayu depan minimarket. Gadis itu mengangkat kepalanya dan melebarkan senyumannya. Tanpa membalas, Zafran pergi begitu saja.
Cowok itu berjalan pulang dengan earphone yang berada di telinganya. Waktu menjelang malam dengan kendaraan lalu lintas yang berkurang dari pagi hingga sore tadi.
▪ ▪ ▪
"Darimana kamu?!." tanya Zahra di ambang pintu. Wanita itu melipat kedua tangannya di dada dengan raut wajah merah padam. Zafran melihat Kazea yang berada di belakang Mamanya.
"Minimarket." jawab Zafran.
"Berapa kali Mama bilang? Tetep dirumah istirahat! Kamu kerja kan? Zea liat kamu di sana seharian." Zafran mengangguk membenarkan, lagipula berbohong juga tetap akan ketahuan. Cowok itu menatap adiknya menyelidik, kata Mama adiknya melihatnya disana seharian yang berarti adiknya juga disana seharian mengawasi.
"E-eh gak sengaja aelah bang. Lagian gue gak ada kerjaan abis dari rumah Sonia. Jadi gue nyari lo deh, betewe lo kasih roti kesiapa bang?." Zafran mengernyit heran.
Cowok itu membuka hoodienya."Udah tau gausah nanya." ucap cowok itu berlalu. Zahra meminta penjelasan yang mana Kazea memang tadi pulang lebih cepat karena naik ojek, padahal jaraknya tidak terlalu jauh. Ia bahkan melewati kakaknya saat cowok itu berjalan pulang dan mungkin saja Zafran memang tidak melihatnya.
Gadis itu menceritakan apa yang di lihatnya di balik pohon besar tadi saat ia bersembunyi. Kakaknya memberi sebuah roti pada seseorang yang tidak bisa di lihatnya, jika ada orang yang melihat. Mungkin abangnya sudah dianggap gila.
Zahra memijit pelipisnya lalu menyuruh Kazea untuk segera mandi. Wanita itu akan menyiapkan makanan dan pergi kearah dapur. "Anakmu sama persis dengan kamu Mas. Sifatnya." gumamnya.
Zafran membuka ponsel setelah membersihkan tubuh. Para sahabatnya meminta panggilan video untuk di angkat, jadilah cowok itu menekan tombol hijau mengangkatnya dan meletakkan ponsel tersebut bersandar pada buku. "Hallo Zaaa! Malem mas bro! Haha!." tawa Raidan.
"Gimana Za kerjanya?, capek banget pasti!." tanya Stella memberi tanggapan sendiri padahal ia tidak pernah melakukannya.
Zafran duduk di depan ponsel tanpa berekspresi seperti biasa. Hanya senyuman tipis saat melihat kekonyolan masing-masing sahabatnya. Cowok itu melihat Chika yang sedang membaca, walaupun bergabung. Gadis itu pasti sedang melakukan hal yang sama seperti biasa.
Zafran menaikkan satu alisnya. Ia melihat gadis depan minimarket yang ia beri roti tengah tersenyum padanya di samping Chika. "Ca." cowok itu memanggil sahabatnya. Chika yang mendengar kini mengalihkan pandangannya ke ponsel.
"Lo sendiri?." tanya Zafran di angguki Chika.
"Cieee.. nanyain ayang sendirian apa engga." Maudi meledek Chika di sebrang yang kesal namun tersenyum tipis, gadis itu memang mempunyai kesabaran yang ekstra. Chika berdehem pelan lalu bertanya balik,
"Ada apa emangnya?." tanya Chika.
Ketujuh sahabat itu memegang dadanya merasakan getaran cinta antara keduanya. Mereka memasang tampang kasmaran, Raina tertawa saat melihatnya.
"Aku laparrr... hikss!!"
Spontan Zafran menengok kesamping dimana gadis yang di samping Chika sudah berada di kamarnya. Cowok itu memasang tampang datar, tidak ingi bertanya. "Kue yang di berikan olehmu, tidak bisa di makan." keluh gadis itu murung.
"Saat pergi, roti itu terjatuh dari tanganku. Kamu tahu alasannya?." tanya gadis itu nendekatkan wajahnya pada Zafran.
"Bang mak-"
Ucapan Kazea terpotong saat membuka pintu kamar Zafran. Gadis itu melambaikan tangannya di kamera dan berjalan mendekati kakaknya yang berdiri di samping jendela ruangan itu. "Bang." ucapnya menepuk bahu kanan kakaknya.
"AAAa...aaa!!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments