“Apa Evan bolehin aku datang ke rumah kalian?” tanya Agung dengan sengaja.
“Tentu saja boleh. Kak Agung boleh datang ke rumah kita kan Kak?” Sandra meminta persetujuan Evan.
“Boleh.” Evan menjawab dengan enggan. Ia tahu Sandra menyukai Agung. Tentu saja tidak boleh.
“Baiklah. Aku nanti datang ke rumah kalian,” ujar Agung.
Selesai menanam bibit, Agung mengajari cara memetik stroberi yang kebetulan sudah siap dipetik di sisi lain. “Caranya seperti ini.”
Sandra dan Evan menirunya. Sesekali Sandra memasukkan stroberi itu ke mulutnya. “Rasanya manis kak. Nggak masam seperti yang dijual di supermarket.”
“Iya. Manis seperti kamu,” ucap Agung.
Evan yang mendengarnya langsung memelototkan matanya ke Agung. Agung sempat melihatnya tapi ia langsung berkonsentrasi memetik stroberi. Agung memang sengaja memanas-manasi Evan.
“Aku boleh bawa banyak kak? Aku mau kasih ke mamanya kak Evan,” ijin Sandra.
“Boleh. Bawa sebanyak yang kamu mau bawa.”
“Terima kasih kak.” Sandra memetik satu buah stroberi dan menyuapi Evan. “Enak kan Kak?”
Evan menganggukkan kepalanya. Buah dan sayur organik harganya memang lebih mahal dari buah dan sayur biasa yang memakai bahan kimia untuk pestisida dan pupuk. Tetapi buah dan sayur organik lebih sehat bagi tubuh.
Sandra membawa dua keranjang berukuran sedang berisi buah stroberi. Ia akan memberikannya ke Anita melalui Evan.
Sandra dan Evan pulang kembali ke rumah. Sandra mulai mengemas stroberi. Ia tidak tahu apakah stroberi pemberiannya akan diterima atau malah dibuang. Evan belum memberikan kabar apakah sang mama sudah setuju atau masih belum menyetujui hubungan mereka.
Evan pulang. Sebenarnya ia ingin membawa pulang Sandra ke kota tapi sepertinya memang lebih baik bagi Sandra jika ia tinggal di kampung untuk sementara waktu.
Sandra hanya sendirian di rumahnya. Ia bersiap hendak membantu ayah dan ibunya di ladang. Ia membawa satu kresek stroberi untuk dimakan bersama orang tuanya.
“Ayah ... ibu ... “ Sandra memanggil kedua orang tuanya. “Sandra bawa stroberi dari kebunnya kak Agung.”
Ayah dan ibu Sandra beristirahat sejenak. Mereka memakan stroberi.
“Dulu ayah pinginnya Sandra nikah sama Agung supaya Sandra bisa tinggal dekat kita tapi Sandra malah dapat orang kota.” Ayah Sandra senang dengan Agung.
“Ayah tidak boleh berkata seperti itu. Evan itu jodohnya Sandra. Evan juga nggak kalah baik dan pintar dari Agung,” ujar ibu Sandra.
“Tapi Agung yang bikin kampung kita maju dan berkembang.”
“Setiap orang punya kelebihannya masing-masing, Yah. Nak Evan mempunyai perusahaan sendiri.”
“Kak Agung yang nggak suka sama Sandra,” Sandra mengaku.
“Dulu Sandra pernah bilang suka sama kak Agung tapi kak Agung nggak suka sama Sandra. Kak Agung bilang kalau Sandra itu seperti adik bagi kak Agung.” Sandra pernah mengungkap perasaannya ke Agung tapi ditolak. Agung adalah cinta pertama Sandra.
Ayah dan Ibu Sandra melihat Sandra. Mereka tahu dulu Sandra suka dengan Agung tapi perihal Agung menolak cinta Sandra, mereka baru tahu hari ini.
“Kamu memang nggak cocok buat Agung,” ayah Sandra sengaja berucap dengan nada bercanda.
“Ayah ...”
“Agung itu harus dapat wanita yang lebih dari kamu,” ucap sang ayah lagi.
“Ayah ...” Sandra merasa sedikit kesal. Tapi perkataan sang ayah ada benarnya juga.
Agung adalah pemuda dengan kasta tertinggi di kampung mereka. Kepintaran dan pengetahuan Agung membuat kampung mereka dijuluki kampung organik.
Awalnya penduduk kampung tidak menyetujui saran Agung untuk beralih ke organik. Tapi Agung pantang menyerah melakukan sosialisasi tentang manfaat baik tentang sayur dan buah organik. Warga yang awalnya menolak mulai menerima. Dimulai dari ladang ayah dan ibu Sandra lalu menular ke petani lainnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments