19 Aku Tidak Setuju

Ayah Sandra kembali ke ladang. Evan melanjutkan sarapan sekaligus makan siangnya. 

Tok ... Tok ... Tok ... Terdengar suara pintu diketuk. “Permisi ...” Terdengar suara seorang pria di depan pintu.

Sandra menuju ke depan rumah. “Kak Agung. Masuk Kak.”

“Aku ke sini mau kasih ini. Buatan ibu aku.” Agung menyerahkan satu kotak camilan bernama batang buruk.

*Batang buruk adalah camilan. Versi mudahnya terbuat dari kulit lumpia yang digulung dan digunting lalu digoreng. Setelah digoreng akan dilumuri susu bubuk (biasanya merk Dancow atau Milo untuk rasa coklat.

Agung tahu jika Sandra menyukai camilan itu. 

“Kakak jangan pulang dulu. Kakak duduk dulu sebentar.” Sandra menuju ke belakang rumah. Ia mengambil beberapa telur segar untuk diberikan ke Agung sebagai ucapan terima kasih. “Terima kasih banyak Kak untuk camilannya.”

“Sama-sama.” Agung berlalu pulang.

Di ruang makan.

Sandra membuka camilan yang baru saja diberikan Agung. Ia begitu menikmatinya. Ia juga menyuapi Evan. “Enak kan Kak. Ibu kak Agung sering bikin ini.”

“Kak Agung itu siapa?”

“Kak Agung itu tetanggaku. Kami sering bermain bersama waktu kecil.”

“Main apa?” Ada aroma cemburu di perkataan Evan.

“Kami biasanya main sembunyi-sembunyian, lempar kartu, panjat pohon. Kak Agung juga yang meyakinkan warga sini untuk menjadi petani organik. Ia yang mengajari petani di sini sekaligus cara pemasarannya. Ia sudah membantu banyak warga di sini, termasuk ayah dan ibu.”

“Kamu suka dia?” 

“Suka. Kak Agung itu orangnya baik, pintar. Waktu aku sekolah dulu kak Agung yang sering membantu aku mengerjakan PR,” puji Sandra lagi. Ia tidak tahu jika Evan terbakar cemburu.

“Aku mau pulang.” Evan berdiri dari tempat duduknya. Ia tak tahan mendengar pujian Sandra untuk Agung.

“Hati-hati Kak. Aku habis ini juga mau ke kebunnya Kak Agung. Ia akan mengajari aku cara menanam stroberi secara organik.”

“Aku nggak jadi pulang. Aku mau ikut belajar menanam stroberi juga.” Evan duduk kembali. Evan tak ingin Sandra berduaan dengan pria seperti Agung. Tapi Sandra masih belum paham jika Evan cemburu.

Sandra dan Evan mendatangi kebun yang dikelola Agung. Kebun itu bukan kebun terbuka tetapi kebun tertutup. Bangunannya seperti gudang besar. Hanya bagian depan yang terbuka.

“Kak Agung, aku ajak kak Evan nggak pa pa? Kak Evan juga mau belajar nanam Stroberi organik,” kata Sandra. 

“Nggak pa pa.” Agung melihat tatapan tajam dari mata Evan. Ia sadar Evan cemburu.

“Oh, iya. Tadi kalian belum kenalan kan?” Sandra belum memperkenalkan Agung ke Evan.

“Kak Agung ini Kak Evan, calon suami aku. Kak Evan ini kak Agung yang tadi datang ke rumah.”

Agung dan Evan bersalaman.

“Agung.”

“Evan.”

Agung mulai mengajari Sandra cara menanam stroberi. “Caranya seperti ini.”

Sandra mencontohnya. “Apa betul seperti ini Kak?” Sandra takut jika ia salah dan bibit yang ditanam mati.

“Itu sudah betul. Kamu memang pintar.” Agung sengaja mengusap ringan kepala Sandra. Membuat Evan semakin melihat dengan tajam Agung. Agung tersenyum dalam hatinya.

Sandra mulai menanam bibit yang tersisa. Belum ada komunikasi antara dirinya dan Evan. Saat ini Evan merasa seperti obat nyamuk. Sandra hanya fokus belajar dan berbicara dengan Agung.

Apa sebaiknya aku pulang? Tapi aku nggak boleh membiarkan Sandra berdua dengan Agung. Walau tidak dipedulikan Sandra, Evan tetap rajin bekerja.

“Setelah menikah kamu akan tinggal di kota?” tanya Agung.

“Iya, Kak. Aku akan tinggal bersama kak Evan di kota. Kakak mampir aja kalau lagi antaran. Sekalian bawain aku sayur, buah, batang buruk. Nanti aku kasih alamat rumah kak Evan.”

Aku tidak setuju! Evan berteriak dalam hati. Tidak boleh ada pria yang bertemu dengan Sandra. Terutama Agung.

 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!