“Pantes. Aku sudah curiga.” Kecurigaan Sandra terbukti.
“Ayolah San. Please. Nanti aku minta 2 Iphone. Satu buat aku. Satu buatmu,” rayu Retno dengan mata yang dibuat sesendu mungkin agar Sandra luluh.
Sandra terbujuk. “Baiklah. Tapi bagaimana jika hubungan kami tidak berlanjut? Kamu kehilangan Iphone?”
“Mungkin.” Retno lalu tersenyum. Ia menemukan cara supaya Iphone nya tidak melayang. “Tapi mungkin aku bisa dapat dua Iphone jika kamu dan kak Evan bisa pacaran setidaknya sebulan.”
“Kalau ia tidak tertarik denganku?”
“Aku akan meminta kak Evan untuk pura-pura pacaran selama sebulan. Supaya tante senang. Aku akan mengatur pertemuan kalian. Yang pasti bukan hari ini karena wajahmu terlihat sangat kusut. Aku pulang dulu ya.”
Sandra menyibukkan dirnya dengan membuat pakaian baru untuk Sally. Ia ingin pikirannya teralihkan. Ia memang sempat menangis untuk Wally. Walaupun singkat tapi saat Sandra bersamanya ada kenangan manis.
Membuat pakaian untuk Sally tidak butuh waktu lama. Memotong kain. Jahit lurus. Pasang renda, jahit kancing untuk pemanis. Jahit velcro. Sat set dalam waktu tidak lama sudah jadi satu gaun.
Sandra memakaikan gaun baru ke Sally. Ia menemukan satu helai rambut melilit kaki Sally. Rambut berwarna pirang seperti warna rambut Wally yang di-bleaching dan diisi warna pirang.
Ini mirip warna rambut Wally. Sandra menggelengkan kepalanya. Mungkin ini rambut Wally yang nggak sengaja masih ada di kasur.
Sandra menepis pikiran buruknya.
Sally melihat Sandra. Sally senang orang yang sakitin Mama sudah mati. Mama juga senang kan?
...***...
“Saya bukan pembunuh Wally. Yang membunuh Wally adalah boneka berwujud anak perempuan,” kata wanita yang bersama Wally saat terjadi pembunuhan.
“Kamu pikir kami ini anak kecil.” Polisi itu meremehkan wanita itu. “Boneka? Boneka itu hanya benda mati. Ia tidak mungkin bisa membunuh dengan luka seperti itu. Pasti kamu punya komplotan kan?”
“Tidak. saya melihatnya sendiri. Pisau itu melayang.”
“Ha ... Ha ... Ha ... jangan bercanda. Katakan saja jika kamu pelakunya.”
“Bukan saya Pak.” Wanita itu memang tidak bersalah. Ia juga masih trauma karena melihat jasad Wally.
Polisi tidak percaya begitu saja. Wanita itu dibawa ke psikiater. Tidak ada tanda-tanda jika wanita itu mengalami gangguan mental. Hanya saja keterangan yang ia berikan tampak tidak masuk akal.
Boneka? Sekalian aja bilang selembar kertas yang membunuhnya. Pisau bisa melayang dan menusuk? Sekalian aja bilang jika pesulap ada di sana.
Tetapi hasil darah wanita itu menunjukkan positif untuk pemakaian narkoba dan alkohol. Jadi, wanita itu mengalami halusinasi dan keterangannya tidak bisa dipercaya.
Wanita itu untuk sementara menjalani persidangan terkait penggunaan narkoba. Sedangkan untuk kematian Wally masih dalam penyelidikan sampai ditemukannya bukti baru.
...***...
Hari H kencan buta Sandra bersama Evan.
Retno mendatangi kos Sandra sambil membawa beberapa gaun kasual. Ia ingin Sandra terlihat manis di mata Evan.
“Aku sudah punya baju.” Sandra menunjuk pakaian yang sudah ia siapkan. Sweater hitam ditambah celana panjang hitam.
“Sepatunya juga warna hitam?” Retno bertanya.
“Iya," jawab Sandra. Retno tahu jika sahabatnya ini menyukai warna hitam untuk outfit. Karena itu ia datang untuk membantu Sandra.
“San, kamu itu mau ke kencan buta. Bukan ke pemakaman. Harus pakai warna cerah-cerah begini.” Retno mulai memilih outfit untuk Sandra. “Yang ini bikin kamu kelihatan manis deh.”
Walau berat hati, Sandra tetap menuruti kemauan Retno. Sandra memakai gaun casual pilihan Retno. Retno mulai mendandani Sandra. Ia memakaikan make-up ke wajah Sandra dan men-stylist rambut Sandra dengan model gelombang besar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments