18 Jaga Jarak

Sementara itu di tempat dukun itu berada. Ia berusaha melancarkan aksinya kembali. Tetapi tidak berhasil. Padahal tinggal satu langkah lagi nyawa Sandra akan melayang.

Ia melihat wadah berisi air di depannya. Tak ada gambaran lagi tentang Sandra. Air itu bergemuruh dan tumpah keluar dari wadahnya. 

“Mbah, apa yang terjadi?” Wanita yang menyukai Evan itu melihat semuanya. Ia mencintai Evan dan menginginkan Evan menjadi suaminya. Ia pernah berusaha memelet Evan beberapa kali. Dengan salah satu cara memberi sesuatu ke minuman Evan tetapi tidak berhasil. 

Saat mendengar jika Evan bertunangan dengan Sandra, ia marah. Ia merasa harus mencelakai Sandra dan hal itu sempat berhasil tetapi melihat Evan terus bersama Sandra, ia merubah niatnya menjadi melenyapkan Sandra supaya ia bisa mendapatkan Evan.

“Kamu sebaiknya pulang. Kita tidak bisa berbuat apa-apa saat ini,” ucap dukun itu.

“Tapi Mbah ...” Wanita itu gagal mendapatkan apa yang ia mau. Wanita itu pergi dari tempat dukun itu.

Wanita itu mencari dukun lain yang bisa mengerjai Sandra.

Sementara itu di kampung.

Ibu Sandra melihat Sally yang pernah diceritakan oleh Evan. Tetapi Sally terlihat seperti boneka imut pada umumnya. Tidak ada yang aneh dari Sally.

Perut Evan tiba-tiba berbunyi. Ia belum sempat sarapan karena buru-buru ke kampung. 

“Nak Evan makan dulu sebelum pulang. San, ajak Nak Evan makan,” pinta ibu Sandra. Ibu dan ayah Sandra kembali lagi ke ladang untuk mengurus tanaman mereka.

“Iya, Bu.” Sandra mengajak Evan makan. Ia mengisi piring dengan nasi putih untuk Evan. 

“Kak, lauknya cuma ada sayur-sayuran. Atau Kakak mau aku masakin daging?” tanya Sandra. Sayur tersebut diambil dari ladang yang digarap kedua orang tuanya. Ada juga yang hasil berter dari sesama petani di kampung.

“Ada daging apa?”

“Ada daging ayam. Kakak mau? Kalau kakak mau, aku ambil ayam di belakang.” Sandra bersiap berdiri dari kursi.

“Ayamnya masih hidup?”

“Iya.”

Bisa kelamaan kalau prosesnya dari ayam hidup. “Ini aja nggak pa pa.” 

“Kakak tunggu sebentar sambil makan pelan-pelan. Aku mau bikinin kakak telur mata sapi.” Sandra mengambil telur segar dari kandang ayam. Ia membuat telur mata sapi dengan kuning yang masih setengah matang kesukaan Evan.

“Semuanya ini organik Kak. Sayurnya, telurnya. Jadi lebih sehat dimakan.” Sandra menaruh telur mata sapi buatannya ke piring Evan. Ia memperhatikan Evan makan. Pipi Evan terlihat gembul karena Evan menjejalkan banyak makanan.

Evan tiba-tiba tersedak. Sandra mengambilkan air putih. 

“Makannya pelan-pelan, Kak.” Sandra menepuk pelan punggung Evan. Jarak mereka begitu dekat. 

“Cup.” Satu ciuman dari Evan di pipi Sandra.

“Aku kangen kamu.”

“Aku juga Kak.”

“Cup.” Satu ciuman lagi mendarat di bibir Sandra. Ciuman itu berlangsung agak lama sampai gangguan datang.

“Ehm.” Suara deheman dari ayah Sandra terdengar. Evan langsung melanjutkan sarapannya. Ia tidak berani menatap ayah Sandra. Sandra juga pura-pura sibuk mencuci piring kotor. Ayah Sandra duduk di samping Evan. Evan jadi salah tingkah.

“Ayah tahu kalian berdua masih muda. Tetapi jaga naf su kalian. Dari ciuman di bibir bisa mengarah ke hal yang kalian tahu sendiri. Kalian sudah dewasa. Pasti tahu yang ayah maksud. Ayah percaya sama Nak Evan. Tapi ayah tidak percaya dengan Sandra. Nak Evan harus hati-hati dengan Sandra.”

Ayah ... Batin Sandra. Kenapa bicaranya seperti itu?

“Baik, Ayah,” jawab Evan.

“Ayah mau ke ladang lagi. Jaga jarak di antara kalian. Jangan jadi papa mama sebelum kalian menikah.”

“Iya, Ayah.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!