Ponsel Evan berbunyi. Panggilan masuk dari Sandra. Evan merasa senang dan menerima panggilan itu. ia sangat merindukan Sandra.
“KAKAK BAJING AN! KAKAK BAWA KE MANA SALLY?” Sandra memaki Evan. Saat ini Sandra baru saja sampai di kamar kosnya dan kamar itu terbuka. Sally tidak ada di kamar kosnya.
“Apa maksudmu?”
“Bukankah kakak yang mengambil Sally? Pintu kamar kosku dibuka paksa dan Sally tidak ada di tempatnya."
“Pelakunya bukan aku.” Pasti Kevin pelakunya.
Sementara itu di tempat Kevin berada. Ada Sally di dalam mobil yang ia kemudikan. Ia membobol kamar kos Sandra dan mengambil Sally. Akhirnya kamu ada di tanganku.
Sebenarnya Kevin mengambil Sally untuk kepentingan pribadinya. Awalnya ia memang ingin membinasakan Sally. Tapi ia merubah rencananya. Ia ingin memanfaatkan Sally untuk kepentingannya sendiri.
Sally akan sangat berguna untukku.
Uniknya Sally hanya diam. Ia tidak berbuat apa-apa. Ia hanya memperhatikan Kevin. Padahal Sally bisa saja mencelakai Kevin.
Mereka sampai di tempat Kevin. Kevin memperlihatkan foto saingan bisnisnya. Ia meminta Sally mencelakai saingan bisnisnya. “Buat dia mati. Sally, kamu mau apa? Akan aku kasih.”
Sally hanya diam. Ia bersikap seolah-olah ia hanya boneka biasa. Ia cuek dengan permintaan Kevin.
“Kamu mau tumbal? Akan aku kasih. Berapa banyak yang kamu mau? Aku bisa kasih nyawa pekerjaku.” Kevin ingin mengungguli saingan bisnisnya.
Sekali lagi Sally hanya diam.
Kevin mulai emosi. “Kamu mendengarkan aku?”
Kevin mengguncang-guncangkan tubuh Sally. Ia mulai marah. Ia bahkan mengambil gunting dan hendak menggunting rambut Sally.
Kres. Kevin menggunting pita rambut yang dijahit Sandra untuk Sally.
Sally marah. Matanya berubah jadi merah. Sebuah kursi sofa terbang dan menghantam kepala Kevin. Kevin pingsan. Sally dengan segera berpindah ke kamar kos Sandra.
Kembali lagi ke panggilan telepon.
“Kamu bilang Sally hilang?” Evan bertanya. Ia sepertinya melihat Sally saat Sandra mem-video kamar kosnya. “Sally ada di atas meja lantaimu.”
Sandra melihat dan betul Sally ada di atas meja lantai miliknya yang sering ia pergunakan untuk belajar atau makan.
Sandra jadi salting. “Maafkan aku sudah marah-marah ke Kakak.” Sandra langsung memutuskan panggilan teleponnya karena malu.
Sandra melihat ada yang berbeda dari Sally. Hanya ada satu pita di rambut Sally. Padahal ia membuat dua cepol di rambut Sally.
Ke mana pita satunya lagi? Sandra mencoba mencari di dalam kamar kosnya. Ia tidak menemukannya.
Sudahlah. Aku kan bisa bikin lagi. Sandra mulai menjahit pita lagi untuk Sally.
Sementara itu ketika Kevin tersadar. Ia melaporkan ke polisi tentang kejadian di rumahnya. Ia hanya ditertawakan oleh polisi.
“Pak, apa yang saya bilang itu benar. Boneka itu membuat sofa melayang dan membuat saya pingsan.”
“Jangan mengada-ngada.” Bule gila. Apa di tempat asalmu nggak ada rumah sakit jiwa? Boneka apa bisa melakukan apa yang kamu bilang.
“Pak, percaya sama saya.”
“Saya percaya. Sekarang Anda silahkan pulang.” Polisi itu bahkan tidak melanjutkan kasus Kevin. Polisi itu menganggap Kevin sakit jiwa.
Kevin pulang.
Sedangkan Evan mendatangi kos Sandra. Ia mengetuk pintu kamar Sandra. “San, ini aku.”
Sandra tidak membukakan pintu. Ia masih kesal dengan Evan.
“Ijinkan aku menjelaskan apa yang terjadi kemarin. Apa aku boleh masuk?”
Kak Evan itu orang baik. Tidak mungkin ia berbuat seenaknya. Kepala Sandra sudah dingin. Ia membukakan pintu untuk Evan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments