4 Dibunuh Secara Sadis

Sandra terbangun dengan kepala yang berat. Ia melihat dirinya di cermin dan melihat matanya yang bengkak karena semalaman menangis. Ia memutuskan untuk bolos kuliah.

Selesai kuliah Retno datang ke kamar kos Sandra. Ia tampak cemas. “San, kamu sudah tahu apa yang menimpa Wally?”

“Aku tidak perlu tahu dan tidak mau tahu.” Sandra menjawab dengan ketus. Ia sudah malas mendengar nama pria yang menduakan. Tidak. mentigakan dirinya.

“Kami sudah putus.”

“Baguslah jika kamu sudah putus dengan Wally. Aku sudah bilang jika ia bukan pria baik-baik. Tapi matamu kok bengkak gitu? Habis nangis?”

“Kemarin kami putus. Wally punya dua kekasih selain aku.”

“Wally pacaran sama tiga cewek? Dasar buaya darat! Tapi kamu harus tahu kalau Wally sudah mati. Dan meninggalnya tidak wajar. Katanya ia dibunuh oleh cewek yang bersama dengannya. Wally ditusuk-tusuk sampai jantung dan ususnya keluar dari tubuhnya. Uwek.” Retno merasa mual membayangkan kondisi Wally. Jasad Wally memang di-blur tapi Retno bisa membayangkannya.

“Jantung dan ususnya keluar?” Sandra teringat perkataannya kemarin. Ia ingin Wally mati dengan cara ditusuk dengan jantung dan usus keluar.

“Betul. Itu karmanya sudah mentigakan dirimu.” Retno sedari dulu tidak setuju dengan hubungan Sandra dan Wally. Tapi apa daya. Sandra sudah bucin dengan Wally dan merelakan segalanya. Apa yang Wally minta selalu Sandra turuti.

“Kamu sudah makan?” tanya Retno.

“Belum.” Sandra belum sempat makan sejak keluar dari kafe kemarin. Pertemuan terakhirnya dengan Wally.

Retno memesan makanan melalui aplikasi online. Tak lama kemudian makanan datang.

“Ayo makan,” ajak Retno sambil membuka kemasan makanan.

Sandra hanya melihat makanan itu. ia tidak nafsu makan.

Retno mengambilkan makanan dan menyuapi Sandra. Sandra awalnya menolak tapi ia lalu memakannya.

“Aku tidak mau temanku ini jatuh sakit.” 

“Aku bisa makan sendiri.” Sandra mulai makan.

Retno hanya tersenyum. Ia tahu Sandra sangat mencintai Wally. Dan putusnya Sandra akan mengguncang Sandra.

“Kenapa kamu nggak pacaran aja sama kak Evan.” Retno menyarankan.

“Evan?”

“Sepupu aku. Ia baru aja pulang dari Amerika.” Retno menunjukkan wajah Evan yang terbilang tampan. “Ia tinggi, baik, pintar, kaya lagi. Wally mah nggak ada apa-apanya sama Evan.” Retno memuji Evan setinggi langit supaya Sandra mau.

“Emang ada cowok se-perfect itu?”

“Kak Evan itu pria langka. Pacaran aja belum pernah. Tanteku, mamanya kak Evan minta aku kenalin kak Evan sama cewek Indo. Kalau aja kami bukan sepupu, sudah aku embat kak Evan jadi pacar aku.”

“Jangan-jangan kak Evanmu itu ...” Sandra jadi curiga. Cowok sesempurna Evan jika tidak tertartik dengan wanita bukankah itu artinya dia ...

“Kak Evan normal kok.”

Tiba-tiba Retno berubah pikiran. “Apa mungkin kak Evan?”

Retno jadi ragu. “Aku mau langsung tanya kak Evan aja.” Retno mengirim pesan. Kak, apa bener kamu g ay?

Hanya ada centang dua yang artinya pesan sudah terkirim tetapi belum terbaca Evan.

Centang dua itu berubah jadi centang biru. Evan menjawab : Aku normal.

Retno mengelus dadanya. Syukurlah. Jika kak Evan itu g ay, bisa-bisa tante langsung pingsan di tempat.

“Jadi, mau ya aku kenalin ke kak Evan?” Retno mulai memelas.

“Mamanya kak Evan janjiin apa ke kamu?” Sandra mulai curiga. Sepertinya ada udang di balik batu melihat sikap Retno yang menjadi pemaksa.

Retno menjawab jujur, “Tante mau kasih aku Iphone terbaru.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!