16 Sally Menangis

Di ruang tamu. Di Sofa.

“Kak ...” Sandra menyapa Evan. Dalam hatinya ada tangisan yang luar biasa sakit. Ia harus melepas orang yang ia cintai karena terhalang restu.

“Ayo kita pulang sama-sama,” ajak Evan. Ia menyentuh tangan Sandra tetapi segera Sandra melepas genggaman itu.  Evan menatap Sandra.

“Kak, aku tidak bisa bersama Kakak lagi.” 

“Apa karena mama?”

Sandra diam. 

“Jadi betul karena mama. Jangan pedulikan perkataan mama.” Evan serius dengan Sandra.

“Aku peduli, Kak. Aku tak bisa melihat hubungan mama dan anak menjadi rusak karena aku. Lebih baik aku yang mengalah.” Hati Sandra terasa perih.

“Kamu tidak memikirkan aku?”

“Apapun yang kakak katakan, aku tetap pada keputusanku. Sekarang kita berjalan di jalan kita masing-masing.” Sandra berdiri meninggalkan Evan.

Evan tetap bersikukuh. Ia memeluk Sandra dari belakang. Air mata Sandra jatuh mengenai lengan bawah Evan.

“Kak, lepaskan aku.”

“Tidak. Aku tidak akan melepas dirimu.” Evan tetap memeluk Sandra. “Aku tahu kamu masih mencintai diriku. Beri aku waktu. Aku akan bujuk mama. Mungkin akan butuh waktu lama, kamu mau menunggu?”

“Kak, lepaskan aku,” pinta Sandra.

“Aku tidak mau melepasmu.” 

“Aku mau ambil tisu. Aku mau mengelap ingusku.” Sedari tadi Sandra menghisap ingusnya yang hampir menetes.

Evan akhirnya mau melepas pelukannya.

Sandra membersihkan hidungnya.

“Jadi kamu mau menunggu aku membujuk mama?”

Sandra menganggukkan kepalanya. Ia percaya dengan Evan. Evan jadi punya harapan lagi.

“Aku pulang sekarang. Aku akan bujuk mama.” Evan pamit dengan kedua orang tua Sandra. Ia lalu kembali ke kota dengan misi mendapat restu dari mamanya.

Evan menemui Anita. Ia berusaha membujuk Anita. “Ma, restui hubungan kami.”

“Sampai mama mati, mama tidak akan pernah merestui hubungan kalian.” Anita tetap bersikeras. Evan meminta bantuan sang papa. Papa Evan berjanji akan membantu untuk membujuk Anita.

Saat pillow talk Charles, papa Evan mengucapkan sesuatu ke Anita. “Ma, restui Evan dan Sandra.”

“Papa mau punya mantu gadis kampung itu? Papa tahu apa yang terjadi sama dia? Dia itu kerasukan. Dia itu diguna-guna.”

“Dulu mama yang maksa-maksa buat ngelamar Sandra buat Evan. Tetapi sekarang mama malah menentang mereka.”

“Mama berubah pikiran, Pa."

“Mama masih ingat kan janji kita saat menikah dulu? Kita akan membiarkan anak-anak kita memilih pasangan mereka. Tugas kita mendukung dan merestui hubungan mereka.”

Papa dan mama Evan menikah karena perjodohan di saat masing-masing dari mereka sudah punya kekasih. Mereka berdua tahu beratnya harus berpisah dengan orang yang dicintai karena paksaan orang tua.

“Mama tahu itu, Pa.”

“Terus kenapa mama menentang mereka? Baru kali ini papa lihat Evan menyukai perempuan. Selama ini kita sempat berpikir jika Evan itu tidak menyukai perempuan. Mama bahkan sudah frustasi karena takut tidak punya cucu dari Evan. Sandra memang sakit sekarang tetapi justru saat inilah ia paling membutuhkan Evan. Evan bisa saja meninggalkan Sandra jika ia tidak mau direpoti. Papa bangga punya anak seperti Evan yang mau bertanggung jawab terhadap Sandra.”

Anita sedang berpikir dan berpikir. Omongan dari Charles ada benarnya juga. “Beri mama waktu. Mama akan pikirkan lagi.”

Pagi hari di rumah Evan.

Evan bangun. Ia melihat air mata yang mengalir deras di pipi Sally. Evan bisa melihat ada kecemasan yang luar biasa di wajah Sally.

“SALLY! APA TERJADI SESUATU SAMA MAMA?”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!