2 Gelang Couple

Pagi harinya.

Sandra terbangun dan melihat Sally berada dalam pelukannya. Ia menaruh Sally di tempatnya semula. Ia melihat jam. Jam delapan.

Sandra buru-buru mengganti pakaiannya. Ia tak sempat mandi karena takut terlambat. Dosen mata kuliah pagi ini lebih killer dari dosen kemarin. Mahasiswa yang datang terlambat dari dosen itu tidak akan diperbolehkan mengikuti mata kuliahnya.

Sandra mengambil tas ransel hitam miliknya dan mulai berlari. 

Ngos ... Ngos ...

Sandra mengatur nafasnya. Peluh bercucuran dari keningnya. Berlari dari tempat kosnya menuju kampus menyita staminanya.

Sandra tiba di depan gedung tempat ia akan menerima mata kuliah. Sandra juga melihat dosen killer dari ruang dosen itu akan menuju ke kelas. Sandra berlari secepat kilat menuju lantai tiga. 

Fiuh ... Aku selamat. 

“Sandra, sini.” Retno, teman Sandra memanggil. Ia sudah menyiapkan satu kursi kosong untuk Sandra.

“Terima kasih.” Sandra duduk di sebelah temannya itu.

“Aku pikir kamu bakal terlambat.”

“Hampir. Aku tadi lihat bu Wati keluar dari ruang dosen.”

Tak lama kemudian bu Wati masuk ke dalam kelas dan mulai mengajar. Tampak ada mahasiswa yang terlambat tetapi tidak berani masuk kelas karena memang seperti itu perjanjian di awal mata kuliah. Bu Wati sudah memberitahu mahasiswanya jika tidak boleh terlambat dan harus masuk kelas sebelum dirinya.

Tapi mahasiswa itu tetap berada di dekat kelas. Tidak bisa masuk kelas bukan berarti tidak bisa mendengarkan mata kuliah yang disampaikan bu Wati. Mahasiswa itu duduk di lantai di luar kelas dan mendengarkan perkuliahan dari bu Wati.

Jam mata kuliah bu Wati sudah selesai. Sandra mulai membereskan buku-bukunya. Ia akan menuju ke lantai dua untuk mata kuliah berikutnya. Sedangkan Retno, teman Sandra akan menuju gedung lain di sebrang. 

“Nanti siang kita ketemu di kantin Bu Welas," kata Retno.

“Ok.”

Sandra dan Retno berpisah. 

Di kantin Bu Welas.

Sandra dan Retno memesan makanan mereka.

“Nasi rames dua.” Sandra dan Retno lalu mengambil tempat di tengah.

“Kemarin aku beli boneka.” Sandra mengeluarkan ponsel miliknya dan memamerkan Sally. “Kamu tahu harganya berapa?”

“Lima ratus ribu,” tebak Retno. Ia melihat boneka yang terbilang bagus.

“Salah.”

“Tiga ratus ribu.”

“Salah juga. Harganya cuma empat puluh ribu.”

“Dasar tukang tawar.” 

Mereka tertawa bersamaan.

Selesai makan, Retno menemani Sandra membeli beberapa lembar kain dengan motif manis khas anak-anak. Sandra ingin membuat pakaian lagi untuk Sally.

Sally membeli setengah meter untuk setiap motif yang ia beli. Ada motif cherry, motif stroberi dan juga motif bintang. Sandra juga membeli renda ukuran kecil dan kancing warna untuk pemanis.

“Aku iri sama Sally. Aku mau ketemu dia.”

“Boleh. Sally ada di kos kok.”

Di kamar kos.

Retno melihat Sally. Ia menggendong Sally, mencubit Sally. Tiba-tiba Retno melempar Sally. Ia tadi seperti melihat kemarahan di wajah Sally.

“Ret, jangan rusak Sally ya.” Sandra sibuk lagi dengan mesin jahitnya. Ia sedang membuatkan gaun cantik buat Sally. 

Retno merasa ngeri. Ia meletakkan Sally ke tempatnya semula. Bulu kuduknya merinding. Ia lalu pamit pulang. “Aku pulang dulu.”

“Iya, hati-hati di jalan.”

Sandra selesai menjahit gaun motif cherry dan mengenakannya ke Sally. Sekali lagi Sally terlihat tersenyum. Sandra terkejut dan tidak mempercayainya. Pasti cuma halusinasi.

Sandra mulai membuat gelang kecil dari mutiara putih untuk Sally dan dirinya. Ia lalu mengenakannya ke tangan mungil Sally dan ke tangannya sendiri.

“Sally, kita couple-an gelang.” Sandra mendekatkan tangan kirinya ke tangan kanan Sally.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!