Evan menjelaskan lagi seperti apa yang ia jelaskan ke mamanya tadi. Ibu Sandra menangis.
“Ibu akan bawa Sandra pulang ke rumah.” Ibu Sandra merasa jika pulang ke rumah maka Sandra akan membaik.
“Ibu ...” Evan merasa jika Sandra pulang maka ia tidak akan bisa bertemu Sandra lagi. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.
Evan harus ke kantornya. Ia meminta ijin ke ibu Sandra. “Evan ijin ke kantor dulu, Bu.”
Evan menatap lekat-lekat wajah Sandra. Entah kenapa ia merasa ia akan kehilangan Sandra. Ia mencium kening Sandra.
Jangan pergi. Tunggu aku pulang. Ada air mata yang hampir jatuh di kelopak matanya.
Evan pergi ke kantornya.
Ibu Sandra keluar dari kamar hendak membeli sesuatu di mini market.
Di kamar rawat inap Sandra mulai siuman. Anita datang dengan ekspresi tidak bersahabat. Sambil berkacak pinggang Anita berkata, “Tinggalkan Evan.”
Sandra hanya diam. Ia tidak mau meninggalkan Evan. Tetapi jika mama Evan tidak merestui hubungan mereka maka tidak ada gunanya melawannya. Sandra tidak mau membuat hubungan Evan dan mamanya menjadi retak hanya karena dirinya.
Anita keluar dari kamar. Ia melihat ibu Sandra yang berdiri di depan pintu. Ibu Sandra mendengar perkataan mama Evan. Ia masuk ke dalam kamar. Sandra mulai menangis. Ibunya memeluknya.
Saat air mata kesedihan itu sudah tumpah, Sandra mengatakan jika ia akan pulang. “Ibu, kita pulang sekarang.”
“Barang-barangmu?” tanya ibu Sandra. Barang-barang Sandra ada di rumah Evan.
“Sandra tinggal aja.” Sandra berpikir jika ia mengemas barangnya maka Evan akan mengetahui jika ia pergi.
Ibu Sandra segera menyelesaikan administrasi rumah sakit. Mereka segera pulang ke kampung.
Sementara itu sore hari di kota.
Evan baru saja selesai dari pekerjaannya. Ia mampir di toko bunga dan membeli sebuket bunga mawar berwarna pink juga snack Pocky dengan berbagai rasa. Sandra pasti suka. Hati Evan berbunga-bunga.
Ia menuju ke rumah sakit. Tapi ia terkejut melihat kamar yang kosong.
Sandra? Apa dia ...? Evan merasa lemas. Evan sudah berpikir jika Sandra telah tiada. Tapi itu tidak mungkin karena ibu Sandra pasti mengabari dirinya.
Ia menanyakan perihal Sandra ke suster yang berjaga. “Sus, saya mau bertanya tentang pasien yang bernama Sandra. Sampai tadi siang ia ada di kamar 301.”
Suster itu menjawab, “Nona Sandra sudah pulang.”
“Kalau boleh tahu jam berapa ia pulang.?”
“Jam 2 siang.”
Evan langsung menuju ke rumahnya. Ia berharap bisa bertemu Sandra. Sandra kok nggak kabari aku kalau ia pulang? Apa ini kejutan dari Sandra?
Tetapi di rumahnya keberadaan Sandra juga tidak ada. Ia masih berpikiran positif saat melihat barang-barang Sandra juga masih ada di rumahnya. Ia menelpon Sandra. Tetapi ponsel Sandra masih berada di rumahnya. Sandra ke mana?
Ia bertanya ke bodyguard yang berjaga. Mereka menjawab, “Nona Sandra belum kembali.”
Evan semakin cemas. Ia menelpon ibu Sandra. Panggilannya tidak diangkat. Mereka ke mana?
Ibu Sandra mengirimi Evan sebuah pesan. Nak Evan, jangan cari Sandra lagi.
Enam kata yang membuat Evan menangis meraung. Ia begitu mencintai Sandra. Ia tak bisa hidup tanpa Sandra.
Tetapi Evan pantang menyerah. Ia langsung pergi menyusul Sandra. Ia pergi ke kampung Sandra. Awalnya Sandra tidak mau bertemu Evan tetapi Sandra tahu Evan tidak akan pergi jika ia tidak menemui Evan.
Evan melihat Sandra yang masih terlihat lemas dan pucat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments