“Perkenalkan saya Isabella Sophia Boreel. Apakah saya bisa tinggal sementara di rumah Anda?” tanya Isabella sebenarnya walaupun tidak diizinkan ia akan menginap dirumah orang lain yang berada ditempat ini.
Buah-buahan yang berada di tangan wanita itu langsung diberikan kepada Van Della.
“Astaga, kaum elite berada dirumah saya. Demi apa ini,” ujar wanita itu. Seumur hidupnya tidak pernah ada kaum elite yang mau menapakkan kaki di rumahnya. “Anda boleh tinggal dirumah ini dan sepertinya saya mengenal Anda. Bukankah Anda istri dari Willem Hendrik Baron Imhoff pemimpin Frieslandia timur?” tanyanya.
“Benar, dan tujuan saya kesini ingin berkunjung ke tempat ini karena di tempat ini tidak ada penginapan saya izin tinggal di sini,” jawab Isabella. “Saya sangat berterima kasih atas kebaikan Anda,” ujarnya
“Tolong jamu Nyonya Isabella dengan buah-buahan kita Nak,’ pinta wanita yang berstatus sebagai ibu Van Della.
Van Della mengangguk menanggapi ibunya. Ia melebarkan kain besar untuk alas duduk mereka. Mencuci buah-buahan dengan menyiapkan diatas kayu datar yang sudah dibersihkan. Tidak lupa juga disediakan jus dengan memarut jambu air merah lalu ampas dan airnya dipisahkan. Disediakan di gelas yang terbuat dari bambu yang sudah dibersihkan. Gelas yang sehari-hari mereka gunakan.
“Silakan, mari kita nikmati,” ujar Van Della. Ia menatap lekat wanita yang disampingnya itu. Ia bertanya untuk apa datang ke rumahnya, apa ada hal yang serius.
Setelah semua makanan disantap. Van Della mengantarkan Isabella ke sebuah kamar kecil yang muat satu orang saja.
“Maafkan kami. Kami hanya dapat memberikan seperti ini. Kami tidak punya selimut yang terbuat dari wol dan sejenisnya. Hanya kain yang ibu rajut dengan kain-kain yang berbeda hingga satu.
“Tidak apa-apa. Saya diterima di rumah ini sudah sangat bersyukur,” timpal Isabella.
Van Della meninggalkan wanita itu setelah pintu kamar ditutupnya. Ia kembali ke kamarnya untuk istirahat. Ia terkejut masih mendapati burung merpati itu dikamarnya.
“Pergilah,” usirnya. Ia membawa kayu panjang untuk mengusir burung itu. Burung itu berpindah tempat untuk menghindari Van Della. Van Della datang dengan segelas air disiramnya burung itu lalu dibukanya jendela kamarnya sebagai jalan keluar burung merpati. Usaha yang kedua tak berhasil juga. Dan ia memutuskan untuk tidur.
Pukul 12.00 burung merpati bersuara. Mengganggu tidur Van Della. Van Della menutup kedua telinganya akan tetapi, suara burung itu mampu menembus gendang telinganya. Ia ambil kapas dengan menutup kedua telinganya lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dari kaki hingga kepala. Hal ini mampu mengurangi kerasnya sumber suara.
Sepertinya burung merpati ini tidak kehabisan ide untuk membuat Van Della terjaga. Ia berdiri di atas kepala Van Della dan berjalan di sekitar tubuhnya.
Van Della terbangun lalu mengusir burung itu. “Aku tidak bisa tidur. Mohon pergilah.” Van Della telah bersujud dua kali lalu menakutkan keduanya tangannya dengan genggaman layaknya memohon untuk dipinjami uang kepada manusia.
Burung itu tetap tidak mau pergi. Dirasa bahwa ia tak akan bisa tidur. Ia memutuskan untuk menggambar lalu di setiap goresan pensilnya yang digunakan dengan arang ia berpikir untuk membalas surat dari Gustaaff. Ia menuliskan rasa terima kasihnya karena masih mengingat dirinya. Sebisa mungkin ia tidak membuat kesalah penulisan karena bila terjadi kertasnya akan kotor.
Setelah selesai ia memberikan kepada burung itu. “Kamu yang membawa suratnya kepada ku dan kamu juga yang akan mengantar balasan untuknya,” pintanya. Burung itu segera terbang lepas dengan surat di paruhnya.
Van Della menatap merpati dari jendela kamarnya. Ia berharap bahwa Gustaaff senang menerima suratnya.
...***...
Merpati meninggalkan surat Van Della di meja kamar Gustaaff lalu kembali ke sangkarnya. Gustaaff mendengar kedatangan merpati lalu dengan cepat membaca surat itu. Dengan telaten ia membaca setiap kata yang tertulis ia membayangkan wajah Van Della yang dulu saat ia membaca. Kerinduannya sedikit terbayarkan oleh balasan surat ini. Ia senang Van Della masih mengingatnya dan mau membalas suratnya.
Ia menyimpan surat itu di sebuah kotak kecil yang dihiasi oleh kain beludru putih.
Seseorang pergi ke sebuah tempat dimana ruangan kecil dengan secercah cahaya dari sebuah lilin. Menggambar urutan dari perkembangan suatu cara untuk membuat perubahan yang besar bagi Batavia. Agar semua orang sejahtera. Semua orang dari kalangan apapun dapat menikmati hasil tangannya yang akan ia bangun.
Willem kebingungan mencari keberadaan istrinya yang kabur darinya. Mencari hingga ke tempat semulanya namun tak kunjung dapat. Ia menyebarkan sebuah petisi bahwa siapapun yang melihat istrinya akan diberikan harta berupa emas dengan berat lima puluh kilogram. Lantas orang-orang berusaha mencari sampai-sampai bertindak curang dengan mengikuti cara oleh orang lain.
“Beraninya perempuan seperti dirinya membuat saya mengeluarkan sebagian harta untuk mencari keberadaannya benar-benar tidak tahu malu,” guman Willem.
Ia kembali ke Batavia dengan tangan kosong. Semua penjagan menunduk untuknya. Suara langkah kakinya begitu terdengar sangat berirama. Kepalan tangan digunakan untuk menonjok dinding kamarnya tanpa peduli akan rasa sakit yang akan didapatkan.
“Dasar perempuan selalu membuat masalah,” teriaknya. Wajahnya yang datar dan tenang berubah menjadi merah. Bola matanya hampir keluar serta hidungnya kembang kempis.
...***...
“Nak, ayo pergi sebelum matahari terbit,” suara teriakan wanita paruh baya menggema di rumah kayu itu.
“Iya Bu,” sahut Van Della dari kamarnya. Ia bersiap-siap untuk berjualan.
“Saya boleh ikut?” tanya Isabella tiba-tiba.
“Tapi Bu. Pakaian Ibu akan membuat pembeli tidak jadi membeli jualan kami. Mereka pasti berpikir kami pura-pura miskin melihat kehadiran Ibu dengan pakaian mahal,” jawab Van Della.
“Apakah kalian mempunyai pakaian untuk saya?”
“Apakah Ibu mau menggunakan pakaian kami?” bukannya menjawab Van Della malah bertanya sebab pakaian yang ia dan ibunya kenakan sangat berbeda jauh dengan yang wanita itu gunakan.
“Saya mau,” ujar Isabella. Ia tidak peduli bagaimana penampilannya yang penting ia dapat mengetahui lebih dalam tentang Van Della.
Van Della dan Isabella berada di depan pintu kamar ibunya.
Tok, tok, tok
“Ibu, apa Ibu punya pakaian untuk Bu Isabella?”
“Sebentar Ibu ambilkan,” jawab wanita itu.
Wanita itu datang dengan dress panjang di tangannya. “Apakah Anda mau menggunakan ini?” tanya sedikit ragu.
“Dengan senang hati saya gunakan,” jawab Isabella.
Mereka pergi ke jalan lalu menjual semua buah-buahan mereka. Orang-orang kaya mulai membeli dengan keinginan mereka. Ada yang membeli dengan menawar dan ada yang tidak menawar. Ada yang datang hanya untuk melihat-lihat saja tanpa membeli. Pembeli disini amat banyak dan didominasi oleh orang-orang kaya dengan kalung emas yang melilit leher mereka. Mobil yang mereka gunakan bukanlah seharga seratus juta kebawah melainkan seratus juta keatas. Sepatu mahal yang mereka gunakan tidak membuat mereka takut jika berdebu justru mereka senang karena uang mereka dapat mereka berikan kepada pencuci kain.
Suara-sura penjual dengan berbagai oktaf suara membuat suasana semakin membara untuk menjualkan semua dagangan. Dimulai dari buah-buahan, kerajinan tangan, makanan olahan, buku, dan layanan jasa mengangkat barang bertaburan di tempat ini. Terkadang orang-orang miskin disini sampai berebutan tempat untuk berjualan, saling buruk sangka karena jualan tidak lagu.
“Sudah berapa lama jualan seperti ini, Nak?” tanya Isabella.
“Sudah lama Bu. Dari kecil lupa sudah berapa tahun,” jawab Van Della
Isabella dapat merasakan sesuatu yang tersirat melalui mata Van Della. Ada harapan untuk tidak seperti ini di masa yang mendatang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments