“Apakah Van Della melihat foto yang sengaja saya tinggalkan itu, ya?” guman Isabella, ia sedang berada di kamarnya.
Beberapa hari yang lalu
“Akan kutinggalkan foto Gustaaff di tempat ini,” kata Isabella, ia dengan bergegas mengeluarkan sebuah foto. “Saya harap kisah cinta mereka dimulai,” lanjutnya.
“Isabella,” panggil seseorang. Orang itu ingin dirinya dan Isabella menjadi lebih dekat.
“Siapa?” sahut Isabella dari dalam kamarnya.
“Ini saya Madeleine, sa–,”
“Untuk apa kemari, pergilah!” seru Isabella dengan nada tinggi.
“Jangan negatif thinking dulu, saya hanya ingin mempunyai hubungan baik denganmu, saya juga ingin berbicara denganmu,” ujar Madeleine.
Isabella akhirnya mengalah daripada mereka ribut.
“Ini sudah pagi, apakah kamu mau menemani saya memasak?”
“Kamu kira saya siapa?”
“Seperti yang saya katakan tadi saya hanya ingin mempunyai hubungan baik denganmu. Saat memasak nanti saya akan menceritakan alasan saya kenapa saya mau ke sini,”
“Itu tidak penting,” elak Isabella.
Madeleine mencegat tangan kanan Isabella ketika Isabella ingin kembali ke kamarnya.
“Saya mohon, saya juga seorang perempuan, saya tahu perasaan kamu saat Willem memperkenalkan saya kepadamu,” kata Madeleine, suaranya sedikit di lembutkan.
“Tidak akan!” bentak Isabella.
Madeleine mencari cara agar Isabella mau menuruti permintaannya.
Ini cara yang terakhir. Batinnya.
Madeleine berlutut di kaki Isabella. Tangan wanita itu juga menggenggam tangan Isabella sambil memohon. “Saya mohon.”
“Baiklah,” ucap pasrah Isabella.
Di tempat inilah kedua wanita itu berada, di dapur. Mereka berdua sibuk urusan dapur. Hening mulai menyapa mereka.
“Sebenarnya alasan saya menerima Willem saya kesepian, saya tidak punya orang tua, bisa dibilang saya yatim piatu. Saya juga kalau di posisi kamu bakalan sakit hati, kecewa, saya tahu perasaan kamu. Maafkan saya,” kata Madeleine.
Isabella menghentikan kegiatan memotong sayur.
Saya tidak semudah itu percaya dengan wanita sepertimu. Saya tahu kamu drama saat ini. Saya akan mengikuti dramamu Madeleine. Akan saya pastikan akan plot twist. Batin Isabella.
“Saya pikir kamu perempuan jahat Madeleine. I’m sorry. Kamu punya hati yang lembut,” ucap Isabella.
Kena kamu Isabella. Batin seseorang.
Madeleine menanggapi ucapan Isabella dengan kekehan kecil.
“Jangan sampai makan kita kegosongan gara-gara obrolan kita.” Isabella mencoba mengingatkan.
“Bisa aja kamu,” kekeh Madeline.
“Ada apa kenapa kalian berdua bisa seakrab ini?” tanya Willem, dengan nada cukup tinggi.
“Kami sudah berteman,” ucap Madeline.
Itu menurutmu Madeline. Batin Isabella, ia jengkel dengan sifat Madeleine.
Isabella acuh terhadap kedatangan Willem.
Tak berselang lama Gustaaff datang. Gustaaff mengerutkan dahinya.
Aku tidak salah lihat ini? Ayah, Ibu dan wanita gila itu. Batin Gustaaff.
“Nak, mari kita sarapan bersama. Panggilkan Victorya juga, Ibu minta tolong,” pinta Isabella.
Gustaaff hanya mengangguk dan meninggalkan mereka.
Gustaaff sampai di depan pintu Victorya. Gustaaff dapat mendengar dari luar pintu gadis itu asyik bersenandung.
Tok, tok, tok
“Ibu mengajakmu sarapan,” kata Gustaaff sedikit berteriak. Pasalnya sedari tadi ia telah mengetuk pintu, tetapi tidak kunjung dibuka.
“Siapa, ya,” kesal Victorya.
“Ada apa?”
“Sarapan,”
“Sarapan, hah?”
“Pagi,”
“Hah?”
“Hah, hah, mulu,” geram Gustaaf.
Victorya dibuat bingung oleh Gustaaff
“Kalau boleh bisa tidak kamu satukan saja setiap kata yang kamu ucapkan jadi satu kalimat, bukannya lancang, tetapi aku tidak mengerti jika kamu mengucapkan hanya sepenggal-sepenggal” saran Victorya.
“Sarapan pagi, Ibu ajak,” ucap Gustaaff, pasrah.
“Ok, kamu duluan aja,” kata gadis itu.
Tanpa disuruh pun aku akan pergi. Batin Gustaaf.
“Gimana?” tanya Isabella, saat melihat Gustaaff baru saja menginjak kaki di dapur.
“Apanya Bu?”
“Astaga, Victoryanya Nak,” geram sang ibu.
“Nanti juga datang Bu,”
“Anak muda zaman sekarang, jika cinta dikatakan. Gengsi sampai mati,” sindir Willem.
Gustaaff memutar bola matanya, pemuda itu malas mendengar ocehan sang ayah.
Akhirnya Victorya datang tepat setelah makanan siap disajikan.
“Mari makan,” ucap Madeleine.
Meja makan mereka berbentuk persegi panjang. Gustaaff di samping Victorya, Willem di tengah-tengah Isabella dan Madeleine.
“Kenapa tidak kamu sajikan makan ke piring Willem Isabella, kamu lebih berhak daripada aku,” kata Madeline.
“Dia bisa sendiri,” ucap Isabella sedikit kesal.
“Tidak bisa sendiri,” bantah Willem.
“Willem membutuhkanmu Isabella,” goda Madeleine.
Dengan terpaksa Isabella menyajikan makanan Willem. Perasaan dongkol tiba-tiba berperan dalam hatinya.
“Bantuanmu berguna,” kata Willem.
“Kamu juga gengsinya tinggi, tinggal bilang terima kasih sama Isabella aja susah kamu,” ejek Madeleine.
“Saya tidak membutuhkan ucapan terima kasih darinya!” seru Isabella.
“Sudah lebih baik kita nikmati sarapan ini,” ajak Madeleine.
Selang beberapa menit Gustaaff merasakan ada yang menyentuh kakinya.
Sialan wanita gila ini kenapa di sampingku. Batin Gustaaff.
Gustaaff melirik ke bawah ternyata benar itu kaki Madeleine.
“Hmm.” Gustaaff berdehem untuk menghentikan kegiatan gila Madeleine. Bukannya berhenti wanita itu malah semakin genjar.
Madeleine pura-pura menjatuhkan sendoknya.
Dengan kesadaran penuh dia mengusap pelan kaki Gustaaff.
Gustaaff sangat jengkel terhadap wanita yang disampingnya itu. Ingin sekali Gustaaff menampar wanita itu, tetapi pemuda itu masih mampu menahan dirinya.
Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali Madeleine melakukan hal gila itu. Gustaaff menendang-nendang kecil agar wanita itu berhenti, tetapi usahanya sia-sia.
“Kenapa lama sekali mengambil sendoknya?” Gustaaff membuka suaranya, ia harap hal itu mampu menghentikan Madeleine.
“Jauh jatuh,” ucap Madeleine sedikit gugup.
Mereka yang tidak terlibat aksi gila Madeleine hanya ber oh ria.
Mereka berlima akhirnya selesai sarapan pagi.
“Biar saya saja yang membersihkan ini,” kata Isabella.
“Gustaaff ikut,”
“Aku juga!” seru Victorya.
“Bukankah sudah pernah Ayah katakan bukan tempat laki-laki di dapur Gustaaff!” seru Willem dengan nada tinggi.
“Sudah Nak pergilah nanti laki-laki itu menyakitimu,” bisik Isabella pelan kepada Gustaaff.
Gustaaff langsung menuruti perkataan sang Ibu. Pemuda itu langsung saja meninggalkan dapur diikuti oleh Willem dan Madeleine.
Victorya mencuci alat makan. Dengan gesit tanpa ada kesalahan gadis itu mampu menyelesaikan dengan cepat.
Hal itu mampu membuat Isabella terkejut. Ia berpikir bahwa gadis itu orang yang lamban.
“Nyonya, semua sudah selesai, saya permisi,” pamitnya dengan sedikit menunduk.
“Baiklah, terima kasih,” ucap Isabella.
Victorya menunduk kembali.
Willem dan Madeleine berada di taman belakang.
“Kenapa baik dengan wanita itu?”
“Karena dia seorang wanita sama sepertiku. Bukankah sudah seharusnya kami berdamai?”
“Hatimu sangat baik Sayang, aku tidak menyesal memilihmu,” ucap Willem.
“Pasti dong, tenang saja Madeleine Marvey siap menjadi pendamping terbaikmu,” ucap Madeleine dengan bangga. “Peluk dong,” pintanya.
Willem dengan senang memeluk Madeleine. Laki-laki itu mengecup lama surai kekasihnya itu.
Hal itu, tidak luput dari pandangan Gustaaff. Kalau ditanya tentang perasaan Gustaaff saat ini, jawabannya pasti sakit hati. Seharusnya ibunya di posisi Madeleine. Apa boleh buat ayah dan ibunya tidak akan mungkin bisa seromantis itu.
Selalu saja mereka berdua bentrok tidak pernah satu jalan. Selalu ada yang belok.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments