Ibu dan Van Della hari ini bersiap-siap, tetapi bukan untuk berjualan, melainkan akan menghadiri pesta buah di sebuah tempat Leer, Jerman. Mereka diundang karena mereka juga penjual buah. Hal itu dibuat untuk mengapresiasi kinerja dari para pedagang yang mampu menjajakan buah dengan segar.
Pastinya orang yang membuat pesta itu bukan golongan seperti mereka berdua, melainkan orang yang berada satu level di atas mereka. Bukan orang miskin maupun orang kaya.
Van Della mengenakan dress yang jarang digunakan, yaitu dress pemberian dari sang ayah. Dapat dikatakan dress itu harganya lebih mahal dibanding dengan dress yang biasa dipakai.
Ibu Van Della menggunakan dress juga yang diberikan oleh suaminya. Mereka berdua menggunakan dress dengan warna senada, yaitu warna ungu.
Mereka tampil dengan anggun. Apalagi Van Della. Mungkin akan banyak pasang mata yang melihatnya nanti. Mengapa tidak karena gadis itu benar-benar cantik kata cantik kurang tepat untuk menggambarkan keindahannya saat ini lebih baik dengan kata indah.
Van Della menggunakan heels pendek, sedangkan ibunya menggunakan flat shoes.
Riasan di wajah Ibu dan anak itu sangat natural. Hanya bedak dan lipstik merah mudah yang mereka pakai.
Untuk rambut, Van Della membiarkan rambutnya terurai, sedangkan Ibunya mengikat rambut dengan tertata rapi. Sebenarnya Van Della ingin Ibunya membuat rambutnya terurai, tetapi Ibunya mengatakan Ibu sudah tidak muda lagi lebih baik rambut Ibu diikat.
Van Della sangat kagum kepada Ibunya. Ibunya sebenarnya sangat cantik hanya saja perekonomian mereka tidak mendukung. Pakaian mereka saat hari-hari mereka bekerja sebenarnya menutup kecantikan mereka.
Lihatlah sekarang Van Della memuji Ibunya. “Ibu benar-benar cantik.”
“Bisa aja kamu,”
“Serius Bu, Van Della jadi bingung sekarang. Ayah mau tidak, ya mengizinkan Ibu pergi setelah melihat cantiknya Ibu sekarang,” kata Van Della. “Aku panggilkan dulu Ayah,” lanjutnya.
“Ayah,” panggil Van Della, gadis itu akhirnya menemukan sang ayah yang bersiap-siap untuk pergi.
“Ayah mau pergi ke mana?”
“Ayah ingin mencari kayu bakar Nak, putri Ayah sangat cantik. Di mana Ibumu?”
“Itu yang ingin Van Della tunjukkan, ayo ikut Van Della,” ajak gadis itu.
Ayah Van Della terkesima melihat cantiknya istrinya itu.
“Bagaimana penampilanku?”
“Sangat bagus,” balas suaminya.
“Maafkan aku, aku sekarang sadar bahwa aku sebagai kepala keluarga gagal memberikan yang terbaik pada kalian berdua. Kalian sebenarnya sangat cantik, tetapi tidak ada gunanya jika perekonomian tidak pasti,” sesal suaminya.
“Ayah kenapa berbicara seperti itu? Sekarang Van Della mau tanya sama Ayah, pernah Ayah dengar kami tidak terima apa yang Ayah berikan untuk kami? Lihat pakaian yang kami gunakan ini pemberian Ayah. Berhenti berbicara seperti itu. Van Della mau menangis ini,” adu Van Della.
“Jangan menangis Nak, maafkan Ayah, Ayah tidak akan berbicara seperti itu lagi,” janji ayahnya.
“Kamu sih, dia sedihkan,” ujar istrinya.
“Sudah, ya nanti terlambat datang ke acara,”
Van Della tidak jadi menangis.
“Dadah Ayah,” ujar serempak Van Della dan Ibunya.
“Iya, hati-hati,” balas Ayah Van Della.
Mereka berdua berjalan kaki karena jarak mereka ke tempat acara tidak terlalu jauh.
Di sepanjang jalan banyak menatap mereka baik perempuan maupun laki-laki.
“Itu putrinya, ya Bu?” tanya salah seorang wanita yang menggendong anaknya di punggungnya.
“Iya Bu,” jawab Ibu Van Della.
“Kalian berdua sangat cantik,” kata orang itu sebelum orang itu melewati Van Della dan Ibunya.
Mereka akhirnya sampai di tempat tujuan.
Para pemuda banyak memperhatikan cantiknya Van Della tak terkecuali dari putra yang membuat acara ini.
“Selamat datang di pesta buah ini saya sangat merasa dihargai jika tamu undangan saya memenuhi undangan,” kata pemilik acara itu.
“Terima kasih karena mengundang kami,” ujar Ibu Van Della.
Selama acara berlangsung Van Della selalu di dekat Ibunya. Takut-takut ada pemuda nakal itu alasan Van Della dan ia juga lebih nyaman dan aman jika bersama Ibunya.
“Ayah siapa nama gadis yang di samping Ibu itu?” tanya seorang pemuda.
“Itu putrinya,”
“Siapa namanya?”
“Ayah tidak tahu. Kalau kamu ingin tahu coba tanyakan sendiri. Ingat seorang laki-laki itu harus pemberani,” ujar Ayahnya.
“Aku takut gadis itu risih kepadaku,” risau pemuda itu.
“Kamu belum mencoba Bung,” bantah Ayahnya.
Dengan berani pemuda itu bertanya kepada Van Della. “Perkenalkan namaku Henry Louis, jika berkenan boleh aku tahu siapa namamu?”
“Namaku Van Della,” jawab Van Della dengan senyuman.
“Yang panjang?”
“Van Dellaaaaa,” ujar gadis itu dengan percaya diri.
Seketika suara tawa menggema di telinga Van Della. Suara tawa dari Ibunya, orang yang baru berkenalan dengannya, dan si pembuat acara.
Apa aku salah? Batin Van Della.
Henry dapat melihat gadis itu sedang dilanda kebingungan.
“Maksudku nama panjangmu,”
“Ohh, Van Della Leoni,” jawab Van Della. Kini wajahnya telah tertunduk malu. Ia juga menyembunyikan wajahnya yang sudah terkena semburan merah itu di belakang tubuh Ibunya.
“Maafkan aku seharusnya aku mengatakan dengan benar tadi,” sesal Henry.
“Tidak apa-apa,” balas Van Della.
“Silakan dinikmati buah-buahan yang ada di sini, kami pergi dulu,” kata si pembuat acar itu.
“Van Della malu Bu,”
“Iya Nak, kamu lucu bangat Ibu tidak bisa ridak ketawa,”
“Ayo kita nikmati beragam buah ini,” ajak Ibunya.
...***...
Ayah Van Della mengumpulkan ranting-ranting dari dahan pohon yang sudah jatuh. Laki-laki itu mengikat di setiap satu ikatan jika ranting kayu sudah memenuhi perkiraan darinya. Setiap kumpulan ranting kayu diikat menggunakan daun dari pohon yang berbentuk panjang dan melengkung.
Sesekali laki-laki itu mengelap keringat yang sudah bercucuran di dahinya. Dia sangat kelelahan.
Setelah dirasa sudah cukup laki-laki itu membawa ranting-ranting ke rumah. Tak jarang ranting kayu yang kecil berjatuhan karena berbagai faktor, yaitu adanya tekanan dari laki-laki itu setiap hentakan kakinya yang membuat ranting kecil berjatuhan, yang kedua daun yang mengikat tidak lebar.
Dia sampai di rumah. Dia langsung membawa ke dapur dan meletakkannya.
Tak
Suara itu berasal dari kamar Van Della. Mau tidak mau dia masuk ke kamar putrinya.
Maafkan Ayah Nak bukannya Ayah lancang, tetapi ada suara yang berasal dari kamarmu. Batinnya.
Dia mengecek kamar Van Della dan menemukan cangkir yang jatuh dan seekor burung merpati dengan surat di kaki kanan.
Dia mengambil surat itu lalu membaca.
Putriku tidak boleh menerima ini. Batin laki-laki itu.
Dengan cepat dia mengganti surat itu, lalu menambahkan bunga dari surat yang tadi dia baca.
Surat itu berisi larangan supaya Van Della tidak memikirkan Gustaaff lagi karena Gustaaff sudah mempunyai seseorang.
Ayah terpaksa membuat ini Nak. Maafkan Ayah. Batin laki-laki itu, dia sangat terpaksa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments