...Sebuah foto akan mengingatkanmu pada momen yang terkenang dengannya bukan?...
Leer, Jerman tempat Melangsungkan kehidupan bagi Van Della dan kedua orang tuanya.
Dengan mengharapkan sumber daya alam berupa buah-buahan menjadi satu-satunya cara mereka untuk bertahan hidup.
Mereka sibuk dengan kegiatan bertanaman.
Seperti sekarang ini, mereka bertiga sedang menanam tunas-tunas dari berbagai buah-buahan.
Tanah subur berwarna hitam beserta gembur mereka jadikan menjadi sebuah lahan perkebunan.
Lahan mereka dekat dengan jalan besar yang terbuka sehingga orang-orang dapat melihat mereka. Baik orang kaya maupun orang miskin.
Ibu Van Della memandang Van Della yang sedari tadi sibuk membantunya padahal banyak tatap mata mengarah padanya.
“Nak, kamu tidak malu dilihat para pemuda itu?”
“Untuk apa malu Bu? Justru aku senang,” jawab Van Della, tangannya masih sibuk mengambil beberapa tunas untuk ditanam.
“Maafkan Ibu, ya Nak. Ibu sebenarnya tidak tega melihatmu begini,” sesak Ibunya.
“Untuk memikirkan mereka, itu bukan urusan kita Bu,”
“Mari kita tanami lagi tunas-tunas ini. Masih banyak,”
Ibu Van Della langsung tersenyum. Mereka kembali serius menanam tunas-tunas itu.
Matahari bersinar menyengat, hal itu tidak membuat Van Della mundur. Bahkan gadis itu semakin bersemangat.
Ia tidak peduli jika kulit putihnya itu menjadi sasaran dari matahari. Toh juga gadis itu akan tetap cantik. Memang jika sudah cantik dari sananya tidak bisa diubah.
Awan mulai menghitam, mereka bertiga bergegas untuk pulang sebelum hujan datang menjemput.
Sampailah mereka di kediamannya. Mereka langsung membersihkan diri masing-masing.
Van Della dengan cepat membersihkan diri. Gadis itu yang akan menyiapkan makanan. Ia tidak akan membiarkan orang tuanya melakukan itu karena orang tuanya sudah sangat kelelahan.
Van Della membuat kue buah sederhana. Bahan-bahan yang digunakan sangat sederhana, yaitu telur, tepung, gula, susu, dan buah-buahan.
Sebagai minuman Van Della menyiapkan tiga gelas susu hangat.
Mereka bertiga makan dengan nikmat. Sangking enaknya Van Della tidak sadar bahwa sisa kue lengket di atas bibirnya.
“Putri Ayah sudah besar, tetapi makan masih belepotan,”
Van Della buru-buru membersihkan mulutnya dengan kain kecil. “Ayah bisa aja,” kata Van Della, sambil malu-malum
Orang tuanya tertawa menyaksikan tingkah lucunya.
“Ayah, Ibu,”
“Iya, iya mari kita bereskan semua ini,” ajak ibu Van Della.
Mereka membereskan semuanya. Sesekali sang ibu menjahilinya dengan mengoleskan busa sabun ke wajah Van Della.
“Ayah, lihat Ibu,” adu Van Della, gadis itu menghindar dari serangan sang ibu.
“Sudah-sudah, Ibu jangan jahil dong sama anaknya,”
“Gemes,”
“Ibu pengen masukin lagi kamu ke perut. Biar bisa setiap saat Ibu noel-noel,”
“Gak bisa lagi Bu,” protes Van Della.
Ibunya hanya tersenyum menanggapi Van Della.
Van Della membersihkan rumahnya dan tatapannya tertuju ke kamar yang ditempati Isabella dulu. Ia membuka pintu kamar itu dan masuk. Van Della menyimpan selimut dan bantal yang sudah tertata rapi ke lemari. Sebuah foto jatuh Van Della langsung saja mengambil. Betapa terkejutnya ia. Foto itu milik Gustaaff Baron Willem Baron Van Imhoff. Nama itu tertulis di belakang foto.
Setelah memasukkan bantal dan selimut itu, Van Della masuk ke kamarnya.
Ia memandangi foto itu dengan seksama.
Air mata gadis itu meluncur dengan cepat.
“Bagaimana kabarmu? Kamu baik-baik saja kan?” lirih gadis itu.
Jangan-jangan ibu yang kemarin datang ibu Gustaaff? Batin Van Della.
“Kenapa ibu itu tidak mengatakan apa-apa tentang Gustaaff, ya? Atau mungkin Gustaaff tidak memberitahu diriku kepada ibunya,” tebaknya.
“Jujur aku ingin bertemu dengannya,”
“Aku berharap nanti kita bertemu Gustaaff,”
“Nak, buka pintunya,” kata ibunya.
Van Della membuka pintu.
“Ada apa, Nak? Kenapa tergesa-gesa tadi,” kata ibunya, khawatir.
Van Della langsung memeluk Ibunya.
“Ibu, Gustaaff Bu, Gustaff sahabat kecil Van Della Bu. Sepertinya ibu Isabella itu adalah ibunya Gustaaff, aku menemukan foto Gustaaff di kamar yang pernah ibu itu tempati.”
Van Della menyerahkan foto itu kepada Ibunya.
“Sekarang dia ada di mana?” tanya ibunya, penasaran.
“Di Batavia Bu,” jawab Van Della.
“Kenapa menangis?” Ibunya mengelap air mata Van Della menggunakan baju yang Ibunya pakai.
“Kangen sama Gustaaff Bu,” adu Van Della, ia mulai sesenggukan.
“Malah tambah nangis udah Nak.” Wanita itu mencoba menenangkan putri semata wayangnya itu.
“Mau ketemu Gustaff Bu,” pinta Van Della.
“Udah-udah,”
“Kemarin Gustaaff pernah kirim surat sama Van Della, Van Della balas, tetapi sejak saat itu Van Della tidak pernah mendapat balasan surat Bu,”
“Jangan berpikir aneh-aneh, Nak,”
“Kalau memang anaknya baik sama kamu, ya bakalan selamanya baik jika kamu juga baik.” Wanita itu menasihati putrinya.
“Kamu cengeng sekarang,”
“Aku gak cengeng Bu,” bantah Van Della.
“Ibu mau cerita,” ujar ibunya.
Van Della mengangguk sambil menyandarkan tubuhnya di dekapan sang ibu. Tempat yang paling nyaman dan tenang.
“Ibu juga kayak kamu saat muda. Saat itu Ibu sangat sedih melihat ayahmu yang memutuskan untuk pergi ke negara lain agar bisa menikahi Ibu karena Ibu tahu dan ayah sadar kami berdua tidak berkecukupan dari segi harta. Kami berdua melakukan hubungan jarak jauh. Sampai-sampai ibu pernah nekat menjumpai ayah, tetapi dicegah oleh nenekmu. Ibu jadi dejavu. Ibu memutuskan untuk mengirim surat. Surat itu ibu kirimkan melalui aliran sungai. Surat Ibu, Ibu masukkan ke dalam botol kaca dan membiarkan aliran air membawanya. Surat yang Ibu berikan sangat besar peluangnya untuk tidak sampai. Berkali-kali Ibu mencoba berkali-kali juga gagal. Ibu hampir menyerah saat itu. Ibu mencoba satu kali surat itu berhasil ayah dapat dan itu membutuhkan waktu lama. Jadi, Ibu mengatakan jangan menyerah. Kalau kamu cinta Nak, berjuang,” cerita Ibunya.
“Kalau ada yang lebih cantik dari Van Della, lebih kaya gimana Bu?”
“Dengar, ya Sayang. Mau secantik apapun perempuan di sekitar laki-laki tidak akan ada yang mendapatkan hatinya kalau Tuhan berkata ‘Bukan di antara mereka’ jangan sedih, Nak,”
“Bu, Van Della tahu Gustaaff berasal dari kalangan elite karena itu Van Della selalu bimbang. Van Della takut tidak diterima dengan baik nanti oleh keluarganya seandainya Van Della dan Gustaaff menjadi pasangan kekasih,” jujur Van Della.
“Maafkan Ibu, Nak. Semua gara-gara Ibu dan ayah dengan perekonomian yang seandainya membuatmu menjadi korban,” sesal ibunya, matanya sudah berlinang air mata.
“Jangan menangis Bu,” pinta Van Della, ia menghapus air mata ibunya dengan tangannya secara lembut. “Ini bukan salah ayah maupun Ibu. Tuhan sudah menakdirkan ini untuk kita, kenapa harus menyesali Bu. Van Della gak pernah nyesel Bu. Maaf gara-gara Van Della Ibu jadi menangis.”
“Ibu yang tenang tarik nafas keluarkan.”
Ibunya menuruti perkataan sang anak.
“Peluk Bu,” pinta Van Della.
Sejujurnya Van Della juga ingin menangis, tetapi ia tahan air matanya dengan senyuman palsu. Memang sangat menyakitkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments