...Hal baru yang tidak sengaja terjadi merupakan langkah awal di waktu yang akan datang....
Tengah malam seseorang memasuki kamar Victorya. Dengan langkah yang pelan akhirnya orang itu sampai di depan pintu kamar Victorya.
Tok, tok, tok
“Victorya,” ucap orang itu pelan. “Buka Victorya,” lanjutnya.
Di kamar itu Victorya terusik akan suara orang itu. Gadis itu langsung membukakan pintu.
Orang itu menyeret Victorya ke balkon. Tangan orang itu menarik kuat rambut Victorya.
“Sakit Kak, lepaskan,” mohon gadis itu.
“Lepaskan, enak aja kamu,” ejek orang itu.
“Victorya adik Kakak tersayang kamu harus mampu membuat Gustaaff menaruh hati padamu. Kalau tidak kamu tahukan Kakak akan melakukan apa untukmu,” ucap orang itu sambil memainkan rambut Victorya.
Victorya sangat tahu sifat orang itu. Yang selalu saja ingin menang di setiap peperangan. Padahal kalau merupakan hal yang wajar bukan?
“Tahu Kak, Victorya tahu,” gugup gadis itu. “Kak aku takut melakukan ini semua,”
“Takut, kamu bilang takut,” desak Orang itu, amarahnya telah terjadi.
Dengan cepat dia mendorong Victorya ke tembok hingga Victorya merasakan sakit di bagian kepalanya.
Gustaaff yang masih terjaga di luar mendengar suara yang mengganggu pendengarannya.
“PERGI!” titah Gustaaff.
Gustaafff segera mengangkat Victorya dan membawa gadis itu ke tempat pengobatan.
Sesampainya di tempat itu pemuda itu mengobati luka Victorya.
“Kalau sakit katakanlah,” ucap Gustaaff karena sedari tadi saat menekan pelan bagian belakang kepala gadis itu, Victorya sesekali meringis pelan.
Sejujurnya aku ingin mengatakan bahwa ini sakit sekali, tetapi jika aku mengatakan itu dia akan lama merawatku di sini. Di satu sisi aku sangat ingin bersuaan dengannya, tetapi aku harus sadar diri aku bukan gadis kaya sepertinya. Batin Victorya gundah.
“Aku sudah sembuh,”
Victorya bangun dari tidurnya, tetapi kemudian dia meringis.
“Jangan pura-pura tidak sakit itu akan merepotkanmu,”
“Aku hanya tidak ingin berlama-lama denganmu Gustaaff seharusnya kamu tahu itu!” serunya dengan nada yang cukup tinggi.
“Maaf aku hanya ingin sendiri,” sesal gadis itu.
“Baiklah kalau kamu ingin sendiri, biarkan aku pergi,” pamit Gustaaff.
Tolong jangan pergi, itu adalah kata yang sangat sulit Victorya ucapkan kepada Gustaaff. Gadis itu malah menangis meratapi nasibnya yang malang itu.
“Seharusnya aku mengatakan itu, kenapa sulit sekali,” sesalnya.
Aku mau pulang Tuhan. Batinya.
“Dari mana kamu, Nak?”
“Ibu, Gustaaff dari ruangan pengobatan Bu,” jawab putranya itu.
“Siapa yang sakit?”
“Victorya Bu,”
“Siapa Victorya?”
“Ibu tidak tahu?”
Bukannya menjawab Gustaff malah bertanya balik.
“Benar, Ibu tidak tahu, temani Ibu untuk melihatnya,” ajak Isabella.
Tok, tok, tok
“Buka pintunya tolong Nak!”
Victorya dengan cepat menghapus air matanya.
“Ada apa, ya Nyonya,”
“Nyonya?”
“Tuan besar sudah memberitahu saya Nyonya,” jawab Victroya sedikit gugup.
“Kamu siapa?”
“Victorya de Jongh, tuan besar mengajak saya ke sini,”
“Untuk mendapatkan hati putra saya atau mendapatkan hati laki-laki itu?”
“Bu, sebaiknya Ibu ke kamar,” cegah Gustaaff sebelum Ibunya mengeluarkan amarahnya.
“Sebentar, Nak,”
“Maaf Nyonya, saya bukan orang seperti itu,” lirih Victorya. Air matanya siap meluncur lagi. Gadis itu hanya menunduk. Tak berani melihat dua orang di hadapannya itu.
“Maaf, saya tidak bermaksud menyakitimu, saya hanya ingin mengetahui siapa kamu,” kata Isabella dengan lembut. “Saya pergi dulu,” pamitnya.
“Berhentilah menangis, matamu bisa perih,” kata Gustaaff.
“Aku, a–,”
“Cepat katakanlah,” kesal Gustaaff. Gadis di hadapannya itu sangat membuat dirinya geram.
“Aku tidak berani tidur di sini,” jujur Victorya.
“Lalu?”
Kenapa dia tidak peka? Batin Victorya.
“Sudahlah aku ingin tidur.” Tangan gadis itu bersiap untuk menutup pintu, tetapi dicegah oleh Gustaaff.
“Tidurlah aku akan berjaga di luar,”
“Terima kasih,” kata gadis itu dengan senang.
“Jangan senang dulu, aku memang tidak bisa tidur lagi,”
“Baiklah,” ujar Victorya dengan malu-malu.
Gustaaff berjaga di depan sambil duduk di sofa dengan satu majalah di tangannya.
Seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
“Hi!” sapa orang itu.
Dengan cepat Gustaaff menghempaskan tangan orang itu.
“Berani-beraninya Anda,”
“Jangan marah lebih baik kita menghabiskan waktu di malam yang sepi ini dengan beberapa ciuman,” tawar orang itu.
Gila. Batin Gustaaff.
“Kamu menjaga gadis itu, heh,” tebak orang itu.
“Aku ingin memelukmu dari depan biarkan ku lakukan itu,” pinta orang itu, dengan tatapan yang sangat menjijikkan.
Victorya beranjak dari tempat tidurnya. Tidurnya terganggu.
Sama halnya dengan Gustaaff karena terganggu dia memilih untuk masuk ke ruangan pengobatan.
Cup
Satu sentuhan bibir mereka bertemu. Mereka berdua kaget bukan kepalang. Beberapa detik mereka berdua masih memandangi satu sama lain dengan mata yang ingin keluar dari tempatnya.
Setelah sadar Gustaaff memutuskan untuk keluar ruangan, lain halnya dengan Victorya, gadis itu masih diam mematung. Ia memegang bibirnya.
“Ciuman pertamaku,” guman gadis itu.
Di kamarnya Gustaaff menghapus jejak bibir Victorya. Dengan membersihkan menggunakan kain lembut yang sudah basah
Bisa-bisanya kejadian itu terjadi. Batinnya.
Gustaaff menjadi kesal sekarang kepada Victorya.
Gadi itu? Entah apa yang menjadi penyebab kejadian itu.
Itu semua karena wanita baru ayah. Pikir Gustaaff.
“Sial, sial seharusnya itu tidak terjadi,” katanya dengan nada tinggi.
“Ini tidak bisa dibiarkan!” serunya, bertekad.
Gustaaff melangkah ke ruangan pengobatan.
“Buka!”
Victorya segera membukakan pintu.
“Jangan pikir aku menyukai hal tadi. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi!” Ia berjanji penuh penekanan.
Setelah mengucapkan kata itu Gustaaff langsung melenggang pergi tanpa berpamitan.
Permainan ini sangat menyenangkan. Batin seseorang yang baru saja keluar dari kamarnya.
Di ruangan lain Willem sibuk membersihkan senjata kesayangannya di tempat tersembunyi. Di ruangan bawah tanah yang hanya dirinya yang tahu.
“Senjata ini yang akan menyelamatkan ku dan hartaku,” ucap devil Willem.
Anak panah yang sudah berdebu begitu juga dengan busur panah laki-laki itu bersihkan.
Tangan kekar, berurat miliknya mampu dengan cepat membersihkan semua senjatanya.
“Aku rindu akan peperangan,” katanya. “Semua ini akan aku wariskan kepada Gustaaff. Biar bagaimanapun pemuda itu merupakan putra kesayanganku,” lanjutnya.
“Aku memang mendidiknya secara kasar, itu semua aku lakukan agar pemuda itu tidak manja, dia akan menjadi laki-laki tangguh sepertiku,”
Seorang wanita sibuk mencari keberadaan kekasihnya.
“Di mana dia?” gumannya, risau.
Orang yang dicarinya tak kunjung ketemu, orang itu masuk ke kamar dengan tertawa.
“Harta-harta,” teriaknya, tawanya sudah menggema.
Orang itu asyik memainkan perhiasan yang dia punya. Seumur hidupnya ini pertama kali baginya mempunyai perhiasan mahal seperti sekarang ini.
“Hi, cantik,” katanya kepada perhiasannya itu. “Tenang hanya kita berdua di sini. Tidak ada yang mau merebutmu dari ku,” lanjutnya.
“Ha,ha,hahaha,” tawanya, menggema di ruangan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments