Direndahkan

Laki-laki yang mempunyai banyak harta sudahkah memperlakukan pasangan hidupnya dengan baik?

Van Della menyiapkan dua karpet lebar sebagai tempat mereka duduk dan menjaga jualan mereka. Van Della juga menyusun semua buah-buahan segar dengan rapi dan membersihkannya agar pembeli tertarik.

Van Della sadar jika dia tidak membantu ibunya mereka tidak akan bisa makan sesuap nasi.

“Sudah siap semuanya, Nak?” tanya ibu Van Della yang baru datang. Wanita itu membawa setengko jus untuk mereka minum di tangan kanannya. Tak lupa juga roti di tangan kirinya.

“Sudah Bu,” jawabanya. “Ibu duduk saja bersama kami,”

Seorang wanita datang dengan putrinya menggunakan perhiasan yang menjuntai-juntai setiap hentakan kaki mereka menimbulkan bunyi perhiasan yang saling bersahutan. Jangan lupakan riasan wajah mereka yang sangat tebal itu. Bukannya memperindah wajah mereka, melainkan membuat mereka semakin aneh.

“Kasihan putrinya malah jualan di sini, miskin sekali kalian ini,” ucap wanita dengan rambut blonde dengan suara yang sengaja dimanis-maniskan.

“Ia dong Bu, lihat saja pakaian mereka,  iuh orang miskin biasa begini,” tambah putri yang di sampingnya. 

“Bu, tolong, ya ucapannya dijaga, kalau tidak niat membeli silakan pergi, di sini bukan tempat untuk pamer harta ini tempat berjualan.” Ibu Van Della mencoba memberi peringatan.

“Makanya dong jodohin anak kamu sama orang kaya, seperti putri saya ini. Suaminya orang kaya, mertuanya juga kaya. Banyak harta tujuh turunan. Hartanya tidak akan habis karena suami dan putri saya masih turunan ke enam.” Wanita itu menunjuk putrinya.

“Seperti pemikiran Anda sangat minim cara pandang Anda untuk menilai orang minim juga. Anda pikir bisa semua dengan harta? Anda tau seperti apa menantu Anda? Apakah tangan besi, kasar atau tempramental?” kata Isabella tiba-tiba, ia sudah jengah melihat dua orang di hadapannya itu.

“Hi wanita, suami saya bukan seperti it–,” protesnya.

“Kalau bukan, tangan Anda, pergelangan Kaki Anda tidak akan lecet,” potong Isabella sambil tertawa kecil, kesal karena perempuan di hadapannya tetap saja menyahut. “Kalau Anda dan Ibu Anda masih di sini saya teriakin, dasar pengganggu. Saya rasa kalau Anda tahu saya siapa Anda tidak akan berani berbicara seperti sekarang ini kepada saya,” lanjutnya.

“Ayo Bu kita pergi,” ajak perempuan itu, dia menarik tangan Ibu dengan kuat. Dia sudah malu sekarang.

Namun, ibunya tidak mau. Wanita itu masih memandang remeh Van Della.

“Ayo Bu,” teriak perempuan jahat itu. Mereka berdua akhirnya pergi.

“Aku mau sendiri Bu,” pinta Van Della, raut wajahnya tidak secerah tadi. Ia pergi ke suatu tempat tidak jauh dari tempat ia berjualan.

Isabella mengikuti Van Della. Isabella tahu apa yang dipikirkan perempuan itu.

Dapat ia lihat, Van Della sedang menangis sambil terduduk. Bahu perempuan itu sedikit bergetar.

“Kenapa menangis, Nak?”

“Eh, saya tidak menangis. Saya kelilipan ini,” bantah Van Della dengan suara gemetar. Ia juga dengan cepat menghapus air matanya dan tersenyum.

“Saya mempunyai seorang anak laki-laki. Dia sangat tampan, secara fisik dia mirip ayahnya, tetapi saya bersyukur sifatnya tidak keturunan dari ayahnya,” ucap Isabella sambil ikut duduk. “Saya sangat merindukannya saat ini. Saya selalu mengucapkan kepadanya agar kelak tidak memilih pasangan hidup yang hanya harta yang dipikirkan. Saya ingin dia mempunyai pasangan perempuan sederhana, baik, dan mencintai dirinya, itu sudah sangat cukup untuk saya,” lanjutnya.

“Sepertinya putra Ibu sangat beruntung memiliki Ibu,” ucap Van Della.

Isabella mengembangkan senyumnya.

Bagaimana kabar putraku sekarang ini. Apakah ayahnya masih tetap memperlakukannya seperti dulu? Sejujurnya aku ingin pulang, tetapi aku yakin laki-laki kasar itu akan sangat marah melihatku. Batin Isabella.

Van Della masih menatap Isabella di tengah keterdiaman wanita itu, apakah Ibu ini berasal dari keluarga yang tidak harmonis? Pertanyaan itu sempat terlintas di otak Van Della. Lalu, ia menggelengkan kepala dua kali untuk membuang pikiran itu. Arah pandangannya pun ia arahkan ke yang lain.

“Kita sebagai perempuan jangan iri terhadap harta yang dimiliki perempuan lain ketika mereka memamerkan kekayaannya. Seorang laki-laki yang baik bukan dilihat dari harta, tetapi dari cara pandang laki-laki itu menempatkan pasangannya setara dengannya. Banyak laki-laki kaya, tetapi tangan besi, temperamental, kasar, selalu menganggap bahwa perempuan itu berada di status bawah dari laki-laki. Saya tahu bahwa memang laki-laki yang akan memimpin keluarganya, yang akan menjadi kepala keluarga, tetapi bagaimana mereka mampu memimpin ke arah yang baik jika dirinya sendiri menganggap orang lain hanya sebagai pengikutnya, jika seperti itu bukan pemimpin namanya. Contohnya suami saya,” jelas Isabella dengan panjang lebar, ia harus mengatakan ini agar Van Della tidak mengalami nasib sama seperti dirinya. “Suami saya adalah orang yang dari segi kekayaan dia mampu, tetapi dari cara pandang dia menempatkan saya sebagai pendampingnya bisa dikatakan dia laki-laki yang gagal. Dia tidak tahu siapa yang diprioritaskannya antara harta dan saya dan, ya dia memilih hartanya, hubungannya dengan anaknya sendiri sangat buruk begitu juga hubungannya dengan saya,” lanjutnya.

“Ibu benci dengan suami Ibu?” tanya Van Della penasaran.

“Saya benci terhadap suami saya, tetapi bukan kepada orangnya melainkan kepada sifatnya. Dia selalu semena-mena terhadap saya dan saya tidak akan membalas kejahatannya karena begitu pun sifatnya saya yang memilih dia sebagai pasangan hidup saya,” jawab Isabella dengan tenang.

“Saya semakin takut untuk memiliki kekasih, saya belum siap untuk diperlakukan dengan tidak baik,” lirih Van Della.

“Kenapa seperti itu, tidak semua laki-laki seperti suami saya,” 

“Saya jadi berharap mempunyai kekasih yang baik tidak peduli tentang hartanya intinya saya dicintai dengan tulus, begitu juga dengan keluarga saya, dan tidak mengkhianati saya,” kata Van Della dengan malu-malu.

“Saya harap kamu mendapatkan laki-laki seperti yang kamu harapkan,”

“Terima kasih Bu. Saya tidak sedih lagi sekarang,” ucap Van Della.

“Kalau begitu mari kita ke tempat jualan!” seru Isabella.

Van Della mengangguk mengiyakan.

Mereka berdua sampai ketempat tujuan.

“Putri Ibu baik-baik saja?” tanya Ibu Van Della.

“Van Della baik Bu,” jawabnya dengan senyuman. Van Della memeluk Ibunya sebentar.

“Bisa aja kamu,” kata Ibunya. “Ibu tahu kamu sedih karena hal tadi. Jangan dipikirkan lagi mereka itu orang-orang yang tidak benar,” lanjutnya.

Seorang pembeli datang dengan berjalan tertunduk, wanita tua dengan kayu bakar di punggungnya yang diikat menggunakan kain. “Adakah buah apel?” tanyanya.

“Ada Bu,” jawab Van Della.

“Berapa?”

Van Della tidak enak hati jika meminta bayaran dari wanita tua itu. “Tidak usah Bu, saya berikan gratis untuk Ibu,” jawab Van Della.

“Percayalah, Nak segala kebaikanmu sekarang akan berdampak pada kehidupanmu yang akan datang,” kata wanita tua itu. “Saya pergi dulu,” pamitnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!