Foto

...Satu foto akan membuat momen terindah dalam hidup di masa depan. ...

Hari panjang yang sangat melelahkan untuk Van Della berhasil ia lewati setelah menjajakan buah-buahan dan hinaan dari orang-orang. Sabar yang selalu berperan dalam dirinya masih tetap saja berperan itu semua karena ia mampu mengontrol emosinya. 

Perannya sebagai protagonis memang layak diacungkan jempol mengingat orang-orang yang selalu saja membuatnya terjatuh. Walaupun peduli dengan apa yang dikatakan orang-orang ia akan tetap pada pendiriannya untuk tidak membalas perkataan orang-orang itu. Siapa rupanya orang itu? Ia yakin kehidupannya yang susah saat ini jika ia tetap kerja keras hidup yang susah itu akan berubah menjadi bahagia. Bukankan kita sebagai manusia tinggal menerima apa yang sudah disediakan Nya untuk kita? Memangnya siapa yang tahu masa depannya sendiri, tidak ada bukan! 

Sesampainya di rumah Van Della langsung saja bergegas membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket. Hawa panas di tubuhnya tergantikan dengan segarnya air yang mengalir. Van Della berlama-lama di kamar mandi. Ia ingin menghilangkan rasa lelahnya itu dengan air segar. Van Della teringat akan perkataannya pada Isabella yang ingin mendapatkan kekasih yang tulus mencintainya. Akan hal itu, ia jadi teringat dengan Gustaaff.

Ya, laki-laki itu sahabat kecilnya yang pindah ke tanah lain. Laki-laki bak dewa Yunani itu, orang pertama membuat Van Della tersenyum. Orang pertama yang ia lihat bahwa orang kaya masih ada sebaik Gustaaff.

Apakah dia membaca suratku? Aku ingin sekali melihatnya. Aku sudah lupa bagaimana rupanya sekarang. Batin Van Della.

Sejujurnya ia tidak terlalu berharap juga akan mendapatkan balasan surat dari laki-laki itu.

Laki-laki tampan itu, sepertinya dia lebih tampan lagi sekarang. Pikirnya.

Apakah dia mempunyai kekasih sekarang? Akan tetapi, jika dia mempunyai seorang kekasih kenapa dia mengirimkan surat untukku? Apakah dia ingin punya dua kekasih? Adakah aku di hatinya?Pertanyaan konyol itu terlintas di pikiran Van Della. Dengan cepat dia membuang pikiran itu.

“Itu tidak mungkin, dia bukan laki-laki seperti itu. Dia akan memilihku nanti,” ucap Van Della dengan percaya diri, jangan lupakan senyumnya yang sudah mengembang itu.

Namun, tiba-tiba raut wajahnya berubah, mengingat Gustaaff berasal dari golongan elite, sedangkan ia sendiri hanya orang miskin. 

Sudahlah Van Della biarkan waktu yang menjawab semua kekhawatiranmu. Batin perempuan itu.

Van Della merasa waktunya sudah terlalu lama di kamar mandi. Ia langsung saja berpakaian. Kamar sempit yang hanya terdiri dari 2 bantal, 2 selimut, dan 1 tikar. Ia akan tidur nyenyak disitu. 

Perempuan itu bergegas ke ruang tamu. Ternyata ibunya dan Isabella telah menyiapkan makan malam mereka. 

“Maafkan aku Bu, jadi kalian yang menyiapkan makan malam,” sesal Van Della. Ia merutuki dirinya yang berlama-lama di kamar mandi.

“Tidak apa-apa mari makan,” ajak sang ayah yang datang membawa setengko jus dan empat piring.

Mereka duduk beralaskan karpet berbulu yang sudah kusam. Bulu-bulu itu akan menempel ke pakaian mereka jika mereka beranjak dari tempat itu.

Waktu untuk makan malam mereka selesaikan dengan hikmat. Van Della langsung saja mencuci barang-barang yang mereka kenakan saat makan.

Ayah dan ibu Van Della pergi ke kamar untuk istirahat. Tidak ada lagi hal lain yang dapat mereka lakukan di rumah itu. Ingin menonton, tetapi televisi tidak ada. Ingin mendengar radio, radio tidak ada. Ingin merasakan api unggun di rumah, itu juga tidak ada. Hanya tidur aktivitas yang sering mereka lakukan jika sudah sampai berdagang.

Van Della sibuk mencuci di dapur. Kedua tangannya sibuk membuat gerakan memutar di sebuah piring kecil miliknya.

“Nak,” ucap Isabella yang datang tiba-tiba.

Van Della melompat kecil karena ia kaget akan kedatangan Isabella.

“Maafkan saya karena telah mengagetkanmu,” 

“Tidak apa-apa Bu, ada apa, ya Bu?” tanya Van Della menghentikan kegiatan mencuci, melihat wanita di hadapannya itu menatapnya begitu serius.

“Saya besok akan kembali ke tempat tinggal saya, apakah saya boleh minta fotomu?” tanya Isabella.

“Untuk apa, ya Bu?” bukannya menjawab Van Della malah bertanya balik.

“Saya ingin menyimpan, sebagai kenang-kenangan karena orang baik telah menerima saya di rumahnya,” ucap wanita itu meyakinkan Van Della. “Satu saja,” mohon Isabella.

Van Della tidak tega untuk menolak permintaan wanita itu. “Baik Bu, saya ambilkan dulu.” Van Della terlebih dahulu mengeringkan tangannya ke kain kecil lalu pergi ke kamarnya.

Van Della datang dengan foto kecil di tangan kecilnya. Ia memberikan itu kepada Isabella.

“Terima kasih, Nak,” kata wanita itu.

Isabella langsung saja menuju kamarnya.

Saya berjanji, Nak foto ini akan aku buat untuk hal baik yang akan berdampak baik pada kehidupanmu yang akan datang. Batin Isabella.

Sesampainya di kamar, bukannya langsung tidur wanita itu malah memperhatikan foto di tangan kanannya dengan seksama. Senyum terlukis di wajahnya. Isabella melihat foto Van Della yang tersenyum manis.

Van Della melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Ia bersenandung kecil untuk melenyapkan kesunyian yang ada dalam rumahnya. Suara air yang mengalir turut membantu perempuan itu.

Adakah manusia yang selama hidupnya susah

Adakah manusia yang selama hidupnya senang

Bukankah hidup ini seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta?

Pertengkaran dan tertawaan silih berganti mereka rasakan

Cerita dari kehidupan tak selamanya indah

Dia telah atur semua, jangan menderita.

Sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan oleh Van Della. Perempuan itu tersenyum sendiri setelah ia sadar bahwa lirik lagu itu sebenarnya hak yang ia alami saat ini.

Semua telah selesai dibersihkan. Waktunya perempuan itu untuk istirahat. Tak terasa matanya mulai menutup dan ia pun terlelap. Bunga tidur telah menunggunya di alam sana.

Jika kamu menganggap untuk tidur butuh kasur yang lembut yang mampu membuatmu terbang tinggi jika melompat-lompat di atasnya itu anggapan yang salah bagi Van Della. Lihat saja perempuan itu telah terlelap nyenyak tanpa ada yang mengganggu dirinya.

“Van Della,” ucap seorang laki-laki yang baru saja keluar dari rumah megah bak istana.

Van Della langsung melihat orang itu. “Siapa, ya?”

“Ini Gustaaff,” jawab orang itu.

Van Della langsung berlari kencang lalu memeluk laki-laki itu hingga membuat mereka hampir jatuh. Untung saja laki-laki itu menahan tubuh mereka.

“Kenapa tidak meninggalkanku?”

“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu,” jawab laki-laki itu. “Aku ingin mengatakan sesuatu bahwa aku bersyukur karena telah memiliki perempuan yang selalu disisiku setelah aku di tempat ini, dia ada–,”

“Masuk kamu,” suruh laki-laki paruh baya yang baru saja keluar dari rumah megah itu.

“Lain kali aku katakan.” Suara terakhir yang Van Della dengar sebelum Gustaaff masuk ke rumahnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!