Sudah dua hari sejak kejadian dimana ibunya meninggalkannya ia selalu termenung. Laki-laki yang berada di hutan rumahnya kini menggambar tanah menggunakan ranting pohon kecil. Menggambar surat lalu pengawal dan gambar yang terakhir ia belum bisa menggambarkan. Seekor burung Merpati hinggap di dahan pohon burung itu sedang berkicau merdu untuk menarik perhatian sejenisnya. Paruhnya sesekali ia gesekkan ke sayapnya. Lalu datang pula Merpati lain dengan membawa biji-bijian di paruhnya. Selintas ide muncul dipikiran orang itu. Ia lalu menggambar burung Merpati digambar terakhir.
Orang itu mencoba menangkap burung itu walaupun sulit namun, tetap tertangkap. Ia memasukkan ke dalam sangkar. Ia akan memelihara sebelum diajari untuk mengantarkan suratnya.
Belakangan ini ia sibuk mengurus Merpati. Burung merpati telah melewati latihan khusus sebelum mulai mengirim pesan. Dilatih dengan hati-hati untuk kemudian bisa kembali ke rumahnya.Perlahan, merpati dilatih untuk terbang dari berbagai tempat yang jauh dari sarang atau rumahnya. Kemudian dilepaskan hingga bisa kembali ke sarangnya.
Dari berbagai lokasi yang berbeda ini, merpati akan tetap bisa kembali ke sarangnya. Burung merpati dilatih untuk bolak-balik antara dua titik, bukanlah tanpa alasan. Sebab, mereka memiliki kecepatan, efisiensi, dan keterampilan magnetoreception (kemampuan merasakan medan magnet) yang kuat untuk membantu navigasi.
Selain itu, merpati juga memiliki indra yang luar biasa akan arah dan dapat secara konsisten dapat menemukan jalan kembali ke sarangnya.Bahkan setelah mencari makan, berburu, dan terbang berkilometer ke segala arah, mereka tetap mampu menemukan jalan pulang.
Sudah saatnya merpati mengantarkan suratnya. “Antarkanlah kepada orang yang saya maksud dan jangan kembali sebelum surat itu sampai padanya. Tidaklah surat ini ternodai sekecil apapun,” pinta Gustaaff.
Sebelum burung itu pergi ia memberi biji-bijian dengan cekatan semua habis disantap burung itu. Lalu pergi untuk menuju tujuan.
Gustaaff sangat bahagia sekarang ternyata secercah harapan ada padanya. Ia akan sabar menunggu balasan surat itu. Ternyata Tuhannya memperhatikan dari atas bahwa setiap cobaan terdapat solusi. Cobaan yang berasal dari Nya dan solusi yang berasal dari Nya juga.
Namun, rasa senangnya hanyalah sesaat pikirannya langsung tertuju pada ibunya. Mengingat wanita itu membuat air mata di pelupuk matanya. Hatinya bak ditusuk anak panah yang masih tertancap di dadanya. Ia tidak tahu harus bagaimana mencari ibunya, jika ia keluar ayahnya bisa saja langsung membunuhnya.
“Bu, sebenarnya Ibu dimana sekarang?” ucapnya. “Kenapa Ibu nekat untuk pergi?” ucapnya lagi.
“Sikap Ibu yang seperti itu membuat Gustaaff tidak mengenali ibu lagi, kalau ibu mau ibu bisa cerita pada Gustaaff. Untuk apa Gustaaff ada di rumah bu,” lirihnya dadanya ia pukul dengan tangan kanannya.
“Seandainya Ibu tau keadaan Gustaaff setelah kepergian ibu. Gustaaff rasa ibu tidak akan tega pergi,”
“Hei, anak muda untuk apa menangis? Dasar banci,” sindir Willem yang baru menepuk pelan pundak putranya.
“Tolong jangan mengusik Gustaaff saat ini,” protesnya.
“Ibu meninggalkanmu? Kasihan sekali putra saya ini,” ejek Willem dengan senyuman yang menjengkelkan.
“Kenapa Ayah tega bertindak kasar kepada ibu?” tanya Gustaaff ia benar-benar ingin tahu alasan ayahnya.
“Ya memang seharusnya begitu. Ibumu selalu saja membangkang tidak menuruti perkataan Ayahmu ini. Memang seharusnya laki-laki berkuasa atas perempuan,” terang Willem.
“Ayah pikir semua kehidupan ini tentang kekuasaan semua hah?”
“Sudah berani kamu membentak Ayahmu,”
Plak
Bugh
Gustaaff menjadi sasaran keganasan dari ayahnya. Gustaaff sebenarnya ingin membalas namun, tertunda setelah kedatangan ibunya.
Plak
Isabella menampar Willem. Bukan sekedar satu kali namun, beberapa kali. Emosinya terlontarkan lewat tamparannya.
“Dasar Ayah seperti apa dirimu. Tidak pantas untuk menjadi seorang Ayah,” sentak Isabella.
Willem tersenyum meremehkan lalu berkata. “Anak muda lihat Ibumu ini tidak bisa lagi saya kontrol bagaimana ini?”
Bugh
Gustaaff memberi satu pukulan keras tepat di rahang kanan ayahnya. Ketika ayahnya ingin menampar ibunya dengan sigat ia menahan tubuh ayahnya.
“Cepat pergi Bu, kemanapun yang Ibu mau,” suruh Gustaaff dengan teriakan kencang.
“Bagaimana dengan mu, Nak,” ucap Isabella khawatir.
“Cepatlah pergi Bu,”
Setelah itu Isabella berlari dari rumah dan pergi ke luar Batavia. Semua pengawal tidak ada yang mau mencegat Isabella karena mereka juga simpati atas kekerasan yang dialaminya.
Willem mendorong anaknya hingga terjatuh ke tanah. Dengan sigat Gustaaff menarik ayahnya ke belakang ketika Willem berniat untuk mengejar ibunya. Willem menendang perut putranya lalu kepala Gustaaff ikut mengalami luka. Hingga di titik terakhir Gustaaff merasakan sakit yang luar biasanya di kepalanya. Dan membuat ia pingsan.
“Di mana perempuan itu?” teriak Willem kepada para penjaga.
Namun, tak ada yang berani menjawab. Mereka hanya menunduk dan saling melirik satu sama lain.
Willem menarik Devans. Lalu mengacungkan pedang panjangnya.
“Jika tidak ada yang menjawab saya akan membunuhmu,” peringat Willem.
“Nyonya sudah keluar Tuan,” ujar Devans.
“Dasar semuanya tidak berguna akan saya cari dia.” Willem langsung menggunakan mobilnya untuk mencari istrinya.
...***...
Van Della terkejut ketika seekor burung masuk ke kamarnya melalui celah yang bolong di atap kamarnya. Burung itu membawa kertas yang ia belum tahu apa isinya. Dengan rasa takut ia menghampiri burung itu lalu mengambil kertas yang sudah burung itu letakkan diatas karpet kamarnya. Burung itu langsung saja pergi.
Dengan pelan Van Della menyentuh kertas itu dirabanya lalu dibuka dan dibacanya ternyata berisi surat. Ia terkejut bola matanya hampir keluar.
“Dia masih mengingatku?” pikirnya.
“Ini tidak mungkin, bukankah jika orang kaya semakin kaya akan melupakan orang terdekatnya? Atau itu tidak berlaku untuknya?”
“Gustaaff aku sangat merindukanmu,” lirihnya ia membawa surat itu dan memeluknya.
“Untuk apa burung ini datang lagi,” monolognya ia mengamati burung itu dengan jarak dekat.
Hush
“Pergilah,” usir Van Della.
Burung itu malah hinggap di tiang rumahnya yang mempunyai permukaan datar.
Burung itu tak kunjung pergi karena lengah ia membiarkan begitu saja. Toh nanti akan pergi pikirnya.
Disisi lain Isabella pergi meninggalkan Batavia dan ia kembali ke Leer, Jerman. Ia akan aman disini. Namun, masalahnya ia tidak membawa apa-apa.
“Adakah orang baik yang membantu saya? Saya tak punya apa-apa,” ucapnya parau seraya menyesali perbuatannya.
Ia terus berjalan dan menemui jajaran rumah yang terbuat dari kayu. Rumah yang sangat sederhana.
Ia melihat seorang gadis yang sibuk membersihkan buah-buahan di depan rumahnya. Isabella menghampiri gadis itu.
“Nak, apakah boleh saya menginap disini?”
“Astaga,” ucap Van Della kaget. Ia menoleh ke sumber suara lantas ia menunduk menandakan ia tahu siapa orang yang dihadapannya ini.
“Silakan masuk Bu,” ujar Van Della.
Isabella masuk diikuti dengan Van Della.
“Ibu, kita kedatangan tamu Bu.” Van Della mencari keberadaan ibunya di dapur.
“Siapa yang datang?” tanya wanita paruh bayah dengan beberapa buah di tangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments