Dua Hati

...Laki-laki dengan dua wanita bukankah itu menyulitkan hidupnya?...

“Terima kasih atas kebaikan kalian kepada saya, saya pergi,” pamit Isabella.

Wanita itu berhasil menghilang dari pandangan orang tua Van Della dan juga dirinya.

Maksud perkataan ibu itu, apa, ya? Batin Van Della penasaran.

Satu jam sebelumnya

Tok, tok, tok

“Siapa?” tanya yang punya kamar.

“Ini saya, Isabella,” sahut si empunya ketukan.

Van Della membukakan pintu kamarnya.

“Ada apa, ya Bu?”

“Nama lengkap kamu siapa?”

Van Della terdiam sejenak. “Van Della Leoni Bu,” ucapnya kemudian.

“Saya punya kejutan untukmu, kejutannya mungkin lama lagi saya berikan,” ujar wanita itu. “Ya sudah saya beberes dulu.”

...***...

Di sinilah dirinya di kediamannya yang sebenarnya. Isabella memasuki bangunan beton itu. Tatap mata dari para pengawal yang melihatnya tak luput dari penglihatan wanita itu.

“Apa-apaan ini?” pekiknya, setelah menyaksikan perlakuan dang suami dengan seorang wanita. Wanita itu duduk di pangkuan suaminya dengan sesekali menyuapi suaminya dengan beragam buah.

Kegiatan dua insan yang sedang memadu kasih itu berhenti.

Suaminya berjalan ke arahnya. Lalu..

Plak

Tamparan keras berhasil mengenai wajahnya.

“UNTUK APA LAGI WANITA SEPERTIMU DATANG KE SINI!” bentak suaminya. Semua orang di ruangan yang menyaksikan itu tertunduk takut, kecuali dengan Madeleine Marvey. Wanita itu tersenyum sinis menyaksikan hal tersebut.

Hancur sudah dirimu Isabella. Batin seseorang.

Plak, plak

Suara balasan tamparan untuk Willem dari Isabella.

“KAMU BISA MENAMPARKU, MENENDANGKU DAN ITU DAPAT KUMAAFKAN, TETAPI JIKA KAMU MENGHIANATIKU ITU DOSA TERBESAR WILLEM,” teriak Isabella, tangan wanita itu mendorong suaminya hingga terjatuh.

Isabella berjalan ke arah wanita baru suaminya.

Plak, plak, plak

Pipi kiri wanita itu dua kali dan pipi kanan satu kali menjadi sasaran kemarahan Isabella.

“KAMU MEMANG WANITA YANG TIDAK SADAR DIRI, DI MANA LETAK HARGA DIRIMU SEBAGAI SEORANG WANITA SETELAH LAKI-LAKI ITU MENEMPATKANMU SEBAGAI PILIHAN KEDUA? APAKAH KARENA HARTA?” bentak Isabella. 

Melihat keterdiaman wanita yang baru saja di tamparnya itu Isabella kemudian berkata. “Sudah kuduga dasar tidak tahu malu.”

Para orang yang berada di tempat itu mulai mulai berbisik-bisik.

“Dasar wanita itu, dia tidak malu. Dasar wanita perusak rumah tangga orang,”

“BUKANKAH SEBELUM KEDATANGAN SAYA KE RUMAH INI RUMAH TANGGA MEREKA SUDAH RUSAK? HAH! SAYA MINTA MAAF” teriak Madeleine.

“Memang sudah hancur, tetapi dari segi apapun Nyonya Isabella lebih mahal dari pada Anda,” jawab salah seorang pengawal.

Willem tak kenal malu itu langsung pergi dari tempat itu disusul oleh wanita barunya.

“Sayang, udah dong jangan marah,” bujuk Madeleine. Kedua tangannya mengusap lembut punggung Willem. Menenangkannya dengan mengatakan. “Udah tenang jangan marah lagi.”

“Wanita itu benar-benar keter–,”

“Udah tenang kamu jangan marah lagi. Aku tahu dia kecewa sama kamu. Aku sama dia sama-sama seorang perempuan. Perempuan mana yang tidak sakit hati mengetahui suaminya mempunyai kekasih lain,” ujar Madeleine dengan lembut.

“Tidak marah akan perlakuannya untukmu?”

“Tidak sayang,”

“Kamu memang yang terbaik, ayo lebih baik sekarang kita bermesraan di kamar ini,” pinta Willem.

Tangan kirin Willem berada di pundak Madeleine, sedangkan tangan kirinya berada di pinggang kesayangannya itu.

Kedua tangan Madeleine melingkar mesra di leher Willem. Tak lupa mereka menyalakan sebuah melodi mesran dan sensual.

“I Love You Sayang,” ujar Madeline dengan manja.

“Bisa aja kamu,” balas Willem.

Mereka menari layaknya pasangan pengantin baru. 

“Masih muda kamu,” 

“Iya sayang, masa mudaku ini akan kuhabiskan denganmu,”

“Kamu akan sangat bahagia bersamaku, akan ku pastikan kamu akan lebih bahagia daripada saat kamu bersama istri pertamamu itu,” ucap Madeleine dengan percaya diri. Wanita itu mengecup berkali-kali rahang tegas milik Willem.

Siapa yang tidak tergila-gila denganmu. Ketampananmu, hartamu. Batinnya.

Willem tersenyum lebar dan sesekali mengecup pipi wanitanya itu dengan mesra. Mereka kembali menari sesekali tertawa, tersenyum. Setelah selesai menari Madeleine menyandarkan tubuhnya ke dada bidang sang kekasih. Tangan Willem tak tinggal diam. Dia mengusap lembut surai blonde milik Madeleine. Menghirup wangi yang memabukkan itu.

“Rambut kamu wangi,”

“Iya dong,”

Di lain tempat.

Sepertinya ada orang yang menangis. Batin seseorang. Ini kan suara.

Orang itu langsung saja menghampiri orang yang menangis itu.

“IBU,” teriaknya.

Gustaaff langsung memeluk ibunya menenangkan wanita kesayangannya itu. 

Gustaaff merasa tangisan ibunya mulai mereda.

“Ada apa Bu?”

“Ayahmu,”

Oh Gustaaff langsung mengerti apa yang dimaksud ibunya. Memang laki-laki itu tidak tahu malu.

“Gustaaff tahu Bu. Gustaaff sudah melihat mereka berdua,” lirih pemuda itu. 

“Ibu gak tahu mau ngomong apa lagi sama Ayah kamu,”

“Lebih baik Gustaaf mengantar Ibu ke kamar,”

Gustaaff membawa Ibunya dengan hati-hati.

“Tunggu sebentar,” ucao Isabella ketika melihat putranya ingin keluar. Ia memberikan foto kepada Gustaaff.

Gustaaff menerima tanpa melihat ke foto itu.

“Simpan baik-baik,” pinta Ibunya.

“Siap Bu,” jawab Gustaaff.

Ketika Gustaaff masuk ke kamarnya betapa kagetnya ia melihat seseorang masuk kamarnya.

Gustaaff segera menutup pintu kamar. 

“Keluarlah dari kamar saya,” titahnya.

“Saya tidak ingin keluar, tolonglah masuk,” pinta wanita itu. “Saya akan keluar bukakan pintunya.”

Gustaaff membuka pintu sebelum masuk wanita itu merobek pakaian belakang Gustaaff saat ingin keluar.

Wanita itu berlari dan membawa kekasihnya menghadap Gustaaff.

“Apa yang sudah kamu perbuat kepada Ibu sambungmu?”

“Saya tidak melakukan apapun,” jawab Gustaaff.

“Putramu mau menyentuhku Sayang,” adu Madeleine dengan suara yang sengaja wanita itu lembuatkan.

“ANAK KURANG AJAR KAMU!!” maki Willem setelah melayangkan tamparan ke wajah Gustaaff.

“MAKSUD KAMU APA MENYENTUH MADELEINE, HAH?” Willem benar-benar marah di hadapan Gustaaff dengan sorot mata yang telah memerah itu. Amarahnya menguasai dirinya dengan perlakuan bejat putranya itu.

“CUKUP! SAYA INGATKAN SEKALI LAGI KEPADA WANITA YANG KAMU ANGGAP TERHORMAT DI RUMAH INI, JIKA MENGGANGGU SAYA, SAYA TIDAK SEGAN-SEGAN AKAN BERBUAT KASAR KEPADA ANDA,” tegas Gustaaff.

Gustaaff masuk kamar dengan menutup pintu secara kuat.

Madeleine menyusul Willem. Wanita itu harus menenangkan singa itu. 

Ini sangat menyenangkan. Pikir seseorang.

Di ruangan dengan cahaya temaram, suara isakan tangisan samar-samar terdengar dari mulut seorang wanita. Wanita yang selalu mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Wanita mana yang dapat bertahan dengan laki-laki kasar? Walaupun banyak yang mengatakan tentang kekayaan laki-laki itu memangnya sanggup di tampar, di pukul terus? Tidak kan!

Jika memakai logika wanita akan membalas perbuatan suaminya yang menghianatinya. Namun, wanita tetap saja makhluk lembut dengan menggunakan hati nurani. Ini dapat dilakukan hanya wanita baik saja.

Apa bunuh diri lebih baik daripada semua ini? Batinnya.

Tidak-tidak jangan sampai hal itu terjadi karena wanita itu masih mempunyai seorang putra yang sangat menyayangi dirinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!