...Kekuasaan dan kepunyaan yang ada padamu saat ini tidak akan abadi jika dirimu berada satu langkah dalam keburukan....
Batavia
Kota tempat para tokoh terkenal dari Belanda menghuni setiap jabatan pemerintahan. Semua penghuni pribumi mampu mereka atasi dengan cara-cara perang maupun dengan diplomasi. Namun, dominan perang yang terjadi. Di sini, Gustaaff tinggal, ia telah meninggalkan Leer, Jerman. Baginya hal ini bukanlah mudah. Dimana ia telah kehilangan memori, sahabatnya, tempat tinggalnya setelah sang ayah memutuskan untuk di Batavia. Ayahnya beralasan bahwa Batavia akan menjadi wilayah kekuasaan Gustaaff. Willem mewarisi tahta kekuasaan kepada putranya.
Kedatangan ayahnya untuk bersama dengan mereka membuat Isabella khawatir, ia tahu seperti apa sifat suaminya itu. Sangat berbeda dengan dirinya. Raut wajahnya mulai berkerut menandakan ia semakin tua sementara wajah rupawan putranya semakin mengetat bahwa kedewasaan ada padanya. Itu artinya tidak bisa ia selamanya berada di samping putranya.
Ia termenung didalam ranjangnya. Butiran air mata mulai membekas di pipinya. Ia sangat menyayangi Gustaaff. Kini ia menyerahkan diri kepada Tuhan satu-satunya yang dapat membantunya. Ia bertekuk lutut melipat kedua tangannya, menundukkan kepala lalu berdoa. Entahlah seberapa menyakitkan hatinya namun, semua terlihat jelas dari air mata yang terus mengalir itu.
Selepas berdoa ia dikagetkan dengan kehadiran suaminya dengan posisi bersikap dada dengan tatapan nyelonong.
“Hanya orang bodoh seperti dirimu yang menangis kepada yang tidak terlihat. Bagaimana mungkin mempercayai Nya padahal dirimu sendiri tidak pernah melihatnya,” sarkas Willem.
Isabella berdiri, lalu menampar wajah suaminya.
“Bagaimana mungkin seorang suami seperti dirimu, yang dirimu anggap sebagai Ayah yang baik dan suami yang baik dihadapan publik padahal pada kenyataannya orang yang berada dihadapkannya ku saat ini tidak lebih dari pecundang yang hanya berlindung dibalik kekuasaan,” balas Isabella.
Plak
Satu tamparan mengenai pipi kanan Isabella. Willem mencekik lehernya. Memojokkan kedinding kamar.
“Bisa-bisanya perempuan murahan seperti dirimu berkata hal seperti itu. Ingat baik-baik setidaknya sadarkan dirimu bahwa saya telah membelimu dengan harta dan juga seharusnya dirimu senang bahwa suamimu tidak miskin itu artinya terserah padamu untuk berfoya-foya bahkan bisa untuk memamerkan kepada teman-temanmu. Satu hal lagi dirimu hanyalah seorang perempuan dan saya laki-laki camkan ini bahwa dirimu tidak akan pernah diatas saya, jangan sok belagu berhadapan dengan saya. Paham?” semburnya.
Setelah mengatakan itu ia melenggang pergi meninggalkan Isabella yang semakin menangis tubuhnya merosot kebawah, sekarang ia paham bahwa ia serendah itu di mata suaminya. Setidaknya untuk saat ini ia akan bertahan demi putranya. Adanya penyesalan dalam dirinya mengapa ia tertarik dengan ucapan manis Willem dulu.
Di halaman belakang terlihat Gustaaff sedang menulis sesuatu di secarik kertas dengan pena bulu. Pena yang terbuat dari bulu burung yang hidup pada musim semi. Dicelupkannya ujung tangkai yang tidak ada bulunya kedalam tinta lalu digoreskan pada kertas tersebut.
“Berhenti, saya mau bicara dengan putra saya, keberatan?” tanya Willem, Willem mengatakan hal ini karena tahu bahwa putranya tidak dekat dengannya. Sebab ia selalu meninggalkan putranya untuk berkuasa.
Hanya anggukan kecil yang dilakukan Gustaaff untuk merespons.
“Begini saya rasa saya semakin tua dan sebentar lagi akan tiba waktunya pelepasan tahta di Frieslandia dan di Batavia tidak mungkin saya yang akan berkuasa. Kamu mau menggantikan Ayah?”
“Gustaaff tidak mau dan tidak akan pernah menduduki jabatan itu. Hal itu akan mampu membuat Gustaaff seperti Ayah. Diktator,” jawabnya setegar mungkin menandakan bahwa ia tidak setuju.
Willem mendorong putranya hingga tubuh Gustaaff mengenai tanah.
“Ini sebabnya jika kamu melawan. Sepertinya ibumu telah mencuci otak mu untuk melawan kepada saya. Seharusnya kalian sadar diri kika tanpa kekuasaan saya kalian akan menjadi rakyat jelata sama halnya serendah itu.” Willem menendang tubuh putranya, tangannya membogem pipi Gustaaff.
“Saya akan selalu meminta dan meminta untuk tetap menjadi pengganti saya.” Willem melangkah dengan cepat menuju kamarnya ia harus melampiaskan kemarahannya kepada Isabella.
“Isabella, ini semua ulahmu putra saya semakin hari semakin berbeda,”
Dengan sekuat tenaga Isabella mengontrol dirinya agar tidak melawan suaminya. Namun naas, saat keningnya mengalirkan darah segar setelah Willem melemparkan pigura foto.
“Puas, dirimu tidak akan pernah bahagia jika terus terpenjara dalam kekuasaan bahkan walaupun wanita-wanita hina menerima perkataan manismu saya pastikan tidak akan pernah ada sepenurut saya dan kebahagiaan akan menghancurkanmu disaat dirimu berada dititik paling bawah kehidupan,” teriak Isabella. Sebagai seorang istri seharusnya ia tidak melakukan seperti ini namun, keadaan dan laki-laki itu yang merubah perilaku.
Isabella berlari keluar tepatnya ke halaman belakang. Ia kaget mendapati putranya yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia yakin setelah melihat wajah putranya yang membiru bahwa putranya mendapatkan perilaku kasar dari suaminya.
Isabella langsung berlari ke arah Gustaaff.
“Wajahnya kenapa, Nak? Ulah ayahmu pastikan,” ujarnya pelan.
“Wajah Ibu, ulah ayah juga, ya?” bukannya menjawab Gustaaff malah bertanya balik. Diraihnya tubuh ibunya lalu didekapnya erat seakan hanya ibunya yang mencintai tanpa tuntutan. Wanita serapuh ibunya tidak akan pernah memarahinya bahkan berperilaku kasar kepadanya. Tutur kata ibunya selalu mampu membuat Gustaaff menjadi anak paling menguntungkan di dunia dengan kehadiran ibunya.
“Ibu, suatu hari akan Gustaaff kembalikan tamparan yang ibu rasakan kepada laki-laki kasar itu. Itu bukan ayah Gustaaff Bu. Kita pisah rumah darinya Ibu selalu diperlakukan kasar,” ujarnya.
“Tidak, kita harus menemaninya sampai dia sadar. Biar bagaimanapun dia ayahmu. Jangan sekali-kali berniat hal buruk kepadanya. Cukup hanya Ibu yang kecewa dengannya,”pinta wanita cantik itu. Ia tahu bahwa mudah untuk memutuskan hubungan dengan suaminya namun, ia tidak mau putranya mati kelaparan ia sudah tahu rasanya seperti apa orang yang tidak punya apa-apa.
“Sekarang pergilah ke kamarmu. Dan ingat doakan ayahmu untuk berubah menjadi baik,” pintanya.
“Pasti Bu, kalau Ibu takut untuk kembali kekamar Ibu jangan sungkan untuk ke kamar Gutaaff, Gustaaff bisa tidur di kamar yang lain Bu,” tawar Gustaaff.
“Iya Nak,” jawab Isabella. Sekarang senyuman tercetak di wajahnya. Ia beruntung memiliki putra sebaik putranya itu. Sekarang perasaannya mulai membaik.
Secarik kertas menarik perhatiannya. Ia mengambil lalu membaca.
“Van Della?” ujarnya.
“Ini tulisan Gustaaff, apakah dia mempunyai pujaan hati? Tetapi dia tidak pernah memberitahu ibunya ini,” tuturnya pelan.
“Van Della Leoni, bagaimana keadaanmu di negeri seberang? Apakah kamu tumbuh menjadi perempuan baik disana? Atau sebaiknya? Maaf menanyakan hal ini, aku akan sangat senang mendapat balasan dari surat ini.” Sepenggal kalimat yang tertulis dicakan Isabella.
Ia menyimpan surat itu dengan melipatnya kecil persegi empat. Akan ia berikan kepada putranya. “Kenapa harus dengan surat Gustaaff berkomunikasi dengannya kenapa tidak langsung bertemu?” guman Isabella, pertanyaan yang wajib dipertanyakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments