“Gustaaff, kemari Ayah ingin mengajarimu cara menunggang kuda, memanah dan juga untuk menjadi pemimpin yang dihormati,” pinta Willem dengan tegas. Saat ini ia akan mengajari hal yang sudah menjadi kebiasaannya. Ia tidak mau dalam hal kepemimpinan anaknya tidak mampu harus lebih dari dirinya.
Gustaaff menurut saja. Jika ia menolak bisa-bisa pipinya menjadi sasaran ayahnya. Ia tidak mau membuat ibunya sedih. Sebagaimana yang dikatakan ibunya untuk tidak melawan kepada ayahnya.
Sekarang ia sampai di hadapan ayahnya.
Willem memandang putranya dengan sorot mata yang tajam. Putranya sangat mirip dengannya. Ketampanan 11 12. Walaupun lebih tampan putranya namun ia tidak akan pernah cemburu dengan itu.
“Perhatian Ayah berkuda.” Willem mulai menunggangi kuda dengan suara yang tegas serta cetakan yang kuat mampu membawanya bergerak cepat. Kuda itu mampu ia kendalikan dengan ketenangan tidak ada hal terburu-buru. Urat-urat tangannya bermunculan menandakan bahwa si penunggang serius untuk berkuda seakan ia berkelahi dengan waktu untuk menunjukkan bahwa ia adalah penguasa bumi dan segala isinya.
Setelah beberapa lama berkuda ia memutuskan untuk selesai. Gustaaff menatap ayahnya dengan sorot mata kekaguman. Ia tahu bahwa apa yang telah dilakukan ayahnya adalah keahliannya. Kadang ia iri dengan ayahnya yang masih perkasa di usia tua. Kadang ia berpikir apakah ia mampu seperti ayahnya atau malah sebaliknya.
“Ayah yakin kamu memperhatikan Ayah, sekarang giliranmu, laksanakan,” ujar Willem. Ia berharap putranya tidak mengecewakannya. Walaupun ini pertama kalinya putranya ia ajari berkuda. Ia tidak akan mau menjelaskan sedetail-detailnya. Biarlah putranya berpikir bagaimana mengendalikan kuda itu. Ia sengaja melakukan itu untuk melihat seberapa cepat proses berpikir Gustaaff untuk melakukan itu.
Gustaaff mulai menaiki kuda. Ia merapalkan doa dalam hatinya untuk diberikan ketenangan juga agar ia tidak terkena masalah jika tidak mampu menunggangi kuda itu.
Gustaaff memegang erat tali panjang yang diikat di hidung kuda. Saat kuda itu membawanya melaju, ia tidak mampu melawan kekuatan kudanya. Alhasil ia terjatuh hingga pelipisnya terluka dan mengeluarkan darah segar.
Willem menggeleng pelan.
Pada saat kedua kalinya sekarang dagunya ikut terluka. Gustaaff berhenti sebentar ia berpikir bagaimana mengendalikan kuda itu. Ia tidak mau Semua wajahnya menjadi sasaran keganasan kuda itu. Akhirnya ia mempunyai cara. Ayahnya tadi mengeluarkan suara ketiga ayahnya dibawa kuda itu bergerak cepat.
Ia bersuara, hingga memang benar kuda itu mampu ia kendalikan juga berkat cetakan yang ia berikan.
Willem yang menyaksikan putranya langsung tepuk tangan memberikan apresiasi setinggi-tingginya. Ia tidak sia-sia meluangkan waktu berharganya untuk putranya.
Gustaaff turun dari punggung kuda. Ia bergerak cepat menghadap ayahnya. Willem mengelus pelan surai Gustaaff lalu menarik pelan hidung putranya. Ia tidak mau secara terang-terangan bahwa putranya melakukan hal terbaik nanti Gustaaff akan cepat merasa puas.
Sebelum ia pergi ia mengucapkan sepenggal kata.
“Cukup untuk menunggangi kuda saat ini. Untuk yang lainnya akan ayah buatkan waktunya.”
Di ruang tamu Willem dan istrinya berpapasan.
“Jangan sekali-kali menghalangi rencana saya untuk membuat putra saya menjadi pemimpin,” tekannya tegas. Ia tidak mau siapapun menggagalkan rencana baik itu orang terdekatnya. Apabila terjadi bersiap-siaplah untuk menerima konsekuensinya.
Isabella tidak mengindahkan perkataan suaminya. Ia terus berjalan menemui Gustaaff. Sesampainya di halaman belakang. Ia melihat putranya sedang menulis surat juga.
Ia langsung ingat bahwa surat putranya kemarin ada padanya. Untung masih disimpan.
Isabella mengulurkan tangannya dengan secarik kertas. Gustaaff kaget bukan kepalang. Bisa-bisanya ia teledor menghilangkan suratnya.
Gustaaff menerima punyanya.
“Van Della siapa Nak?” Isabella bertanya selembut mungkin untuk menghindari masalah.
Gustaaff menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. Ia bingung untuk mengatakan apa.
“Van Della itu sahabat Gustaaff, sekarang dia di Leer, Jerman,” jawabnya dengan jujur.
“Ibu tidak pernah diperkenalkan dengannya,” timpal Isabella. Ia ingin menggoda lebih lama lagi putranya. Sepertinya putranya lagi jatuh hati.
“Gustaaf tidak berani karena dia bukan dari orang seperti kita Bu. Ibu nanti akan marah pada Gustaaff,” lanjutnya. Ia harap Ibunya tidak tersinggung dengan ucapannya.
“Hal apa yang mendasari putra Ibu ini berpendapat seperti itu?”
“Ayah,” ujar Gustaaff. Kini ia menatap kebawah. Ia tidak berani menatap Ibunya.
Setelah mengetahui alasan putranya. Isabella membawa tubuh putranya kedalam dekapannya.
“Ibu mau bertemu dengannya boleh tidak?”
“Boleh, tapi Gustaaff tidak bisa menetapkan waktunya,”
“Baiklah Ibu akan menunggu,” ujar Isabella. Sejujurnya ada rasa keinginan yang memendam untuk bertemu dengan perempuan yang putranya maksud.
Isabella melepasnya dekapan mereka.
“Tadi ayah kemari, untuk apa?” tanyanya pelan.
“Ayah mengajari Gustaaf menunggangi kuda. Ayah tidak melakukan kekerasan fisik. Gustaaff senang akan hal itu,” ucap Gustaaf.
“Bagus kalau begitu, apakah sekarang putra Ibu ini sudah tahu menunggangi kuda?” Isabella bertanya demikian soalnya ia ingin tahu apakah putranya langsung sigap mendapatkan ajaran suaminya.
“Sudah Bu,” jawabnya.
Setelah Isabella memperhatikan baik-baik wajah putranya ada luka kecil di wajah Gustaaff.
“Wajahnya kenapa, Nak?” tanyanya heran.
“Ini Bu. Gustaaff terjatuh dua kali. Tadi Gustaaff tidak langsung bisa mengendalikan kuda itu. Pada saat ketiga kali baru bisa,” jelas Gustaaff.
“Oh begitu, lanjutkan kegiatanmu, Nak,” ujar Isabella. Ia mengelus pelan surai putranya.
Gustaaff kini fokus pada kegiatannya semula. Telah banyak surat yang ia buat. Ia tidak yakin apakah semua surat ini akan sampai kepada Van Della. Sudah lama juga ia tidak tahu kabar perempuan itu. Ia sedikit rindu tentang kebersamaan mereka. Ia ingin tahu bagaimana kabar perempuan itu, rupanya, perawakannya, tutur katanya dan hal lain yang menyangkutnya.
Ia juga bertanya-tanya adakah ia dalam pikiran perempuan itu. Tidakkah perempuan itu merindukannya.
Biar bagaimanapun tidak diingat atau diingat tetap saja tangannya menulis surat.
Ia berharap suatu hari nanti ia sendiri yang menghantarkan surat ini. Setelah ia berpisah dengan Van Della warna kehidupannya mulai berkurang tidak ada lagi temannya untuk bercerita atau membuat cerita. Gustaaff khawatir adakah laki-laki lain yang membuat Van Della jatuh hati, jika ada ia akan segera meninggalkan Van Della biarlah perempuan itu dengan laki-laki pujaannya. Adakah laki-laki lain yang membuatnya terluka, jika ada ia akan menjadi orang pertama membuat luka besar di wajah laki-laki itu.
Jika hal perkataan Gustaaff bukan orang yang puitis namun, perbuatannya akan mampu membuat kaum hawa beroria. Gustaaff bukanlah laki-laki manis dalam perkataan, ia juga bukan orang yang suka berbicara menurutnya saat ini polusi suara kian banyak sudah saatnya mencegahnya dengan tindakan. Bukan sekedar wacana.
Ia juga baru ingat bahwa kemungkinan besar ia dan Van Della tidak akan pernah bersama. Dan penghalang terbesar mereka adalah Willem. Mengingat Willem sangat benci terhadap golongan bawah.
“Bagaimana jika ayah tahu dari orang lain hubungan saya dengan Van Della? Ayah akan sangat kecewa. Ia tidak mengetahui dari saya,” batin Gustaaff. Ia tidak bisa membayangkan hal apa yang akan ayahnya lakukan?
“Gustaaff siapa perempuan yang kamu sayangi?” pertanyaan telak dari Willem yang sejak kapan ada dibelakangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments