Awalan

Masa kecil Gustaaff

Rarakan mega mulai membiru, menyinari Leer, Jerman. Kota dengan objek wisata Schloss Evenburg, tempat lahirnya tokoh terkenal pada zaman Belanda, yaitu Gustaaff Willem Baron Van Imhoff. Anak kecil dengan rambut blonde turunan dari sang ayah serta wajah nan rupawan bak Dewa Apollo mitologi Yunani. 

Berasal dari golongan elite. Tidak kekurangan apapun apalagi harta. Bahkan hingga delapan turunan, beruntung sekarang Gustaaff keturunan keenam. 

Ayahnya seorang penguasa bumi dan segala isinya di negeri Frieslandia Timur, pemimpin yang diktator, Willem Hendrik Baron van Imhoff. Siapa saja harus tunduk dan jangan sekali-kali berani menyimpang dari aturannya jika terjadi, semua akan usai. 

Isabella Sophia Boreel, ibunya. Walaupun Gustaaff secara raga duplikat dari ayahnya namun, jiwanya sama seperti ibunya. Wanita yang selalu mengingatkan bahwa setiap orang harus diperlakukan manusiawi baik itu musuh sendiri atau orang yang berpura-pura baik. 

Masa kecil dan remajanya digarap waktu di kota ini. Ia sama seperti anak-anak pada awamnya, tidak tahu menahu apa itu kekuasaan dan kepemimpinan. Ia masih polos pikiran hanya untuk bersenang-senang saja.

Di kota ini, seorang anak perempuan bersurai hitam menghiasi wajah moleknya, Van Della Leoni, sahabat Gustaaff. Lahir dari status sosial yang berada sangat jauh di bawah Gustaaff. Van Della lahir dari orangtua yang bekerja sebagai pedagang. Walaupun masih kecil ia sudah tahu sedikit apa itu mencari makan. Semuanya didapatkan dari ayah dan ibu yang sering bersama untuk berjualan. Mereka tidak punya toko sendiri hanya beralaskan karpet berbahan kain sebagai tempat berjualan di pinggir jalan. Memang tidak banyak yang membeli namun, berapapun hasilnya tetap bersyukur. 

Awal Gustaaff dan Van Della bertemu ketika ia berjalan sore dikawal dengan dua orang laki-laki dewasa. Ia melihat para pedagang menjajakan buah-buahan. Satu hal yang menarik perhatiannya, penjual wanita yang membawa anak kecil bisa dikatakan seusia dengannya sedang membantu wanita itu membungkus setiap buah dengan kain persegi. 

“Saya mau kesana.” Gustaaff berjalan pelan menuju tujuannya hal itu lantas diikuti oleh kedua pengawal. 

Ia berhenti di depan anak kecil tadi. Ia terdiam sebentar, semua lantas tunduk sembilan puluh derajat. 

Para rakyat miskin itu tahu siapa anak kecil ini. Walaupun ayahnya penguasa di negeri seberang, tetapi rasa hormat terjadi apabila berhadapan langsung dengan golongan paling atas. Sudah kelihatan dari pakaian yang dikenakan Gustaaff dan dua pengawalnya sangat berbeda dengan para pedagang yang hanya menggunakan baju terusan lusuh, kusam dan bolongan kecil di setiap kerah baju. Mereka juga tidak memakai sandal.  Sehari-hari kaki mereka langsung mengenai tanah bisa dipastikan kaki kapalan. 

“Saya mau ini.” Tunjuknya pada salah satu buah, yaitu buah pome. Lantas penjual tersebut langsung membungkus dengan porsi banyak. 

Gustaaf menerimanya. Lalu bertanya,  “Anak Ibu jualan? Tidak sekolah?”

Wanita itu mengangguk pelan. 

“Tuan muda. Waktu untuk keluar rumah selesai. Sekarang waktunya pulang,” pinta salah satu pengawalnya. 

Dari awal perjumpaan mereka, ia jadi tertarik dengan dunia luar. Ia sering berkunjung bahkan mengobrol dengan anak kecil seusianya itu. 

Waktu silih berganti ia dan Van Della beranjak remaja. 

Saat ini mereka berada di pinggir sungai kecil, matahari naik menyinari bumi, embusan angin menggugurkan dedaunan, pepohonan melambai-lambai disertai suara kicauan burung menambah kesan santai dan hangat. 

“Gustaaff nanti jika di masa depan status sosial kita memisahkan kita dan jika kita bertemu kembali apakah kamu tetap mau bersahabat dengan ku?” Van Della bertanya, sejujurnya ia sangat takut menanyakan hal itu, ia sadar bagaimanapun kehidupannya dengan sahabatnya pasti akan terpisah. Ia akan tetap pada status sosialnya dan Gustaaf bisa saja turun, namun menurutnya hal itu mustahil mengingat kekayaan keluarga sahabatnya tiada habisnya. 

Gustaaff berpikir sejenak merangkai kata-kata agar tidak membuat Van Della sakit hati.

“Begini, jika pun nanti kita terpisah bukan berarti ragamu dan semua memori tentangmu akan hilang begitu saja itu artinya semua dalam keadaan baik saat pertemuan kita di masa depan,” ujarnya. 

“Janji?” tanya Van Della lalu menjulurkan jari terkecilnya. Detik-detik berlalu ia tak menimbulkan reaksi. Ia dapat melihat gadis di depannya ini ingin menangis matanya mulai berkaca-kaca. Sebelum butiran air meneteskan ia langsung menautkan jarinya. Tandanya telah terjadi kesepakatan antara mereka. Namun, tidak tahu akankah terjadi pengingkaran janji. 

Selepas membuat janji mereka kembali ke tempat masing-masing. Kini Gustaaff berada di pelukan sang ibu. Tepat diatas ranjang. Sapuan hangat tangan Isabella di surai putranya, mampu membuat Gustaaf terlelap. Ibunya selalu punya cara untuk memberi kenyamanan kepadanya. Ia sangat menyayangi ibunya. Tak pernah ia langgar larangan, maupun aturan yang dibuat untuk mendisiplinkannya. 

Gustaaff sekolah di Schule of Leer. Sekolah para golongan elit. Biaya yang mahal tentu iya, siswa-siswi pintar iya juga. Semua akan didiskualifikasi jika tidak memenuhi dua persyaratan utama. Dengan biaya yang mahal jangan tanya bagaimana fasilitas yang tersedia. Semua terbuat dari bahan-bahan terbaik, kualitas pendidikan baik, mutu para tenaga pendidik baik, namun rata-rata para peserta didik merasa paling diatas menyebabkan kesombongan, menganggap orang yang bukan peserta didik di Schule of Leer mempunyai pemikiran dangkal, hidup hanya mengandalkan uang yang terbatas, dan pekerjaan orang tua tidaklah menghasilkan keuangan yang signifikan setiap waktu. 

Gustaaff tidaklah demikian. Hal tersebut karena ibunya, serta sahabatnya Van Della. Mereka berdua selalu menasehati jangan jadi orang diluar kepribadian tetap menjadi diri sendiri, jangan pernah mencoba hal-hal yang mampu menenggelamkan pada dasar yang paling menakutkan semuanya akan usai bila melangkah pada keburukan. 

Sejujurnya jika berhubungan dengan Van Della, ia belum pernah memperkenalkannya kepada ibunya. Ia takut ibunya tidak terima. Walaupun baik namun, belum tentu semudah kata untuk menerima orang baru. Sahabatnya itu juga tidak pernah meminta untuk dikenalkan kepada keluarga Gustaaff. Ia insecure, takut tidak akan ada yang menerimanya. 

“Sayang, kemari Ibu mau ngomong,” ujar Isabella yang berada di ruang tamu. 

Gustaaf berjalan menuju ibunya.

“Kenapa Ibu?”

“Hari demi hari putra Ibu kian dewasa. Ibu punya pesan yang harus kamu ingat. Nanti dihari tua kamu mau kehidupan putra Ibu baik?” tanya wanita itu sambil mengusap pelan surai putranya. 

“Mau Bu,” jawabnya. 

“Dengar baik-baik jangan pernah berbuat buruk, jangan jauh-jauh jika kamu penjahat jangan harap anakmu akan baik, jika kamu pembohong anakmu juga akan pembohong, jika kamu pencuri, perampok, kriminal anakmu juga akan lahir menyerupai perilaku mu. Ingat, ya Sayang. Ibu mengatakan seperti ini bukan berarti kamu penjahat, pencuri atau lain sebagainya melainkan agar masa tuamu kelak akan senang, anakmu tidak akan menyusahkanmu. Ibu rasa memang waktu ini yang tepat untuk mengatakan ini, jangan sakit hati, ya Sayang,” ucap Isabella. 

Ia tak menanggapi perkataan ibunya melalui perkataan melainkan perbuatan. Ia langsung memeluk ibunya. 

Mereka berdua saling erat berpelukan Isabella menangis, ia bersyukur putranya dekat dengan dirinya. Apabila dekat dengan ayahnya Isabella tidak tahu akan seperti apa putranya saat ini. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!