Semenjak kejadian kemarin baik Gustaaff dan Victorya tidak pernah bertemu padahal satu atap. Mereka berdua masih malu untuk bertemu. Salahkan saja mereka berdua.
Gustaaff merenung di kamarnya. Dia berpikir sudah lama dia tidak mengirimkan surat kepada Van Della. Di kamarnya itu terlihat Gustaaff sedang menulis sesuatu di secarik kertas dengan pena bulu. Pena yang terbuat dari bulu burung yang hidup pada musim semi. Dicelupkannya ujung tangkai yang tidak ada bulunya kedalam tinta lalu digoreskan pada kertas tersebut.
Setiap kata berhasil pemuda itu rangkai menjadi kalimat. Kalimat yang berisi tentang kehidupannya di Batavia dan berisi tentang pertanyaan bagaimana kehidupan Van Della di Leer, Jerman. Gustaaff juga menambahkan bunga kering berukuran kecil di kertas itu.
Setelah surat itu selesai Gustaaff menggulungkan menjadi sebuah gulungan kecil lalu mengikatkan kertas itu ke kaki kanan seekor burung merpati.
Burung merpati itulah kepercayaan Gustaaff. Dulu dia pernah memberikan kepada orang kepercayaannya agar memberi surat kepada Van Della, tetapi ayahnya selalu menggagalkan orang kepercayaannya.
Pemuda itu berharap ada balasan dari suratnya. Burung itu terbang jauh, ada seulas senyuman di wajah Gustaaff. Pemuda itu nampak bahagia. Gustaaff juga berharap Van Della bahagia menerima suratnya dan membaca suratnya.
Di sisi lain Madeleine menarik tangan Victorya dengan kuat. Wanita itu membawa Victorya ke sebuah ruangan bawah tanah. Hanya dia dan gadis itu berada di tempat itu sekarang.
“Dengar baik-baik aku menyuruhmu mendekati Gustaaff agar kamu dinikahi dan setelah itu kamu rebut semua hartanya dan ingat jangan pernah jatuh cinta dengan laki-laki itu karena dia milikku semenjak aku menapakkan kaki di rumah ini dia milikku sampai selama-lamanya!” seru Madeleine dengan nada tinggi.
Cekalan di tangannya pada Victorya semakin mengetat tatkala wanita itu memarahinya.
“Aku tidak pernah jatuh cinta dengannya,” balas Victorya dengan rasa takut. Gadis itu takut Madeleine akan menamparnya, memakinya, dan membunuhnya.
“Tidak jatuh cinta heh, kamu pikir aku tidak seorang perempuan? Aku tahu kamu menyimpan perasaan kepadanya dan jangan harap perasaanmu akan terbalas hanya bertepuk sebelah tangan perasaanmu. Camkan ini baik-baik Gustaaff yang berasal dari golongan elite tidak akan mau mempunyai kekasih sepertimu. Aku hanya aku yang akan menjadi kekasihnya,” jelas Madeleine.
“Berarti Kakak penghianat Kakak menghianati tuan Willem,”
“Memang kenapa kalau aku penghianat? Merasa dirugikan kamu? Hah? Seharusnya kamu sadar diri Victorya siapa yang mau dengan gadis sepertimu. Tubuhmu mungil,” ejek Madeleine.
“Aku ini wanita cantik, tinggi, lihat saja bodyku, paras wajahku yang sangat molek dan sensual ini membuat siapa saja jatuh hati padaku,” sombong Madeleine. “Dan bukan hanya laki-laki, tetapi perempuan. Apakah kamu suka denganku?”
“Hah?” beo Victorya.
“Hei sayang Kakakmu ini sangat cantik tidak menutup kemungkinan kamu juga jatuh hati denganku,”
Sepertinya akibat kecantikan Kak Madeleine dia sedikit gila sekarang. Pikir Victorya.
Sebenarnya aku ingin marah, tetapi apa yang dikatakan Kak Madeleine tentang tubuhku benar. Batin Victorya.
“Lepaskan Kak,” pintanya. “Tangan aku lecet Kak, sakit,” adunya, Victorya sesekali meringis tangannya sangat sakit.
“Tidak akan, ayo aku akan membawamu ke kamarku dan Willem,”
Victorya mencoba melepaskan diri dengan berbagai cara, menggigit tangan Madeleine, menggoyang-goyangkan tangannya, dan berpura-pura memanggil nama Gustaaff dan itu semua berakhir dengan dia mendapat tamparan keras dari sang kakak.
Mereka berdua sampai ditempat tujuan. Madeleine menghempaskan tubuh adiknya ke ranjang besarnya.
Madeleine menyuruh adiknya agar mengganti dress yang dikenakan dengan dress yang diberikannya. Victorya hanya bisa pasrah gadis itu tak mau bersuara nanti dirinya akan mendapat cacian lagi.
Setelah mengganti dress, Madeleine merias wajah adiknya dengan make up yang menyala dan merona. Madeleine membiarkan rambut adiknya terurai panjang.
Victorya memandang dirinya di sebuah cermin kecil.
“Cantik Kak, tetapi ini seperti bukan aku. Aku bukan seperti ini,” adunya.
“Diamlah dan keluar, temui Gustaaff dia akan jatuh cinta padamu setelah ini,” suruhnya, Madeleine mendorong adiknya agar keluar.
Victorya tiba di depan kamar Gustaaff. Jaraknya dan pintu kamar pemuda itu kira-kira tiga meter.
“Bagaimana ini aku mengatakan apa padanya,” risaunya.
“Oh begini saja. Aku akan berpura-pura jatuh dan berteriak,” gumam gadis itu.
“Aduh sakit, tolong siapapun,” teriak Victorya.
Gustaaff yang berada di kamarnya langsung membuka pintu.
“Ada apa?”
“Kamu melihatku sedang apa?” kata Victorya dengan sedikit takut.
“Berbaring di lantai,” kata Gustaaff dengan cuek.
“Ya, seperti yang kamu lihat aku sedang berbaring.”
Victorya bangkit dan pergi.
“Ada apa dengan penampilanmu?” tanya Gustaaff penasaran.
“Ini karya baru, bagaimana hasilnya?”
“Luar biasa,”
“Luar biasa?”
“Luar biasa sangat mencolok dan tidak cocok untukmu,” kata Gustaaff, pemuda itu langsung masuk ke kamarnya.
Kata kakak tadi Gustaaff akan jatuh hati padaku saat penampilanku seperti ini, tetapi apa yang kudapatkan. Batin Victorya.
Victorya menangis di kamarnya hanya karena perkataan Gustaaff tangisnya semakin menjadi. Dia sangat sakit hati, tetapi juga itu bukan pure akibat Gustaaff dia juga bersalah karena berpenampilan lain saat ini.
Victorya menghapus make upnya mengganti dressnya.
Mau pulang. Batin gadis itu.
Madeleine menghampiri Victorya. Tanpa mengetuk pintu wanita itu masuk.
“Kenapa menangis?”
“Gustaaffnya tidak suka Kak, Kakak bilang bakalan suka,” adu Victorya.
“Sebentar, apa yang salah dengan riasanmu. Aku ini perias yang handal,”
“Aku tidak tau, dia mengatakan tidak cocok denganku,” tambah Victorya.
“Ya sudah nikmati saja tangismu, aku pergi,” pamit Madeleine tanpa peduli dengan tangisan adiknya.
“AAAAAAHHH,”
“AHHHHHHHHHHHARGH,” teriak Victorya semakin menjadi-jadi.
“Bodoh-bodoh.” Victorya meluapkan rasa sakitnya kepada dirinya sendiri tidak mungkin gadis itu berani meluapkan amarahnya kepada Kakaknya. Bisa-bisa dia yang akan mendapatkan amarah dari Kakaknya
Gustaaff mendengar suara teriakan Victorya. Gustaaff jadi merasa bersalah atas ucapannya tadi.
Tok, tok, tok
Victorya menghentikan suaranya. Dia langsung membuka pintu.
“Maaf.”
Satu kata yang berhasil Gustaaff katakan setelah melihat mata Victorya sembab dan memerah.
“Kamu baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja Gustaaff.” Tegar Victorya.
“Atas dasar apa kamu mengatakan demikian? Kamu sangat berantakan saat ini,”
“Tidak aku tadi hanya mencoba memainkan sebuah drama di mana seorang putri yang baik ku ibaratkan sebagai diriku didorong oleh seseorang yang mencintaiku,” ucap Victorya.
Bohong semua itu bohong Gustaaff.
“Bukan karena perkataanku tadi?”
“Iya eh maksudku bukan. Perkataanmu tadi benar, bahwa penampilanku yang lalu tidak cocok denganku,” jawab Victorya.
“Jika kamu tidak mau jujur aku tidak memaksa. Maafkan aku. Aku hanya berniat jujur. Aku tahu kamu akan sakit hati daripada aku berpura-pura menyukainya padahal berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Itu lebih menyakitkan bukan?”
“Terima kasih atas kejujuranmu Gustaaff,” kata Victorya.
Walaupun sangat menyakitkan. Ucapnya dalam hati.
“Aku pergi,” pamit pemuda itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments