Seorang Gadis

...Janganlah bimbang akan perasaanmu ketika orang baru datang kepadamu....

Saat ini Gustaaff baru bisa melihat foto yang diberikan oleh Ibunya. Gustaaff tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Terlihat jelas dari reaksi wajahnya yang langsung tersenyum ketika ia berhasil melihat foto itu.

“Van Della,” ucapnya pelan.

Dia sangat manis. Pikirnya.

“Andai kamu tahu Van. Aku ingin sekali bertemu denganmu,”

Gustaaff tidak ingin kehilangan foto itu. Oleh karena itu, ia menyimpan di bawah bantal tidurnya. 

Mungkin ini menjadi salah satu hari baik yang ia punya.

Pemuda itu merasakan tubuhnya sudah lengket oleh keringat. Ia langsung bergegas mandi. Di bawah guyuran air senyum Gustaaff mengembang. Foto perempuan itu masih melekat di memorinya.

Setelah selesai mandi, menggunakan pakaian, dan mengobati luka di wajah dan perutnya ia meninggalkan kamarnya. Ia akan pergi ke dapur.

Perasaan yang semula mulai membaik kini memburuk karena kehadiran sang Ayah di ruang tamu dan seseorang yang dapat dikatakan sebagai gadis.

Kekasihnya yang baru lagi. Batinnya.

“Ini Ayah kenalkan, namanya Victorya de Jongh.”

Gadis itu berdiri lalu menunduk sedikit. 

“Victorya dia putra saya, namanya Gustaaff Willem Baron Van Imhoff."

Gustaaff tak kunjung melihat gadis itu dan memilih untuk melanjutkan langkahnya.

“Ikuti dia,” titah Willem.

Sebenarnya gadis itu sangat takut menemui pemuda tadi. Dia dapat melihat bahwa kehadirannya tidak diindahkan oleh pemuda itu.

Gadis itu hanya diam sambil berdiri menatap Gustaaff yang sedang makan.

“Pergilah,” tegas Gustaaff dengan suara yang kuat.

Gadis itu seketika kaget dan bersiap meluncurkan air matanya. Gustaaff dapat melihat mata orang yang di hadapannya itu berlinang air mata.

“Ada a–,”

Belum selesai Gustaaff berbicara gadis itu langsung berlari. Gustaaff yang melihat itu sedikit merasa kasihan. Pemuda itu langsung mengikuti gadis itu.

Gadis itu berhenti di halaman belakang. Gustaaff dapat mendengar suara isakan tangis.

“Hei, kenapa langsung menangis? Aku hanya ingin bertanya ada apa denganmu,” jelas pemuda itu.

“Maafkan aku,” lirih gadis itu.

“Untuk apa?”

“Ayahmu membawaku ke mari untuk tujuan agar ki–,”

“Aku sudah tahu maksudmu,” potong Gustaaff.

Gustaaff sudah mengerti. Ayahnya membawa seorang gadis untuknya agar dapat melupakan Van Della. Itu yang ada di pikiran Gustaaff sekarang.

“Jadi kamu tinggal di sini?”

Gadis itu menunduk.

Suara perut memecahkan keheningan yang datang melanda.

“Aku rasa kamu lapar, ikutlah bersamaku,” ajak Gustaaff.

Di meja makan Victorya makan dengan lahap, sedangkan Gustaaff sibuk memandangi Victorya.

Victorya, gadis dengan kulit putih dan surai hitam gelap, bertubuh mungil, bibir semerah buah ceri, hidung mancung kecil, dan bola mata hitam pekat menjadi bagian dirinya.

Riasan yang digunakan natural. Tidak ada perhiasan yang digunakannya. 

Apakah dia perempuan baik-baik? Batin Gustaaff.

Victorya merasa bahwa Gustaaff memperhatikannya. 

Apakah Gustaaff akan memukul ku? Pikir gadis itu.

Jantung gadis itu sangat kencang dia takut dipukul.

“Apakah kamu akan memukulku?”

Pertanyaan konyol itu berhasil membuat Gustaaff tersedak.

“Apa alasan untuk pertanyaanmu?”

“Kamu menatapku,” balas Victory gugup.

“Itu hanya perasaanmu,” elak Gustaaff.

Sial dia sangat malu sekarang. 

Willem datang ke dapur. 

“Ajak Victorya keliling bangunan ini,” titah Willem dengan tegas, lalu laki-laki itu meninggalkan orang muda itu.

Gustaaff menemani Victorya keliling. Hal itu tidak lepas dari pandangan para pengawal.

“Kenapa di belakang, sejajarlah denganku,” pinta Gustaaff.

Victorya dengan cepat mensejajarkan dirinya dengan Gustaaff.

Sesekali Gustaaff bertanya dan dijawab oleh Victorya dengan berbicara sambil menunduk. Gadis itu tidak berani menatap mata Gustaaff, dia sangat segan.

“Seharusnya jika lawan bicaramu berbicara denganmu tatap matanya, itu menandakan bahwa kamu menghargai orang itu,” kata Gustaff.

“Aku tidak berani menatap matamu,” ujar Victorya dengan jujur.

Seorang pengawal bertanya. “Apakah gadis itu gadis murahan seperti kekasih baru Tuan besar?”

Victorya semakin menunduk sambil meremas dress ungu yang dia pakai.

Dapat Gustaaff lihat bahwa gadis yang di sampingnya itu tidak nyaman dengan pertanyaan pengawalnya.

“Jaga bicaramu!” Gustaaff mengingatkan orang itu.

Victorya berlari mendahului Gustaaff. Gustaaff pun ikut berlari.

Pengawal yang bertanya tadi hanya diam tertunduk.

“Jangan diambil hati,” ucap Gustaaff.

Victorya menggeleng kecil. “Dia sangat jahat, dia langsung menilaiku tanpa tahu siapa aku,” lirih gadis itu. “Aku ingin ke kamarku,” lanjutnya.

Gustaaff membiarkan gadis itu pergi, tetapi perasaannya mengatakan gadis itu akan mendapatkan hal buruk.

Ketika kaki Victorya berada di tangga kedelapan dia terhuyung ke belakang.

Gustaaff yang berada di belakangnya langsung saja menopang gadis itu dengan kedua tangan yang melilit di pinggang Victorya. Tanpa sadar pandangan mereka berdua terkunci. 

Ada apa dengan jantungku? Batin Victorya.

Seakan sadar Gustaaff langsung memperbaiki posisi mereka.

“Maafkan aku, terima kasih atas pertolonganmu,” ucap Victorya menunduk, gadis itu langsung menuju kamarnya.

Victorya menutup cepat pintu kamarnya. 

Dia sangat tampan, tetapi aku rasa perasaanku bertepuk tangan. Dia tidak mungkin jatuh hati kepada seorang gadis sepertiku ini. Aku bukan gadis yang berasal dari kalangan elite. Dia pasti mencari gadis dengan hiasan tebal menyala, perhiasan yang menghiasi tubuh. Pikir Victorya.

“Lebih baik aku istirahat sekarang,” kata gadis itu.

Gustaaff kembali masuk ke kamarnya. Ia langsung saja mengambil foto Van Della dan memandangi foto itu.

Mengingat tentang foto itu, ia juga langsung teringat dengan surat dari Van Della.

Gustaaff membaca kedua kalinya surat itu.

“Kamu sangat lucu Van Della, menuliskan surat untuk dengan isi terima kasih karena aku masih mengingatmu, ada-ada aja kamu,”

Kapan aku bisa bertemu denganmu Van Della. Batin Gustaaff.

Di ruangan lain, ruangan yang dihuni oleh dua orang berbeda gender.

“Apakah kamu sudah mengenalkan gadis itu kepadanya Sayang?”

“Sudah, mereka kan dekat,” balas Willem.

“Karena kamu sudah mendekatkan mereka apakah kamu ingin sesuatu darimu?”

“Ada,”

“Apa itu Sayang?” tanya Madeleine dengan manja. tangannya telah berada di lengan kanan Willem.

“Ayo makan malam romantis di kamar,”

“Dengan senang hati Sayang,” jawab Madeleine.

Madeleine pergi ke dapur untuk membawa makanan mewah ke kamarnya. Tidak membutuhkan waktu lama Madeleine datang dengan makanan mereka.

Mereka makan romantis diiringi melodi, cahaya lilin, dan aroma khas dari sekuntum bunga hidup.

Mereka berdua saling menyuapi. Minuman wine yang memabukkan mampu membuat mereka melayang.

Suara tawa dan kekehan terdengar nyaring di ruangan itu.

“Ini sangat menyenangkan,” kata Madeleine.

Sesekali wanita itu mencium wajah Willem. Kekasihnya itu juga demikian.

“Aku sangat senang memilikimu,” kata Willem. “Aku tidak menyesal membawamu kesini,”lanjutnya.

“Dengar, ya Sayang. Aku akan selalu membuatmu bahagia dengan caraku,” ujar Madeleine.

“Haha, haha ,ha,” suara tertawa Willem. “Wanita cantik, kekuasaan inilah yang akan selalu menjadi bagian kita Sayang,” kata Willem.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!