Merencanakan

Semua surat telah Gustaaff selesaikan. Ia tidak sabar menerima balasan suratnya. Ia akan meminta kepada salah satu pengawal pribadinya untuk memberikan kepada Van Della. Perempuan itu pasti akan sangat senang.

Sekarang ia akan pergi menemui orang itu. Secara perlahan dan pasti ia dapat memintanya. Di Langkah terakhir semua pengawalnya membungkuk sembilan puluh derajat. 

“Devans de Maecus, saya minta tolong. Antarkan surat ini kepada alamat yang telah saya tuliskan. Jangan sampai lecet, tiada noda, yang menandakan pemilik ini begitu berharga untuk saya. Terima kasih.” Ia segera pergi menemui ibunya. 

Masih seperempat jalan yang masih ia jalani. Ia langsung dicegat ayahnya. 

“Hari ini, saatnya Ayah memberikan cara bagaimana supaya kamu menjadi seorang pemimpin yang dihormati,” ucap Willem tegas. Ia harus mampu membuat keinginannya terwujud. 

“Dengarlah baik-baik. Jika kamu ingin dihormati para bawahanmu maka tundukkan mereka. Berikan mereka konsekuensi yang besar agar kamu mampu menaklukkan mereka. Karena tiada kekuasaan tanpa penghormatan. Dan jangan sekali-kali untuk tunduk kepada mereka. Nanti kamu diinjak-injak harga diri tiada lagi. Jangan sekali-kali membiarkan seorang perempuan memberikan kuasa atas dirimu. Nanti derajatmu dibawahnya. Karena seyogyanya derajat kita selalu paling atas,” terang Willem secara rinci.

“Ayah, dengarkan --”

“Jangan membantah.” Willem memotong perkataan putranya. Ia tidak mau disangkal. Segala keputusan yang ia berikan harus dijalankan. 

“Kenapa tidak ayah saja yang melanjutkan Semuanya?”

“Bukankah sudah saya jelaskan anak muda,” tukasnya dengan amarah. Ingin sekali ia memukul wajah orang di hadapannya namun, tidak jadi mengingat orang ini adalah anak kandungnya. 

Willem memandangi putranya ia berharap putranya menceritakan hal yang seharusnya diketahuinya. Apalagi terkait dengan surat yang sudah ia bakar. Seperti putranya tidak ingin mengatakan sesuatu lantas ia melenggang pergi meninggalkan Gustaaff seorang saja. 

Beberapa menit yang lalu… .

“Berhenti, untuk apa kertas yang digenggamanmu itu?” tanya Willem menatap curiga kepada Devans. 

“Saya disuruh oleh tuan muda. Untuk memberikan kepada seseorang tuan,” jawab Devans. Ia sebenarnya takut surat ini tidak akan sampai. 

Willem merampas surat itu lalu dibakar dihadap pengawal itu. Diinjak-injak hingga menjadi debu. 

“Jika perlakuan saya ini diketahui Gustaaff. Orang pertama yang akan saya musnahkan adalah kamu,” ancamnya. Tidak seorang pun yang berani melawan apalagi melihat sorot mata tajamnya. 

...***...

Pukul 19:50 WIB malam yang sepi mulai terasa. Hanya beberapa orang yang masih berjaga. Bisa ditebak mereka orang yang mempunyai hubungan paling dekat dengan keluarga Gustaaff. 

Gustaaff memberanikan diri untuk mengunjungi ibunya. Yang menurutnya seharian ini tidak ada wanita paruh baya itu keluar kamar. Ia takut terjadi sesuatu yang menyakitkan kepadanya. 

Tok, tok, tok

Suara ketukan pintu belum mampu membuat si pemilik kamar untuk menyahut. 

“Ibu, ini Gustaaff. Boleh masuk Ibu?” Ia heran karena belum ada sahutan. 

Ia mencoba memutar knop pintu. Nyatanya memang tak dikunci. Ia kaget menyaksikan tampilan ibunya yang sudah terlentang tak berdaya. 

Dilihatnya pecahan kaca berserakan dimana-mana. Ia panik. 

“Tidak mungkin Ibu mencoba mengakhiri hidupnya?” lirihnya pelan. 

“Atau jangan-jangan ayah,” pikirnya. Tampaknya, ayahnya memang pelakunya. 

Ia mengangkat ibunya perlahan meletakkan diranjang. Ia obati luka-luka itu sepelan mungkin. Syukurlah ibunya masih bisa bernafas. Dengan telaten semuanya selesai. 

Sejujurnya ia ingin menangis saat ini. 

“Seandainya saya mempunyai seorang saudara laki-laki satu saja. Akan saya buat ayah mempunyai luka-luka ini,”

Untuk saat ini ia belum berani akan tetapi, untuk hari-hari yang akan datang ia tidak jamin dirinya masih tetap diam. 

Ia akan menjaga ibunya. Hingga wanita itu membuka mata. Waktu mulai berlalu. Isabella mengerjapkan matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah putranya. 

Sepersekian sekon tidak ada percakapan diantara mereka. Keheningan terjadi sampai-sampai suara jarum jam berputar terdengar. Akhirnya Gustaaff memecahkan keheningan. 

“Ibu kenapa?”

“Itu tadi Ibu terjatuh. Ibu salah pijak,” jawabnya dengan gugup. 

“Gustaaff rasa Ibu bukan orang yang ceroboh,” timpalnya dengan desakan. 

“Ayahkan?”

“Maafkan Ibu, Nak. Ayah pasti sedang emosi. Kalau orang emosi diganggu pasti akan kena juga. Ibu juga salah. Seharusnya tadi Ibu tidak mengganggunya,” jelas Isabella yang berusaha untuk tidak menangis saat ini. “Dan jangan membalasnya, ya Nak,” pintanya.

“Untuk saat ini Bu,” jawab Gustaaff seadanya. 

Ia pergi begitu saja tanpa meminta penjelasan lebih mendalam dari sang ibu. 

Di kamarnya. Semua benda-benda Gustaaff pecahkan. Diremasnya kuat kaca hingga berhasil mengeluarkan darah segar serta merah pekat dari tangannya. Ia tidak peduli dengan dirinya sekarang. Amarahnya saat ini tengah memuncak. 

“Laki-laki seperti apa dia hingga berani main tangan kepada orang selembut ibu,”

“AAAAAHHHHH!!!”

Sekuat tenaga ia luapkan amarahnya. Tak puas untuk satu kali teriak, ia kembali berteriak lagi. 

“AAAAAHHHHHH!!!!”

Ia diam sejenak,  mengatur deru nafasnya. 

“Sungguh jika ibu berlama-lama dengan orang itu. Ibu akan mati di tangannya. Untuk itu apa yang harus saya lakukan?” protesnya sembari menengadah menatap langit-langit kamarnya. 

Kepalanya terasa pusing akibat teriakannya. Is merasa tidak ada yang berpihak kepadanya kecuali ibu. 

Seandainya dewi Fortuna memberinya keberuntungan untuk kembali mengembalikan waktu pada masa perkenalan ayah dan ibunya akan ia enyahkan ayahnya. Ia tidak peduli biarpun ia tidak ada didunia ini tanpa adanya laki-laki jahat itu. 

Ia tidak dapat lagi menjaga keseimbangan tubuhnya yang membuat ia merosot kebawah. Tenaganya benar-benar terkuras habis. Ibunya yang menderita begitu juga dengan dirinya. 

“Saya harus mengikuti rencana ayah. Agar saya bisa membalikkan keadaan,” lirih Gustaaff sambil mengepalkan tangannya yang mulai membiru itu. 

...***...

Pagi hari, Gustaaff sedang berlatih menggunakan pedang dengan pengajarnya yang tidak lain ayahnya sendiri. 

Prang, prang, prang, 

Suara pedang saling bersahutan. Hingga berhenti tepat saat pedang yang Gustaaff kenakan hampir mengenai wajah ayahnya. Sorot mata mereka bertemu. Ujung pedang mulai mengenai wajah Willem. Hingga Ayahnya mendorongnya dan membalikkan keadaan. 

“Heh, anak muda. Tidak ada niatan untuk membunuh Ayahmu ini kan? Namun, seperti ada. Setelah ibumu saya lukai,” tukasnya meremehkan. 

Tidak perlu waktu lama Gustaaff berhasil keluar dari kukungan ayahnya. Kedua pedang kembali bersahutan menandakan bahwa si pemilik begitu antusias untuk saling mengalahkan. 

Dirasa sudah cukup Willem menghentikan kegiatan mereka. Sebelum pergi ia mengusap pelan surai putranya. Sebagai bentuk apresiasi. 

Gustaaff sempat terdiam ia jadi tidak tega mengkhianati ayahnya. Namun, dengan cepat ia membuang pikiran itu jauh-jauh biar bagaimanapun rencananya akan ia jalankan. Ia masukkan pedangnya kasarung yang terbuat dari kulit harimau itu. Ia simpan baik-baik pada tempatnya yang hanya ia dan ayahnya yang tahu. Karena benda itu adalah pemberian ayahnya untuk membela diri.Jika dirimang-rimangi bisa saja nantinya Gustaaff plin plan terhadap rencananya karena ada juga kebaikan yang didapatkan dari ayahnya. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!