Kacau

Gustaaff terduduk di halaman depan rumahnya dengan keasrian menemani. Ia sedang menunggu kedatangan Devans. Orang itu berjanji padanya untuk memberikan kabar entah kabar baik atau malah sebaliknya. Sebenarnya Gustaaff sedikit curiga kepada orang itu. Tidak mungkin Van Della seperti yang dia katakan. Van Della orang baik. Mana Mungkin secepat itu jarak memisahkan mereka. 

Devans menghadap kepada Gustaaff dan membungkukkan badannya seperti biasanya. 

“Bagaimana?” tanyanya sambil menatap tajam orang itu. “Apakah akan sama lagi jawabannya?” desaknya sambari melangkah lebih dekat kepada orang itu. 

“Be..gini tuan,”

“Jawab, jangan terbata-bata,” Gustaaff memotong perkataan orang itu. Ada yang tidak beres. 

“Tuan besar membakar semua surat yang tuan berikan. Maafkan saya. Saya selalu dicegat saya tidak berani untuk melawan,” jawab Devans. Dia pasrah sekarang apapun yang akan dilakukan tuannya akan diterima. 

Mendengar jawaban Devans. Gustaaff langsung menemui ayahnya. 

“AYAH,” teriaknya keras hingga membuat para penjaga menunduk ketakutan. 

“Ada apa?” tanya Willem santai. Ia tahu penyebab putranya itu marah kepadanya. 

“Untuk apa Ayah membakar surat-surat saya?” tanyanya sembari menarik kerah baju ayahnya. 

“Saya, putra Ayah ini mengatakan saya. Kurang ajar,”

Plak

Satu tamparan berhasil mengenai pipi kanan Gustaaff. “Camkan baik-baik saya yang sudah membuat surat-suratmu hancur. Saya harap tidak peduli amarah yang kamu lakukan untuk saya. Yang penting jangan berani untuk menjalin hubungan dengan perempuan miskin itu,” perintah Willem. 

“Saya yang akan pergi menemuinya,” ujar Gustaaff. “Jangan ada yang berani ikut dengan saya,” ucapnya ketika melihat pengawalnya mengikutinya. 

“Tidak ada seorangpun meninggalkan Batavia demi orang miskin seperti perempuan itu. Tangkap dia kurung dikamarnya,” titah Willem kepada para pengawal. Mereka langsung saja mencegah Gustaaff. Mengukungnya dan menahan tubuh yang memberontak itu. 

“Saya menyesal mempunyai Ayah seperti Anda. Enyahlah,”

Kata terakhir yang diucapkan Gustaaff sebelum dibawa ke kamarnya. Sementara Willem tersenyum puas menatap kemalangan putranya. 

Di kamarnya Gustaaff bersimpuh tepat di depan pintu sambil menunduk. “Nasib-nasib,” ucapnya parau sembari mengambrukkan tubuhnya. 

Willem selalu saja membuat Gustaaff menjadi orang yang berperilaku berbeda dengannya. Selalu saja menghendakkan keinginannya kepada orang lain. Tidak adakah terbesit rasa kasihan dihatinya? Atau memang tidak punya hati? Hingga pada akhirnya ia tertidur didepan pintu. Semoga kali ini ia dapat mengalami hal indah walau hanya mimpi. 

...***...

“Van Della Leoni Tuan,” ujar salah seorang penjaga itu. 

“Kaya atau miskin,” tanya tuannya. 

“Miskin Tuan,” 

“Untuk apa dia menyukai orang itu?” tanyanya kembali ia menganggap orang yang mencintai perempuan itu sungguh bodoh sudahnya miskin mau makan apa coba. 

“Tapi dia cantik Tuan,” ucap penjaga lainnya tiba-tiba. 

Penjaga itu berdiri tegak di hadapan tuannya sembari membicarakan kejadian saat mereka menemui perempuan itu. Saat itu mereka pergi ketempat orang itu. Dapat mereka lihat rumah-rumah yang ada di tempat itu terbuat dari batu-batu kecil sebagai dinding rumah dan kayu sebagai tembok. Banyak pasang mata melihat mereka terheran-heran. Hal itu terjadi karena mereka baru pertama kali kedatangan orang-orang banyak dengan pakaian yang jauh berbeda dengan mereka. Salah satu dari mereka menanyakan siapa Van Della lalu orang-orang itu membawa mereka ke rumah orang yang mereka maksud. 

Betapa terkejutnya mereka. Yang ada dipikiran mereka sebelum mengetahui hal itu adalah perempuan yang dimaksud tuannya kaya. Namun, ini pakaiannya bisa dikatakan layak pakai tapi kusam. Walaupun memang wajahnya cantik serta rambut hitamnya yang berkilau tapikan tidak mungkin ada orang yang mau dengannya. 

Perempuan itu terkejut, kedatangan mereka ke rumahnya mampu menjadi sorotan. Para penjaga hanya mengatakan ingin melihat-lihat rakyat miskin dengan kehidupan mereka. Perempuan itu menjamu mereka dengan buah-buahan yang sebenarnya akan mereka jual namun tidak pantas rasanya jika tamu tidak merasakan hasil panen mereka. Para penjaga sebenarnya ingin menolak namun, mereka iba melihat mata perempuan itu yang penuh harapan agar mereka memakan jamuan itu. Akhirnya mau tidak mau mereka memakan. Ragam buah itu mampu membuat mereka berlama-lama di tempat itu sembari tertawa mendengarkan cerita dari perempuan itu. Mereka merasa kasihan dengan kondisi perekonomian mereka yang paling bawah. 

Setelah mengetahui semua fakta itu mereka kembali pulang.

“Seperti itu Tuan ceritanya,” ucap penjaga itu sembari menghilang dari hadapan Willem. 

“Sudah pergilah,” usirnya sembari memikirkan apa yang akan dibuat untuk perempuan itu.

Gustaaff terbangun dari tidurnya kepalanya terasa pening ia mengurut pelan hingga sedikit baikan. Kini pikirannya langsung tertuju kepada Van Della. Ayahnya benar-benar jahat tidak manusiawi. Ia jadi heran kenapa ibunya mau memilih orang seperti itu. Padahal pada awamnya jika orang baik ya, pasti dipertemukan dengan orang baik juga. Tidak ada yang berbeda pastinya. 

“Bagaimana kedepannya? Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan. Saya tidak punya daya,” lirih Gustaaff sambil mengepalkan tangan yang berurat itu. 

Pintu kamarnya terbuka. Ayahnya  dengan senyuman yang menurut Gustaaff senyuman mengejek. Ayahnya duduk di ranjangnya dan telentang dengan memejamkan matanya. Melihat itu Gustaaff langsung keluar ia biarkan ayahnya seperti orang gila itu. 

Gustaaff mencari keberadaannya ibunya namun tak kunjung dapat yang ia dapatkan hanya surat yang diberikan salah seorang penjaga. Betapa terkejutnya ia membaca surat itu. 

Nak, ibu akan pergi ke suatu tempat nanti akan ibu beritahukan ke tempat apa saat kita bertemu. Seperti ibu tidak akan bersama ayahmu lagi. Ibu tidak bisa terus mendampingi ayahmu. Sifat ayahmu yang kasar kepada ibu tidak mampu ibu tahan lagi. Akan tetapi, tenang saja dia tetap menyayangimu walaupun mungkin caranya diluar nalarmu. 

Dapat dipastikan betapa sedihnya Gustaaff saat ini. Masalah baru kian menyerangnya padahal masalah yang lama belum usai ia selesaikan. 

“Kasihan Tuan Gustaaff,” ujar salah seorang dengan iba. Semua lantas mengangguk. Mereka tahu betapa kerasnya tuan besar mereka kepada putranya. Dimulai dari perkataan hingga tindakan.

“Untung saja Tuan besar tidak punya seorang putri,” ucapnya lagi. Mau itu seorang laki-laki ataupun perempuan tidak ada bedanya dimata tuan besarnya semua diratakan untuk mendapatkan kekerasan seperti halnya kepada istrinya sendiri. 

“Tuan, sebaiknya Tuan kembali ke kamar,” ucap penjaga yang lain. Dia tidak mau tuannya dipandang rendah karena masalah yang dia hadapi. 

“Dikamar saya ada orang gila,” jawab Gustaaff. 

“Tidak mungkin Tuan, penjaga di rumah ini ketat tuan,” sanggah penjaga itu. 

“Kalau tidak percaya pergilah ke kamar saya,” titah Gustaaff. 

Mereka pergi, lalu dengan sigap mereka mengacungkan senjata mereka kepada orang itu yang ternyata orang yang paling mereka takuti. 

“Untuk apa kalian memperlakukan saya seperti ini?” tanya Willem. 

“Begini Tuan, tadi Tuan muda mengatakan ada orang_”p perkataannya tertunda karena salah seorang dari mereka menyenggol kecil tubuhnya. 

“Tidak maksud Tuan muda ada orang yang ingin kami temui,” ucapnya asal-asalan. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!