...Segala yang terjadi dalam hidup ini Tuhan sudah atur semua tinggal tunggu ending dari semuanya....
Di taman belakang rumah mewah bak istana itu, seorang pemuda memandangi pigura kecil, ia melihat foto seorang wanita yang sangat ia cintai. Entah kapan wanita itu akan datang.
Diusapnya secara perlahan dengan jari-jari gemetarnya. Matanya mulai memanas.
Ibu di mana? Kapan pulang bu? Putra ibu menunggu di sini, ibu masih mengingatku kan? Batin pemuda itu.
Tak terasa air matanya mulai mengalir semakin lama meninggalkan jejak di wajahnya.
Aku benci air mata. Batin pemuda itu.
Dia segera menghapus air matanya. Banyak pengawal yang melihat kondisinya yang sangat berantakan itu.
“Aku kasihan melihat Tuan muda,” ucap salah seorang pengawal.
“Sama, aku juga, tetapi kita tidak seharusnya merasa kasihan karena kita yang lebih kasihan dari Tuan muda. Seharusnya kita kasihan kepada diri kita sendiri,” balas pengawal lain.
Semua pengawal mengangguk lesu.
Seorang laki-laki paruh baya datang menghampiri pemuda itu lalu dia merebut pigura itu dan memijak pigura hingga hancur.
“Anak muda lupakan ibumu itu, dia tidak akan kembali ke sini,” ejek laki-laki itu.
“KENAPA ANDA MENGATAKAN SEPERTI ITU?” teriak pemuda itu.
“Kamu mengatakan ‘Anda’ kepada Ayahmu sendiri.”
Bugh, bugh, bugh, bugh
Dia membogem perut lawan bicaranya itu secara bertubi-tubi.
“Kenapa saya mengatakan itu bisa saja wanita itu telah dimangsa binatang, dengar baik-baik jika kamu bersama wanita itu kamu tidak akan mengalami perubahan. Jadi, saya harus mendidikmu dengan kasar,” tegas laki-laki itu, dia meninggalkan pemuda yang tengah terduduk lesu di atas rumput hijau.
“AHHHHHHHHHHH,” teriaknya dengan kencang.
“WHY ME? WHY?” teriaknya lebih kencang.
“GOD YOU KNOW ME, PLEASE HELP ME,”
Seorang pengawal datang menghampirinya. “Sudah Tuan muda, kembalilah ke kamar Tuan, istirahatlah jangan peduli dengan tuan besar, kita semua tahu sifat tuan besar seperti apa, ke kamar lah Tuan Muda,” suruh pengawal itu.
Tanpa sepatah kata pemuda itu meninggalkan pengawalnya.
Pemuda itu telah sampai di kamarnya.
Bugh, bugh, bugh, bugh, bugh
Dia memukul tembok dinding kamarnya. Dia tidak peduli bila kepalan tangannya terluka, dia hanya ingin emosinya terluapkan.
Rasa sakit ini belum apa-apa dibandingkan rasa sakit yang diterima ibu. Batinnya.
Dia butuh pelampiasan sekarang.
Dia segera bergegas pergi menemui para pengawalnya dengan membawa sebuah pedang.
Dia menarik tangan salah satu seorang pengawal.
“Lawan saya berpedang,” pinta pemuda itu.
Mau tak mau pengawal itu melawan Tuan mudanya.
Para pengawal lain turut menyaksikan kegiatan mereka.
Prang, prang, prang
Suara pedang beradu dan saling bersahutan.
“Berhenti Tuan muda,” kata pengawal itu, pedang Tuan mudanya hampir saja mencabut nyawanya.
“Maafkan saya,” sesal pemuda itu, dia lantas pergi dari pandangan para pengawalnya.
Para pengawal itu menatap pemuda itu dengan iba.
Saat ingin masuk ke kamarnya. Suara seseorang menghentikan dirinya.
“Berhenti Gustaaff,” kata orang itu, siapa lagi kalau bukan ayahnya.
Gustaaff mengerutkan dahinya, seakan bertanya siapa wanita di samping ayahnya itu.
“Ini wanita saya yang baru.” Willem memperkenalkan wanitanya itu.
“Saya Madeleine Marvey,” ucap manis wanita itu.
Namun, bagi Gustaaff suara wanita itu sangat menjijikkan.
“Dia putra saya, saya harap kamu mencintai dia, perlu saya akui dia anak yang kurang ajar dan silakan pergi ke kamarmu,” pinta Willem.
“Apakah Anda sudah gila?” kata Gustaaff. Wajahnya sudah memerah, kepalan tangannya sudah terbentuk.
“Ya saya sudah gila. Ingat ini anak muda kesenangan laki-laki ada, yaitu Minum-minum, kartu, dan wanita. Jika kamu belum menikmati yang tiga ini kamu tidak layak disebut sebagai laki-laki,” camkan Willem. “Bukan hal baru jika seorang penguasa memiliki lebih dari satu wanita,” lanjutnya.
Gustaaff merasa hal ini tidak ada gunanya lantas dia masuk ke kamarnya.
Wanita berambut sebahu berwarna blonde, leher yang dihiasi dengan perhiasan dan juga kaki kirinya. Tak lupa juga di menghunakan empat cincin di jari-jarinya. Dua di jari tangan kiri dan dua di jari tangan kanan.
Riasan tebal juga turut berperan menghiasi dirinya, jangan lupakan lipstik merah merona yang menyala di bibir tebal wanita itu.
Anting-anting bulat yang menjuntai-juntai saat ia berjalan. Emas yang digunakannya itu bukan lain pemberian dari sang kekasih.
Dia bagaikan emas berjalan. Wanita itu adalah Madeline Marvey.
Wanita itu menari ke sana ke sini memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sangat menggoda. Suara emas yang dipakainya saling bersahutan kuku-ku panjang berwarna merahnya ikut memperindah gerakannya. Setelah dia merasa puas menari dia keluar kamar.
Betapa beruntungnya dia karena menemukan putra kekasihnya.
“Hi, apa kamu lapar? Ibu akan memasak untukmu,” tawar wanita itu.
“Ibu, Anda mengatakan Ibu, ingat baik-baik sampai kapanpun saya tidak akan menganggap Anda menjadi ibu saya,” tegas Gustaaff.
“Oh kalau kamu tidak mau saya sebagai ibumu, jadikan saya sebagai kekasihmu. Kita bermain di belakang ayahmu,” kata wanita itu dengan sensual, giginya menggigit kecil bibirnya. “Bagaimana?” tanyanya.
Bukannya tertarik Gustaaff malah jijik melihat wanita itu.
“Saya sadar sekarang. Laki-laki yang baik akan menemukan kekasih yang baik, melainkan laki-laki yang jahat akan menemukan kekasih yang jahat,” jelas Gustaaff.
“Jadi, maksud kamu saya ini jahat?”
“Benar, Anda sama seperti laki-laki tua itu,” jawab Gustaaff.
“Ya, saya memang jahat, tetapi kalau buat kamu saya akan baik, saya janji,” ucap Madeline meyakinkan.
“Selera saya bukan wanita menor seperti Anda, maafkan saya karena berbicara kasar kepada Anda, tetapi Anda yang membuat saya berperilaku demikian kepada Anda.” Gustaaff meninggalkan Madeline.
Madeline yang mendengarkan perkataan Gustaaff, membuatnya sangat kesal. Dia mengikuti Gustaaff dan berhenti ketika mendapati Willem dan putranya beradu pedang sekarang.
Di lapangan besar dengan ditonton ratusan pengawal mereka berdua berada ketangguhan.
Gustaaff tak ingin kalah dengan ayahnya, orang yang selalu membuat hati ibunya tersakiti.
Willem juga demikian, dia tak ingin kalah dari putranya. Tidak dapat dipungkiri bahwa di usianya yang melampaui setengah abad masih mampu bersanding melawan putranya. Wajahnya juga tetap charming dan berkharisma.
“SEMANGAT TUAN-TUAN,” sorak sorai dari para pengawal
“SEMANGAT TUAN-TUAN,”
Mereka berdua sangat tampan, saya ingin memiliki mereka berdua. Batin Madeline.
Matanya tidak berhenti memperhatikan kedua laki-laki itu.
Kamu mengatakan agar aku mencintai anakmu kan Sayang? Maka aku akan mencintai dia? Batinnya.
Lengan kanan Willem berhasil Gustaaff kenai. Sementara itu, ujung rambut Gutaaff berhasil Willem hilangkan sedikit.
“Aduh, rambut mereka yang berantakan ingin saya merapikannya,” kata Madeline. Tangannya ingin menyentuh surai ayah dan anak itu.
Tenang ini baru permulaan permainan, permainan selanjutnya akan lebih menantang. Batin seseorang dengan senyum bak devil yang tercipta di wajahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments