Perasaan senang kini dialami Gustaaff. Ia akan menemui Devans de Maecus. Untuk menanyakan mengenai suratnya.
Seperti biasa Devans menunduk sembilan puluh derajat. Dia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa jika tuannya itu bertanya soal surat kemarin. Tidak mungkin mengatakan bahwa surat itu telah dibakar ayahnya. Bisa gawat. Berusaha tenang menarik nafas lalu dikeluarkan walaupun wajahnya mulai memerah menandakan kondisi yang dialaminya saat ini tidak aman. Dia seperti sedang berhadapan dengan musuh. Suasana yang mencekam.
“Bagaimana, apakah ada balasan untuk surat saya?” tanya Gustaaff kepada Devans. Ia semakin mendekat kearah orang itu.
“Sudah Tuan, tetapi perempuan itu tidak ada memberikan surat balasan,” jawabnya tegas.
Devans bisa melihat bahwa tuannya mengalami gundah hati. Raut wajah tuannya langsung berubah. Tidak seperti saat mereka mulai bicara.
Devans harus berbohong demi keselamatan dirinya.
“Jangan khawatir Tuan, saya percaya akan ada waktunya perempuan itu membalas surat tuan,” ucap Devans meyakinkan Gustaaff. Entah mengapa, kalimat itu mampu sedikit menenangkan Gustaaff. Ia merasa masih ada harapan untuk mengetahui kabar dari perempuan itu.
Gustaaff meninggalkan Devans. Ia ingin menenangkan diri.
“Untuk saat ini saya aman,” lirih Devans pelan sembari memegangi dadanya yang berdetak kencang.
Gustaaff menunduk dalam-dalam. Tangannya sibuk menyurati kertas-kertas yang sudah ia persiapkan. Lobus frontal, yang terletak di otak bagian depan, kira-kira sejajar dengan tulang dahi. Lobus ini berfungsi mengendalikan proses berpikirnya untuk menyuratkan emosi yang ada padanya. Surat itu menjadi perpanjangan suara hatinya. Sekarang fokus utamanya untuk menyelesaikan surat. Apapun nanti balasan perempuan itu ia tidak terlalu memperdulikan yang penting suratnya berbalasan.
Seperti biasa surat ini akan diberikan kepada Devans. Devans tetap menerima walaupun dia sudah tahu memang tidak akan pernah ada balasan. Karena dalangnya adalah Willem. Surat itu langsung dia bakar. Dia akan keluar untuk pura-pura menemui perempuan yang tuannya maksud.
“Ikut Ayah,” ucap Willem tiba-tiba.
Gustaaff menurut saja ia tidak mau berdebat untuk saat ini karena suasana hatinya sedang baik. Ia mengikuti ayahnya dari belakang. Jika diperhatikan dengan baik gaya berjalan mereka sama persis. The real like father like son. Ayahnya bercerita tentang keinginan untuk memiliki menantu yang kaya raya serta cantik bak dewi Aphrodite. Gustaaff menggeleng pelan dan menarik nafas pelan. Hal yang paling menusuk hatinya adalah bagian dimana ayahnya berbicara tentang status perempuan yang harus disisinya.
“Ayah akan sangat senang jika perempuan yang mendampingi mu setara denganmu. Sama-sama dari golongan elit. Tidak sangat adil bila putra saya kaya sedangkan perempuannya miskin, apa yang akan dikatakan orang-orang nantinya,” jelas Willem dengan tegas.
“Maaf, Ayah tidak bisa ikut campur untuk urusan asmara Gustaaff,” protesnya. Ia tidak peduli dengan ayahnya ia lantas meninggal laki-laki itu.
Malam mulai kembali. Gustaaff tidur terlelap di ranjangnya.
“Gustaff, kamu tidak rindu denganku. Aku menunggumu disini,” ucap seorang perempuan cantik yang menggenggam setangkai bunga mawar putih.
“Benarkah, selama ini aku mencarimu. Apakah kita bisa bersama?”
“Aku senang kamu menanyakan hal itu namun, maaf seorang laki-laki telah berada dalam hatiku setelah kepergianmu,”
Gustaaff dapat melihat sorot mata yang menyiratkan rasa bersalah yang amat mendalam.
“Siapa laki-laki itu?”
“Suatu hari nanti kamu akan tahu. Bersabarlah,”
“Tidak,” teriak Gustaaff kencang. Hatinya mencelos pada dasar yang paling dalam.
“Mimpi ternyata,” gumamnya.
Ia melanjutkan acara tidurnya yang baru terjeda. Ia harap bunga tidurnya tidak seperti beberapa menit lalu. Benar saja laki-laki itu amat nyenyak tidur.
...***...
Sinar matahari mulai bangun dari tidurnya. Awan-awan mulai mencerah. Gustaaff membuka jendela kamarnya. Ia dapat merasakan embusan angin yang begitu sejuk. Suara kicauan burung turut hadir merasakan kebaikan sang Pencipta itu. Tumbuhan juga demikian. Bergerak saling melambai-lambai. Mereka berlomba-lomba mekar, memberikan aroma manis untuk makhluk hidup yang paling mulia.
“Rasa tenang ini, mengingatkan ku padanya,” lirihnya pelan sembari merenung.
Benar, apa yang sebenarnya Gustaaff rasakan? Terlalu lucu jika hal ini mampu membuatnya Deja Vu. Apa mungkin Gustaaff sudah jatuh hati pada perempuan itu? Itu bisa saja terjadi jika dilihat dari effortnya untuk perempuan itu.
“Sepertinya aku sedang dilanda mabuk cinta sekarang. Bagaimana ini apakah aku harus menemuinya? Harus juga mengungkapkan isi hati? Aku tidak bisa membayangkan hal itu mengingat aku tidak buka tipe laki-laki yang mempunyai love language word of information,” batinnya.
Gustaaff meminum segelas air putih, lalu meletakkan gelasnya. Ia merebahkan tubuhnya di ranjangnya. Ia memejamkan mata sejenak. Ranjangnya mampu membuat Gustaaff merasa nyaman dan sedikit menenangkan hatinya. Padahal ia baru bangun nyatanya kenyamanan ranjangnya tidak dapat ia tolak.
Tok, tok, tok
Gustaaff beranjak cepat. Ternyata adalah perempuan yang sangat ia cintai di kosmos ini.
“Ada apa Bu?” tanyanya dengan suara deep voice, akibat baru bangun tidur.
“Ibu ingin memasak, Nak. Mau membantu Ibu?” tanya Isabella antusias. Ia harap putranya mau membantunya. Ia akan memperkenalkan dunia dapur kepadanya. Dapur bukanlah hanya bagian perempuan. Semuanya sudah setara sejak ada kesetaraan gender.
“Gustaaff mandi dulu, ya Bu. Sebentar saja,”
“Baik, Ibu tunggu di dapur,”
Tidak butuh waktu lama Gustaaff bergabung dengan Ibunya. Ibunya mengajarkan memasak. Lalu menasehati bahwa ia juga harus di dapur agar kelak jika istri sakit atau dalam hal yang tidak sempat membuatkan makanan maka ia dapat melakukannya.
“Dengar, ya Nak. Ibu harap perempuan yang mendampingimu kelak perempuan yang sederhana, tidak perlu kaya, Nak. Yang penting dia mencintai dan kamu juga demikian. Harta dan kepunyaan yang ada akan hilang sembari kita makin tua,” peringat Isabella. Ia harus mengatakan ini karena pasti suaminya akan melakukan tindakan kebalikan dari dirinya.
Gustaaff menangguk. Ia paham betul Ibunya mengharapkan yang terbaik untuknya berbeda dengan ayahnya. Gustaaff juga berpikir akan seperti apa perempuannya nanti. Apakah sama dengan ibunya? Jika itu terjadi ia akan memberikan yang terbaik untuk Batavia. Jika malah sebaliknya ia pastikan ia tidak akan segan untuk memberikan yang terburuk bagi Batavia.
Karena semesta selalu merasakan kehadiran orang-orang yang selalu memberi kejutan. Apa itu baik buruknya tergantung pada kejadian yang dialami penghuni semesta ini. Demikian juga Gustaaff hal yang dilakukan berasal dari hal yang ia alami.
Mereka telah selesai acara memasak. Kini keduanya berdoa bersama lalu menyantap lahap masakan mereka.Dan sesekali mereka tertawa.Ini adalah hal bahagia bagi Gustaaff ia bersyukur masih diberikan kesempatan untuk menikmati senyuman ibunya. Ia tidak jamin mampu menggenggam dunia untuk selalu bersama ibunya.
Bagi Isabella kebersamaannya dengan putra adalah hal yang akan ia tunggu di waktu berikutnya. Ia semakin tua putranya semakin dewasa. Sejujurnya ia belum siap jika Gustaaff memiliki seseorang yang dapat memberikan cinta kasih. Sebagai seorang ibu ia tentunya akan merasa kesepian tanpa kehadiran anaknya lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments