Serasa sesak dada Rengga ketika mendengar perkataan Shania ini. Dia menggeleng lemah, bahkan wajahnya langsung memucat. Tangannya dingin, dan entah kenapa dia kesulitan untuk bernafas.
"Pisah?" gumamnya.
"Ya, pisah. Untuk apa terus bersama jika kita hanya seperti ini. Shania pernah bermimpi untuk menikah satu kali seumur hidup, tapi bukan juga dengan pernikahan seperti ini yang Shania harapkan," ungkap Shania. Dia juga ikut menangis menahan sesak di hati.
Perempuan mana yang ingin pisah dengan suaminya, apalagi ada anak yang masih membutuhkan orang tua yang lengkap. Tapi terus bertahan dan menderita setiap hari juga bukan pilihan yang baik.
"Sha, jangan," pinta Rengga. Suaranya terdengar bergetar.
"Untuk apa lagi Mas? Kita bersama tapi kita seperti orang asing! Kita suami istri tapi kita hanya sendiri-sendiri! Apa begini yang namanya rumah tangga? Lihat, tidurpun Mas tidak ingin satu ranjang dengan Shania kan? Apa artinya kita bersama ha!" Shania mulai emosi, dia bahkan langsung menampar lengan Rengga dengan kuat karena begitu emosinya melihat pria yang tidak peka ini.
Rengga menggeleng, dia langsung meraih tubuh Shania dan memeluknya dengan erat.
"Lepas!" teriak Shania.
"Tidak! Aku mohon jangan minta pisah Sha! Aku mohon jangan!" Rengga masih terus memeluk Shania dengan erat meski gadis itu terus memberontak dan memukul-mukul kuat tubuhnya.
"Jangan egois, Mas! kenapa jahat sekali ha! Shania tidak punya siapapun lagi di dunia ini kecuali kamu. Tapi mas buat Shania seperti hidup seorang diri. Shania lelah Mas, Shania lelah!" Shania terus menangis dalam pelukan Rengga, bahkan kini lelaki itu juga ikut menangis dan menggeleng kuat.
Hatinya sakit mendengar semua perkataan Shania. Apalagi dengan Isak tangis gadis ini, rasanya begitu pilu dan terasa mencabik-cabik hatinya.
"Maafkan aku, aku mohon. Tolong beri kesempatan sekali lagi, aku mohon," pinta Rengga.
Shania mendorong dada Rengga dengan kuat, dia memalingkan wajahnya yang basah ke arah lain.
"Percuma ada kesempatan kedua jika cinta mas tidak pernah ada untuk Shania."
"Shania," Rengga ingin kembali meraih tangan Shania, tapi lagi-lagi gadis itu memberontak dan menghempaskan tangan Rengga dengan kasar.
"Jika Mas tidak ingin menceraikan Shania, biar Shania yang mengajukan surat perceraian kita," ucapnya yang langsung berdiri dan ingin keluar dari kamar itu.
Namun langkah kakinya langsung terhenti ketika Rengga dengan cepat melompat dan berlutut di hadapannya. Shania terkejut, dia memandang Rengga dengan aneh, tapi air mata itu tetap tidak berhenti menetes.
"Mas!"
"Aku mohon Shania, tolong, sekali ini saja. Sekali ini biarkan aku yang berjuang. Aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kali, aku mohon," pinta Rengga.
Shania menggeleng. "Kehilangan Shania bukan sesuatu yang berat, cinta di hati Mas nggak ada untuk Shania kan?"
"Shania tolong, jika kamu pergi, bagaimana dengan Zira?" Rengga mendongak, memandang Shania dengan wajahnya yang basah dan memelas.
Tapi Rengga tidak tahu jika perkataannya itu malah membuat Shania semakin kesal dan kuat pada pendiriannya. Dia hanya berharap satu kata dari lelaki ini. Setidaknya perkataan cinta agar Shania bisa tetap bertahan dan membuka hati kembali. Tapi kenapa malah Zira? Kenapa dia malah memikirkan tentang Zira? Apa kehadirannya memang tidak penting.
"Awas Mas! Tidak pantas Mas merendahkan diri seperti ini. Shania sudah lelah, dan untuk masalah Zira, Shania bisa datang kapan saja jika dia rindu."
"Shania tolong,"
"Mas awas!" bentak Shania tanpa sadar.
Rengga tetap menggeleng. "Tidak aku mohon, berikan kesempatan kedua untukku. Aku tidak ingin berpisah dari kamu," ucap Rengga kembali.
"Kenapa Mas egois!"
"Shania, kamu boleh marah, kamu boleh mendiamkan aku sampai kapanpun kamu. Tapi tolong, tolong jangan minta pisah dariku. Aku tidak bisa kehilangan lagi Sha, aku mohon," entah yang keberapa kali Rengga memohon. Dia benar-benar tidak ingin berpisah. Kata perpisahan itu masih sangat menyakitkan untuk dia terima.
Shania mengusap wajahnya dengan kasar, dia terisak dan langsung memalingkan wajahnya dari Rengga. Karena sungguh, melihat Rengga yang menyedihkan seperti ini hatinya memang tidak kuat. Rengga yang biasa angkuh, dingin dan acuh, kini memelas dan memohon untuk tidak meninggalkannya.
"Keluar, atau Shania yang pergi," ujar Shania tanpa ingin memandang wajah suaminya.
"Sha," Rengga masih mencoba untuk memohon.
"Keluar Mas!" seru Shania kembali.
Rengga tertunduk sejenak, mencoba untuk menenangkan hati yang benar-benar kalut. Hingga akhirnya dia mengangguk pelan dan mulai beranjak dari atas lantai.
Memandang wajah Shania yang sama sekali tidak ingin melihat kearahnya.
"Sha, maafkan aku. Aku tahu kesalahanku begitu banyak. Tidak apa-apa kamu marah, tidak apa-apa kamu lelah dan jenuh. Tapi aku bersungguh-sungguh untuk meminta kesempatan kedua ini, Sha. Aku memang tidak tahu bagaimana perasaanku, tapi aku ... sangat tidak ingin kehilangan lagi."
Rengga memandang Shania dengan penuh perasaan, tapi wajah datar Shania membuat hati Rengga benar-benar sakit.
"Aku mohon untuk tetap bertahan ya, aku berjanji akan membuktikan keseriusanku padamu,"
"Shania tidak butuh itu, Mas."
Rengga tertegun. Hatinya semakin sakit.
"Keluar, Shania ingin sendiri," ujar Shania yang langsung kembali berbalik dan kembali duduk di ranjangnya.
Rengga tertunduk sedih, untuk yang terakhir dia memandang Shania. Dan setelah itu dia langsung keluar dari kamar itu. Meninggalkan Shania yang hanya bisa menangis dalam kesendiriannya.
Sedangkan Rengga, jatuh terduduk di atas lantai dan tersandar pada badan sofa. Tangannya langsung meraba dadanya yang terasa sesak, wajahnya semakin pucat dan tidak lama kemudian, darah keluar dari hidungnya.
"Uh, Shania," gumam Rangga seorang diri.
Zira yang tidur di sampingnya nampak menggeliat, dan itu membuat Rengga terdiam sembari menahan rasa sakit yang entah kenapa tiba-tiba datang dan membuat dia merasa sesak dengan kepala yang juga berdenyut.
Kehilangan seseorang itu begitu sakit, dan rasa sakit itu sebenarnya masih terasa sampai saat ini. Dan sekarang, Shania yang ingin meminta pisah kenapa semakin membuat Rengga tidak menentu. Rasa sakit itu kembali muncul, bahkan terasa begitu sakit.
Dia terkulai di atas tempat tidur Zira yang memang dia bawa keluar. Bibirnya tersenyum getir memandang putri kecilnya ini. Tangannya mengusap cairan yang terus keluar dari hidung sambil berbisik pilu, "Bantu ayah yakinkan bunda ya, nak. Maaf kalau selama ini ayah belum bisa membahagiakan bunda kamu."
Lagi dan lagi, malam yang panjang harus Rengga dan Shania lewati. Tapi seperti perkataan Rengga jika dia akan berjuang untuk mempertahankan rumah tangganya bersama Shania.
Pagi-pagi sekali, ketika Shania terbangun dan ingin melihat Zira dia dikejutkan dengan Rengga yang ternyata sudah bangun dan sedang memasak di dapur.
Mata Shania sembab karena dia tidak ada tidur dengan lelap malam tadi. Tapi mata Rengga juga tidak kalah sembab, bahkan wajahnya terlihat pucat saat Shania menghampiri mereka di dapur.
"Nda!" Zira langsung berteriak senang melihat Shania yang datang menghampirinya.
Karena kekesalan hatinya, Shania malah mengabaikan gadis kecil ini sejak semalam.
"Sayang, bunda kangen," dia langsung menciumi wajah Zira dengan lembut.
"Sarapan Zira sudah ada, dia bangun jam empat tadi. Sarapan kamu juga sudah ada, nanti makan sama Zira ya," ujar Rengga sambil meletakkan sepiring roti bakar untuk Shania dan juga segelas susu di atas meja.
"Saya ada meeting pagi ini. Baik-baik di rumah, ya. Saya pergi dulu," pamit Rengga.
Shania terdiam, apalagi ketika Rengga tersenyum sambil mengusap pucuk kepalanya dengan lembut.
Bukan hanya perlakuan lelaki itu yang membuat Shania heran, tapi juga wajah Rengga yang sangat pucat.
Ada apa dengannya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Deswita
🙏🤭
2024-11-28
0
@Tie
rengga mati aja nyusul rania biar shania bs sm galang 🤭
2024-02-14
3
Dewie Angella Wahyudie
Rengga sakit ya thor....??? duhh mungkin gak kalo shania akhirnya kmblai sama galang?? tapi kasihan sbnrnya sama rengga, tapi salah sendiri ehois, jadi jangan salahkan shania kalo shania lelah, terus pilih menyerah, syapa coba yang tahan diabaikan berthun" pula.
2024-01-06
3