Pagi ini Shania terlihat diam dan tidak banyak bicara seperti biasa. Bahkan dengan Zira pun hanya sekedarnya saja, dia memang masih bisa tersenyum dan menimang bayi mungil mereka tapi pagi ini terlihat ada yang berbeda dari Shania.
Rengga yang masih menikmati kopi dan roti bakarnya memandang ke arah Shania yang sedang membuat susu Zira. Wajah gadis itu sembab, bahkan matanya terlihat bengkak.
Pagi-pagi sekali Shania sudah bangun, seperti biasa dia akan membersihkan diri dan mengambil Zira dari ranjang Rengga. Jika biasanya dia membangunkan Rengga, tapi hari ini tidak.
Jika biasanya ada sapaan selamat pagi dan senyum manisnya, sekarang yang Rengga dapatkan hanya wajah datar Shania.
Rengga beranjak, dia memandang Shania yang sedang memberi Zira susu. Biasanya gadis ini akan cekatan mengikuti Rengga yang akan berangkat bekerja. Tapi, kenapa saat ini dia hanya diam?
Apa ada sesuatu? Batin Rengga. Dia jadi bingung sekarang. Karena melihat Shania yang tidak ada pergerakan, kaki Rengga langsung mendekat ke arah gadis itu. Tidak, tapi Rengga berjalan ke arah Zira, putrinya.
"Ayah berangkat dulu ya, sayang. Jangan nakal di rumah," Pria itu mengusap wajah Zira dan mengecup pipi gembul putrinya dengan gemas.
"Yah, au pegi?" suara lucu Zira menjawab ucapan Rengga, membuat pria itu tersenyum dan mengangguk pelan.
"Iya, sayang. Ayah mau kerja dulu biar bisa beli susu sama mainan untuk Zira, oke,"
"Da .. Da .. Yah!" tangan gadis kecil itu melambai, dan sangat menggemaskan.
Rengga tersenyum dan mengusap gemas kepala putrinya, namun senyumnya langsung luntur saat melihat Shania hanya diam dengan wajah datar. Bahkan ketika Rengga memandang ke arahnya, gadis itu malah memalingkan muka.
"Apa ada sesuatu?" tanya Rengga. Dia sudah tidak tahan lagi untuk tidak bertanya. Terbiasa dengan sikap Shania yang cerewet dan banyak bicara, tentu membuat dia merasa aneh pagi ini.
Shania menggeleng pelan. "Tidak ada, Mas," jawabnya.
Rengga hanya mengangguk. "Aku pergi, titip putriku."
Shania tersenyum getir. "Ya, Shania pasti akan jaga putri Mas dengan baik. Tenang saja," jawabnya.
Tentu saja jawaban Shania membuat Rengga tertegun. Dia memandang Shania, tapi lagi-lagi gadis itu malah memalingkan diri dan berpura-pura merapikan mainan Zira yang berserakan di lantai.
Tidak ada yang bisa Rengga katakan meski seribu pertanyaan terbesit di hatinya. Tapi karena sikapnya yang memang acuh dan sedikit gengsi, Rengga tidak banyak lagi bertanya. Dia hanya berpikir jika gadis itu sedang lelah saat ini.
"Aku pergi," pamit Rengga.
Shania mengangguk, tanpa mengatakan apapun dia hanya meraih tangan Rengga dan dia cium seperti biasa. Tapi kali ini, tanpa mengatakan apapun lagi dan tentunya tanpa senyuman.
Rengga hanya menghela nafas, apa yang dia harapkan? Bukankah selama ini dia selalu merasa aneh dan masih belum menerima? Lantas kenapa sikap Shania pagi ini sedikit mengusik hatinya?
Bahkan bukan hanya pagi ini saja, tapi sampai beberapa hari kemudian sikap Shania juga berubah drastis. Istrinya itu tidak lagi banyak bicara, tidak ada lagi keluh kesah yang dia ceritakan. Tidak ada lagi senyum hangat yang menyambutnya pulang.
Sikap Shania berubah dingin. Dan itu membuat Rengga merasa aneh.
Hari ini Rengga pulang cepat, karena memang hari Sabtu pekerjaan juga tidak terlalu banyak. Dia memarkirkan mobil di garasi dan langsung berjalan menuju rumah. Membuka rumah seperti biasa tanpa ingin mengetuk pintu dulu.
Di tangannya membawa sesuatu. Boneka kecil yang dia beli di toko sebelum pulang tadi.
"Zira!" Rengga berseru memanggil putrinya kecilnya.
Lagi-lagi dia menghela nafas saat tidak melihat Shania yang menyambutnya pulang. Biasanya gadis itu pasti berlari kecil membawa Zira ke arahnya. Tapi beberapa hari ini Shania berubah asing.
"Zira ayah pulang, nak!" seru Rengga kembali.
Tidak ada suara apapun, dia mengernyit bingung. Tujuan utama yang ingin dia datangi adalah kamar mereka.
Ceklek
Ketika pintu terbuka, Rengga langsung tertegun ketika melihat Shania bergelung dalam selimut sambil mengayun Zira yang terbaring di dalam ayunan. Putri kecilnya itu tertidur dengan botol susu yang masih dia pegang rapat.
"Kamu kenapa?" tanya Rengga.
Shania menoleh, dan bisa Rengga lihat jika wajah istrinya itu sangat pucat.
"Kamu sakit?" Rengga langsung mendekat ke arah Shania sembari meletakkan tas dan juga mainan Zira di atas meja.
Shania tidak menjawab, dia hanya menjauh dari ayunan Zira dan tersandar lemas di pinggiran ranjangnya.
"Aku akan antar ke rumah sakit?" tawar Rengga.
"Nggak usah, Mas," jawab Shania. Suaranya terdengar lemah. Dia merasa sangat pusing dan juga demam sekarang.
"Nanti kamu makin demam, Sha. Wajah kamu pucat banget," ucap Rengga.
Shania tersenyum tipis, "Sejak kapan Mas peduli seperti ini?"
Deg
Rengga mematung.
"Shania udah biasa sendiri, nanti kalau nggak kuat bisa minta tolong Bayu jemput," ucapnya yang langsung beranjak dan berjalan keluar. Namun, ketika sudah tiba di ambang pintu, dia kembali menoleh pada Rengga.
"Shania mau tidur di kamar sebelah, untuk malam ini tolong jaga Zira ya, kalau nggak sanggup Mas bisa bawa Zira ke rumah Mama," ujarnya. "Oh ya, satu lagi. Shania nggak masak, kalau Mas lapar Mas bisa pesan makanan."
Setelah mengatakan hal itu, Shania langsung berlalu dan menutup pintu kamar itu. Meninggalkan Rengga yang masih terpaku di tempatnya. Dia duduk dengan helaan nafas panjang.
Perkataan Shania membuat hatinya kembali tidak menentu.
Terbiasa sendiri? Kenapa kata-kata itu terasa mengiris hati?
..
Shania terbaring dengan tubuh yang sedikit gemetaran dan menggigil. Demamnya semakin tinggi, bahkan keringat dingin sudah mulai mengalir.
Rasanya untuk kemanapun sudah tidak sanggup lagi. Hanya air mata yang menetes di wajahnya. Jika sudah seperti ini, dia merasa selalu sendiri. Tidak ada tempat sandaran dan tidak ada tempat mengadu.
Kenapa sesakit ini hidup dalam ikatan pernikahan tanpa cinta? Apa jika dia menikah dengan Galang hidupnya tidak akan seperti ini?
'Galang' gumam Shania yang kembali mengingat lelaki itu.
Pintu terbuka, Rengga masuk ke dalam dengan segelas air putih dan obat di tangannya. Hari sudah larut tapi dia sama sekali tidak bisa tidur. Sikap Shania membuat hati Rengga merasa aneh.
Apalagi malam ini, wajah pucat Shania semakin membuat dia tidak menentu hingga akhirnya dia memutuskan untuk melihat Shania.
Benar saja ketika dia masuk ke dalam kamar tamu, Shania bergelung dalam selimut dengan tubuh yang menggigil.
Rengga duduk di samping ranjangnya, dan langsung meraba dahi Shania.
"Panas sekali," gumamnya. Tanpa berkata apapun, dia langsung ke kamar mandi dan mengambil air dingin untuk mengompres dahi Shania.
"Sha, kita ke rumah sakit ya," ajak Rengga sambil mengompres dahi Shania.
Gadis itu tidak lagi menjawab, dia hanya diam dan menggigil dengan keringat dingin yang terus mengalir.
"Sha," Rengga mulai cemas. Apalagi saat Shania semakin menggigil dan bergumam-gumam kecil. Panasnya semakin tinggi hingga membuat Shania terus mengigau.
Rengga berdecak, dia ingin beranjak untuk menyiapkan mobil. Tapi tiba-tiba ...
"Galang"
Deg
Rengga menoleh, memandang Shania dengan dahi yang mengkerut.
'Siapa tadi yang dia sebut? Galang?'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Deswita
💪🥺
2024-11-28
0
sherly
kasiannya jd shania .. dah dia anggap pembantu dan Bebysister
2024-04-25
1
Fi Fin
lepas aja Rengga dan balik ke Galang
2024-04-24
2