Sudah dua hari Shania di rawat di rumah sakit, dan hari ini dia sudah bisa pulang ke rumah. Bu Maryam dan Bayu yang mengantar Shania pulang. Sebab Rengga ada meeting penting siang ini. Sebenarnya Bayu bisa menggantikan Rengga, tapi entah kenapa adik ipar Shania ini menolak dan beralasan ingin mengambil cuti.
Padahal sekarang, dia sedang bersantai di rumah Shania dan bermain bersama Zira.
"Jangan lelah-lelah dulu ya, Sha. Nanti Bu Ijah datang lagi kan untuk beresin rumah?" tanya Bu Maryam yang baru saja selesai membuatkan susu untuk Zira.
"Iya, Ma. Mungkin agak sorean," jawab Shania. Dia meraih botol susu Zira dan memberikannya pada Bayu.
"Yasudah, Mama mau masak dulu untuk makan malam kalian. Kamu Mama ajak nginap di rumah sampai sehat gak mau,"
"Shania kan udah sehat, Ma. Nanti kalau gak enak badan lagi, Shania kasih kabar Mama kok," Shania memandang ibu mertuanya dengan senyum lembut.
"Kasih kabar kalau udah di rumah sakit," gerutunya.
Shania hanya tertawa masam saja mendengar itu. Bu Maryam memang sedikit cerewet, tapi beruntungnya Shania, mertuanya itu sangat baik dan peduli. Bahkan dia yang selalu menguatkan Shania untuk bisa terus merawat Zira.
Ya, Zira. Mungkin jika tidak ada gadis kecil ini Shania tidak akan pernah merasakan kasih sayang seorang ibu mertua. Dan mungkin juga jika tidak ada Zira, Shania tidak akan merasakan rasa sedih selama dua tahun di abaikan oleh Rengga.
Hidup bersama satu atap, tapi tidak pernah mendapatkan kasih sayangnya. Menyedihkan bukan. Rengga tidak kasar, tapi sikapnya yang dingin dan acuh itu cukup membuat Shania bersedih dan lelah.
"Sha,"
Suara Bayu membuat Shania sedikit terkejut. Dia langsung menoleh ke arah adik iparnya itu sambil sesekali melirik ke arah Zira yang tengah bermain dengan mainannya.
"Gimana Mas Rengga, ada perubahan juga gak?" tanyanya.
Shania menggeleng pelan.
"Masak sih gak ada, kalian tidur satu kamar kan?" tanyanya lagi. Bahkan dia sampai mendekatkan diri pada Shania karena sebegitu ingin tahunya dia tentang kehidupan rumah tangga kakaknya.
Shania menghela nafas panjang dan tidak lama kemudian dia mengangguk pelan. "Tidur satu kamar kan bukan berarti tidur satu ranjang."
"Apa!" Wajah Bayu langsung terperangah mendengar itu. "Jadi selama ini kalian belum pernah begituan?"
Shania berdecak kesal. "Anak kecil kenapa nanyak begitu sih."
"Anak kecil mbahmu, bahkan aku lebih tua dari kamu ya," sahut Bayu kesal tapi itu cukup mampu membuat Shania tertawa lucu.
"Seriusan belum pernah begituan?"
Shania menggeleng pelan dengan senyum getir. Jangankan begituan untuk menyentuh pun hanya sekedar cium tangan ketika lelaki itu akan berangkat kerja.
"Ish dasar Rengga bodoh!" umpatnya pada kakaknya sendiri.
"Dia bukan bodoh, dia cuma nggak bisa nerima aku jadi istrinya," sahut Shania.
"Ya itu tadi namanya bodoh, Sha. Ada istri secantik ini malah diangguri. Kenapa susah banget sih move on-nya. Apa aku suruh aja dia tidur di kuburan mbak Rania sana," gerutu Bayu begitu kesal.
Plak
Shania langsung menampar lengan Bayu dengan kesal. "Sembarangan aja kalau ngomong."
"Kesal aku, Sha. Udah dua tahun, bahkan udah tinggal di rumah sendiri juga masih belum bisa Nerima. Sebenarnya otaknya itu terbuat dari apa ya?"
"Gak tahu, otak udang mungkin," sahut Shania tanpa sadar.
Bayu langsung terbahak mendengar itu. "Kalau nggak tahan, jangan ditahanin deh, Sha. Lama-lama kasihan aku lihat kamu. Mas Rengga memang gak punya pikiran. Kalau kehilangan lagi, baru tahu rasa dia."
Shania menghela nafas kembali, terasa berat dan sesak. "Aku gak bisa pisah sama Zira. Dia udah kayak anak aku sendiri. Belum tentu yang gantiin aku nanti bisa sayang sama dia," Shania berucap lirih, sambil memandang ke arah Zira dengan sendu.
Bayu juga ikut bersedih mendengar itu. "Sebenarnya iya, tapi aku sebagai adiknya juga ngerasa nggak enak sama kamu. Kamu udah ngurus Mas Rengga dan Zira. Tapi yang kamu dapetin malah seperti ini."
"Gimana lagi, aku cuma pasrah aja. Tapi kalau suatu saat aku gak tahan orang pertama yang aku beritahu pasti kamu."
Bayu langsung tersenyum simpul dan mengangguk mendengar itu. "Kamu gadis yang kuat, aku percaya itu. Apapun pilihanmu, aku akan selalu dukung," ucap Bayu.
Sejak dulu, bahkan sejak Rania masih hidup, Bayu dan Shania sudah dekat. Mereka sudah seperti teman dan sahabat yang selalu berbagi cerita. Apalagi setelah Shania menikah dengan Rengga, Bayu adalah tempatnya berkeluh kesal.
"Eh, Sha." Tiba-tiba Bayu mengingat tentang sesuatu.
"Apa?" tanya Shania sambil mendekatkan mainan ke arah Zira.
"Beberapa waktu lalu ada laki-laki yang datang ke rumah."
Ucapan Bayu membuat Shania tertegun, dia langsung memandang Bayu dengan mata yang mengerjap pelan.
"Dia nyariin kamu, katanya teman lama yang baru pulang dari Amerika. Tapi, setelah aku kasih tahu kalau kamu udah nikah, dia kayak terkejut banget," ungkap Bayu.
Hati Shania kembali merasa perih mendengar itu. Dia tahu, itu pasti Galang.
"Dia siapa? Mantan kamu?"
Deg
...
Sementara di perusahaan Abdi Leksmana Company. Rengga, sang direktur utama itu baru saja menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk. Setelah beberapa hari ini dia benar-benar tidak fokus bekerja.
Pria tampan dengan kaca mata baca yang bertengger di hidung mancungnya itu terlihat sangat berwibawa jika sedang serius seperti ini. Dan tentu saja, dia menjadi icon yang selalu menarik perhatian para karyawannya.
Tapi sayang, sifatnya yang dingin dan datar membuat dia disegani, sangat berbeda jauh dengan Bayu Leksmana, adiknya.
Tok tok tok
Pintu yang di ketuk membuat Rengga menghela nafas, dia menoleh memandang Shanum yang masuk ke dalam dengan berkas di tangannya.
Sekretaris baru yang baru beberapa bulan menjabat menggantikan sekretaris Rengga yang sudah cuti karena pindah keluar negeri.
"Pak, meeting akan segera dimulai. Pihak dari Arkana sudah datang," lapor Shanum sembari memberikan beberapa berkas meeting ke hadapan Rengga.
"Papa sudah datang?" tanyanya.
"Sudah, sudah lebih dulu ke ruang meeting."
Rengga mengangguk, dia juga langsung beranjak dari kursinya. Memakai jasnya kembali dan merapikan sedikit penampilannya.
Shanum hanya diam dan membereskan barang-barang Rengga, dan setelah itu mereka langsung berjalan menuju ruang meeting yang berada tidak jauh dari ruangan Rengga.
"Meeting hari ini diwakilkan oleh putra dari Tuan Arkan, pak," ungkap Shanum yang berjalan di belakang Rengga.
"Kenapa tidak dia seperti biasa?"
"Kebetulan putranya sudah kembali dari Amerika dan sekarang sudah menggantikan kedudukannya memimpin perusahaan. Jadi mungkin, untuk kedepannya dia yang akan menggantikan ayahnya mengurus proyek ini," jawab Shanum.
Rengga hanya mengangguk saja. Mau siapapun itu, yang terpenting semua lancar dan tidak membuat dia repot.
Rengga dan Shanum masuk ke dalam ruangan itu, dan ternyata benar semua orang sudah berkumpul. Bahkan Tuan Sam juga sudah duduk di kursi utama.
Seorang pria tampan dengan kacamata di hidungnya terlihat berdiri dan menyambut kedatangan Rengga. Sepertinya dia adalah orang yang dimaksud oleh Shanum tadi.
"Selamat siang, Tuan Rengga," sapanya terlebih dahulu.
"Selamat siang, Tuan. Selamat datang di perusahaan kami. Maaf saya datang terlambat, Tuan...?"
Lelaki itu tersenyum ramah sambil berucap, "Saya ... Galang Samudra!"
Deg
..
Like lagi guys!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
sherly
wow Galang muncul smoga aja bisa membuat Rengga ketar ketir...
2024-04-25
1
Anna
kena kau kan Rengga Gimna senam jantung Aman syg..mkx jadi suami itu Egonya trll tinggi...kykx bgus ini Shania perg ksih tggl rengga biar tw rasanya kelhilangan yg ke 2X,punya istti tp d anggurin
2023-12-30
3
kirana
nah lhoo lawan seimbang gilang ni lho ga, hati2 😁
2023-12-30
1