Sikap Dingin Rengga

Shania terpaku mendengar ucapan Rengga. Matanya langsung berair dan memandangi Rengga yang kini juga memandang ke arahnya.

"Aku tidak bisa mengkhianati kakakmu, kamu tahu betapa aku mencintai dia. Jadi tolong, jangan harapkan apapun karena aku tidak akan pernah bisa memberinya," ucap Rengga kembali.

Shania tersenyum getir, dia mengangguk pelan dan berusaha untuk menahan air mata. Dengan cepat dia beralih pada Zira dan meletakkan bayi mungil itu ke atas tempat tidur. Tidak ingin lagi dia memandang kakak iparnya, ah salah, suaminya. Ya, sekarang mereka sudah sah menjadi suami istri. Tapi sayang, Rengga tidak akan pernah bisa menerimanya.

"Tidurlah dengan Zira di sini, biar aku yang tidur di sofa," ujar Rengga. Dia membalikkan tubuh dan ingin berjalan menuju sofa, tapi suara Shania membuat dia berhenti.

"Mas saja yang tidur sama Zira, biar Shania yang di sana," Shania dengan cepat berdiri, tapi Rengga melarangnya.

"Kamu lebih tahu mengurusnya jika dia bangun. Tidak apa, tidurlah di situ. Aku tidak akan menganggu," Rengga langsung meninggalkan Shania yang terpaku di tempatnya.

Tidak akan mengganggu? Kenapa terdengar menyakitkan. Bukan berharap lebih, karena Shania juga belum bisa menerima pernikahan ini apalagi harus menyerahkan diri. Tapi tidak tahu kenapa sikap Rengga yang dingin ini membuat Shania terluka.

Sebelumnya, Rengga adalah kakak ipar yang sangat baik, ramah dan tentunya penyayang. Sejak kuliah, selalu Rengga yang mengurus semua kepentingan di kampus jika Shania memerlukan wali. Hingga dia bisa bekerja di perusahaan milik keluarga Leksmana itu.

Tapi sekarang, dia berubah drastis. Shania sedih, kenapa nasib mereka harus seperti ini. Menjadi adik dan kakak adalah hal yang tepat, daripada menjadi suami dan istri tapi malah menjadi asing.

Shania merebahkan tubuhnya di samping Zira, menepuk-nepuk lembut tubuh bayi mungil itu dengan lembut. "Selamat tidur sayang aunty, jangan lupa berdoa untuk mama di sana ya, nak. Semoga mama bahagia sama kakek dan nenek," bisik Shania di telinga Zira.

Matanya langsung terpejam, tapi air mata terus mengalir dengan deras. Rasa sakit, rasa rindu dan perasaan sedih yang begitu mendalam terasa menyiksa batin. Sekarang dia sendirian, tidak ada lagi tempatnya mengadu. Kakak yang menjadi sandaran telah pergi, dan ipar yang menjadi tempatnya meminta tolong kini pun telah berubah dingin seakan membenci.

Shania tidak tahu harus berbuat apa selain berdoa agar kehidupan yang lebih baik bisa dia dapatkan.

Di sofa, Rengga juga belum bisa tertidur. Matanya masih memandang Shania yang kini telah tertidur dan membelakanginya. Tidur dengan memeluk Zira penuh sayang.

Rasanya masih belum rela jika ada yang menggantikan kedudukan Rania, meskipun itu adiknya sendiri. Dan sampai kapanpun akan seperti itu.

Kata 'andai saja' dan 'seharusnya' terus memenuhi kepala Rengga. Ya andai saja Rania masih hidup pasti sekarang mereka sedang tidur bertiga di sana, memeluk putri mereka bersama-sama. Dan seharusnya, Rania yang di sana menemani dan mengasihi putri kecil itu. Bukan Shania.

Rengga memejamkan matanya, rahangnya mengeras, tangannya terkepal erat. Rasanya sesak dan ingin marah. Tapi marah pada siapa? Ya Tuhan, ini terlalu menyakitkan untuknya.

..

Keesokan paginya di ruang makan keluarga Leksmana. Semua orang sudah berkumpul untuk sarapan bersama. Rengga dan Shania juga sudah datang ke sana karena pagi ini dia sudah akan kembali ke perusahaan.

"Kamu sudah masuk kan hari ini?" Tuan Banu memandang Rengga yang baru saja duduk di kursinya.

"Iya, Pa. Ada meeting penting," jawabnya singkat dengan wajah datar yang masih terlihat lesu.

"Iyalah, enak aja libur terus. Bayu yang susah ngurus semua sendiri. Mana kerjaan numpuk," gerutu Bayu yang sudah makan duluan. Adik Rengga sekaligus yang menjadi asisten kakaknya itu terlihat menggerutu kesal. Apalagi sudah seminggu lebih sejak Rania meninggal dia yang mengurus perusahaan dan semua pekerjaan Rengga.

"Kamu ini, namanya masih dalam masa duka," gerutu Bu Maryam. Dia mulai melayani suaminya untuk sarapan.

Shania yang masih berdiri langsung memandang ke arah Rengga. Dia masih cukup ragu untuk melayani kakak ipar yang sekarang sudah menjadi suami ini.

Tangannya terjulur, ingin mengambil piring dari hadapan Rengga. Tapi lebih dulu lelaki itu yang memegang, bahkan dia menepis tangan Shania tanpa sadar atau memang sadar.

"Aku bisa sendiri, kamu tidak perlu repot. Makan saja," ujarnya tanpa ingin memandang wajah Shania.

Shania tertegun, bahkan semua orang memandang Rengga dengan helaan nafas panjang.

"Udah, nak. Makan saja, Rengga udah biasa sendiri. Gak papa," ujar Bu Maryam. Sedih hatinya memandang Shania yang terlihat sedih seperti itu.

Gadis itu mengangguk, dia langsung duduk di samping Rengga dan mengambil sarapannya sendiri. Sementara Rengga, lelaki itu hanya diam dan begitu acuh.

"Zira nggak nangis?" Bu Maryam berbasa-basi sambil sarapan.

"Nggak, Ma. Tadi Shania tinggal masih sama sus Rini lagi minum susu," jawab Shania dengan senyum tipis.

"Iya, bagus lah kalau dia nggak rewel lagi, Mama bingung kalau dia nangis," sahut Bu Maryam.

Shania hanya mengangguk saja mendengar itu.

"Berarti kamu resign ya?" ucapan Tuan Banu membuat Shania menoleh, bahkan Bayu dan Bu Maryam juga.

Shania tersenyum getir, dia mengangguk pelan. Masih ingin bekerja, tapi bagaimana mungkin.

"Kalau Shania kerja, yang ngurus Zira siapa, Pa. Kasihan kan, capek."

"Iya, percuma Rengga nikahi dia," sahut Rengga.

Shania tertunduk, ucapan Rengga lagi-lagi melukai hatinya. Ini masih terlalu sulit untuk diterima.

"Lagian kan udah jadi istri, udah jelas jadi tanggung jawab kak Rengga yang nafkahi," Bayu sepertinya tahu jika hati Shania bersedih mendengar ucapan kakaknya. Semua masih berat, dan mereka semua mengerti.

Tidak Rengga ataupun Shania, mereka berdua pasti begitu berat menjalani pernikahan ini.

"Nak," Bu Maryam menandang Rengga dengan sedih.

Bukannya menjawab, tapi Rengga malah menyudahi sarapannya. Suara dentingan sendok ke piring nasi goreng itu membuat semua orang terkesiap.

"Rengga berangkat dulu, Pa, Ma," ucapnya yang langsung beranjak dan pergi dari ruang makan itu meninggalkan sarapan yang baru dia makan beberapa sendok. Bahkan dia sama sekali tidak melihat Shania yang memandang getir ke arahnya.

Bayu terkejut, dia langsung meminum air putihnya dengan cepat. "Kenapa malah ditinggal sih," gerutunya yang juga beranjak dari sana.

"Bayu pamit dulu Pa, Ma! Da!" serunya yang langsung berlari mengejar Rengga.

Bahkan suara teriakan putra bungsu mereka itu masih terdengar memanggil kakaknya.

Kini, di ruang makan rumah itu hanya tinggal Shania dan kedua orang tua Rengga.

Mereka memandang sedih pada Shania yang tertunduk dan menahan hati.

"Maafkan sikap Rengga ya, nak," ucap Bu Maryam.

Shania hanya berusaha untuk tersenyum saja mendengar itu.

"Papa yakin, kalau kamu bisa mengambil hatinya, lama kelamaan Rengga pasti luluh juga," ujar Tuan Banu pula.

Tidak ada yang Shania katakan, dia hanya mengangguk saja. Bagaimana mungkin dia bisa mengambil hati Rengga, jika untuk melihatnya saja Rengga sudah tidak ingin lagi.

Terpopuler

Comments

Deswita

Deswita

🙏🥺

2024-11-26

0

Mesri Sihaloho

Mesri Sihaloho

lama lama bucin tuh si Rengga Rengga itu 😂😂

2024-05-30

1

@Tie

@Tie

rengga sok2an mrasa plg menderita tersakiti...shania cm dianggep baby sitter

2024-02-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!