Mungkin perkataan orang-orang yang mengatakan jika ujian rumah tangga itu tidak akan ada habisnya memang benar. Di saat hati sedang rapuh dan putus asa, cinta pertama datang menawarkan senyuman dan membangkitkan kembali perasaan yang sempat terpendam.
Tidak munafik, Shania merasa bahagia dengan pertemuannya dan Galang kali ini. Bahkan, untuk beberapa saat dia melupakan jika dia sudah menikah.
"Jadi kamu menikah dengan kakak ipar kamu sendiri? Pak Rengga?" Galang cukup terkejut ketika Shania menceritakan semua yang telah terjadi setelah perpisahan mereka.
"Aku gak punya pilihan lain, ada anak kecil yang butuh sosok ibu dan wasiat kakakku yang gak mungkin aku tolak," ucap Shania sambil mengusap wajahnya. Beberapa saat lalu dia sempat menangis, tapi sekarang tangisan itu mulai mereda. Mereka juga sudah berpindah tempat ke sebuah cafe yang berada di depan pusat perbelanjaan itu.
Mencari tempat yang lebih nyaman untuk mereka mengobrol.
"Kenapa kamu gak bilang aku? Aku bahkan masih selalu berpikir jika kamu cuma mau aku fokus kuliah. Bahkan sampai aku kembali ke Jakarta aku masih yakin kalau kamu terus nunggu aku."
Shania mendongak, memandang wajah tampan yang terlihat sangat kecewa itu. Wajah Galang yang sempat kaku kini mulai melembut, apalagi setelah mendengar semua alasan Shania.
"Maafkan aku, Lang," Shania berucap lirih.
Galang memandang Shania dengan sendu. "Kamu mencintai dia?"
Shania terdiam. Dia tertunduk dan bingung untuk menjawab apa. Cinta? Bahkan rasanya cinta itu tidak pernah tumbuh. Dia sudah mencoba untuk menumbuhkan cinta, tapi sayangnya Rengga tidak bisa memupuk cinta itu untuk tumbuh dan berkembang.
"Shania," panggil Galang kembali.
"Aku nggak tahu," gumam Shania. Bahkan dia berucap begitu pelan.
Galang bisa melihat jika ada kesedihan, tekanan dan juga kekecewaan di wajah itu. Dan tentu saja dia yang masih sangat mencintai gadis itu langsung mengiba dan tidak bisa melihatnya bersedih.
"Sha, kalau nggak kuat. Kenapa harus dipaksa?" Lelaki berbicara dengan lembut, dan itu terasa sangat mengiris hati hingga membuat Shania ingin menangis lagi.
Selama ini dia hanya bisa menahan, diam dan tidak bisa mengungkapkan kesedihan dan batin yang tersiksa pada siapapun. Tapi ketika berhadapan dengan Galang, kenapa rasa sedih itu semakin menjadi?
"Hei, sudah. Aku gak suka lihat kamu menangis begini." Galang langsung beranjak, berpindah tempat ke samping Shania. Dia tahu ini tidak boleh, tapi dia tidak bisa melihat Shania menangis seperti itu.
Galang merangkul tubuh Shania, ya hanya merangkul karena dia tahu Shania sudah menjadi istri orang.
Ingin rasanya dia peluk, tapi .. Itu tidak mungkin lagi.
Shania menangis, dia bahkan menangis tersedu sambil menangkup wajahnya. Berusaha untuk menahan agar tidak terisak tapi rasa sakit itu begitu dalam.
Jelas saja, Galang benar-benar tidak tega. Tidak pernah dia melihat Shania seperti ini. Selama mereka menjalin hubungan, semua baik-baik saja. Hanya tawa dan senyum Shania yang Galang dapatkan. Tapi setelah berpisah dan Shania bersama orang lain, kenapa gadis ini berubah?
"Sha," Galang meraih tangan Shania. Dia duduk di samping gadis itu dan mengusap wajah Shania dengan lembut.
Perlakuannya membuat hati Shania semakin tidak menentu.
"Berat sekali ya?" Galang memandang Shania dengan sendu. Dia terus mengusap air mata yang mengalir tanpa henti itu.
"Aku gak tahu harus gimana lagi," ucap Shania masih dengan Isak tangis yang tersisa.
"Aku tahu kamu gadis yang kuat," ucap lelaki itu. "Aku sakit saat tahu kamu menikah dengan orang lain, tapi hati aku lebih sakit lihat kamu nggak bahagia seperti ini, Sha."
Shania tertunduk.
"Sudah, jangan menangis lagi. Mungkin nanti, ada jalan untuk setiap masalah kamu. Aku tetap Galangmu, aku sudah kembali dan aku akan menepati janjiku,"
Shania kembali memandang Galang dengan bibir yang masih bergetar menahan tangis.
"Aku pernah berjanji kan, aku akan kembali untuk kamu. Menemani hari-hari kamu dan selalu ada untuk kamu. Mungkin bukan lagi sebagai kekasih, tapi kita ... Masih bisa berteman dekat."
Shania kembali ingin menangis ketika mendengar hal itu. Apalagi saat dia melihat mata Galang yang juga berkaca-kaca. Dia tahu, jika Galang pasti berat ketika mengatakan hal ini.
"Galang , maafkan aku. Aku sudah mengkhianati kamu, aku ... Hiks."
"Hei, sudah. Aku mengerti. Kamu tidak melakukan ini dengan sengaja. Ini karena wasiat kakak kamu, jangan merasa bersalah." Galang kembali mengusap air mata itu.
Sakit, tentu saja. Siapa yang tidak sakit hati ketika kekasih hati menikah dengan orang lain. Tapi yang lebih sakit adalah ketika melihat orang yang dicintai menderita dan menangis seperti ini. Shania memang tidak mengatakan apapun tentang Rengga. Tapi dari kesedihan dan tangisannya sudah dapat Galang pastikan jika gadis ini tidak bahagia dalam pernikahannya.
Marah, kesal dan sakit hati, tapi bukan pada Shania. Melainkan pada takdir dan juga pada ... Rengga.
...
Setelah Shania tenang, Galang mengajak Shania untuk berjalan-jalan dan mencari angin. Mereka kembali ke pusat perbelanjaan itu lagi karena Shania memang belum sempat berbelanja.
Hari sudah mulai senja ketika mereka tiba di sana. Entah sudah berapa jam waktu yang mereka habiskan di cafe itu. Dan sekarang, waktunya untuk menenangkan diri dan melupakan sejenak kesedihan yang ada.
"Jadi anak kakak kamu perempuan?" tanya Galang. Dia berjalan di samping Shania saat ini. Bahkan, mereka sudah seperti pasangan suami istri sekarang. Berjalan-jalan di area toko pakaian anak.
"Iya, sangat mirip dengan Kak Rania," jawab Shania.
"Mirip kamu juga dong," sahut Galang.
Shania tersenyum simpul dan mengedikkan bahunya sekilas. "Nggak tahu, tapi kata orang iya," jawabnya.
"Ini bagus, lihat," Galang menunjuk sebuah pakaian anak dengan warna pink dan sedikit berbulu di bagian tengah. Sangat cocok jika di pakai untuk pesta.
"Aku mau belikan ini satu untuk dia, bilang aja nanti dari Om yang nggak jadi," ucap lelaki itu.
Shania langsung tertawa kecil mendengar itu. Meski wajahnya masih nampak sangat sembab dan sendu, tapi jika tertawa seperti ini, Galang sudah merasa senang.
"Boleh, nanti kapan-kapan aku bawa dia ketemu kamu."
"Ya, dengan senang hati," jawab Galang.
Benar-benar lupa waktu, hari itu Shania habiskan waktu bersama Galang. Bukan hanya berbelanja, tapi mereka juga sempat makan malam berdua dan tentunya bercerita banyak hal. Sama seperti ketika mereka masih dekat dulu.
Shania melupakan kesedihannya saat dengan lelaki ini, apalagi Galang memang sangat pandai membuat hatinya membaik. Sesekali mereka terlihat tertawa bersama bahkan tak jarang saling menguatkan satu sama lain.
Hal yang seharusnya tidak dilakukan, mereka malah bertukar nomor ponsel untuk tetap saling berhubungan.
Akankah semua berjalan baik ketika lubang dalam biduk rumah tangga sudah mulai terbuka? Siapa yang akan jatuh ke dalamnya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Deswita
🙏🙏
2024-11-28
0
Fi Fin
kalo aku maunya sania pisah aja sama Rengga trs sama Galang masalah zira kan bisa sania asuh gantian sama Rengga ..biar cerita novel nya beda dengan novel2 lain
2024-06-11
0
sherly
baiknya Galang, jarang ada mantan ditinggal nikah modelan kayak Galang msh mau berteman, yg ada mau balas dendam aja, sakit hati... keren galang
2024-04-26
0