Rengga berjalan sempoyongan saat turun dari mobil. Bahkan Bayu dengan sigap berjalan di belakang kakaknya karena melihat pria itu yang seperti tidak memiliki nyawa lagi untuk berpijak. Tubuhnya basah kuyup, wajahnya pucat pasih bahkan dia sudah menggigil sekarang.
Rengga berdiri di bawah hujan satu jam lebih, dan tentu saja sekarang dia sudah seperti mayat hidup. Bayu yang menunggu di mobil saja sudah kedinginan, apalagi dia.
"Ya Allah, nak. Kenapa kamu basah kuyup gini? Dari mana?" Maryam, wanita paruh baya yang merupakan ibu Rengga dan Bayu itu terlihat panik melihat Rengga yang basah kuyup dan pucat seperti ini. Dia langsung merangkul putranya dan berjalan menuju kamarnya.
"Biasa, Ma. Dari makam mbak Rania. Dia gak mau pulang udah Bayu paksa," ungkap Bayu yang juga pergi mengikuti ibu dan kakaknya.
Rengga hanya diam, dia tidak menjawab apapun. Dan tentu saja itu membuat Bu Maryam merasa sangat sedih. Ini sudah hari ketiga kepergian menantunya, tapi putranya masih belum bisa merelakan kepergian Rania.
Mereka membawa Rengga masuk ke dalam kamar yang memang ada di lantai bawah, Rengga tidak ingin tidur di kamar atas, kamar yang menjadi peraduannya bersama Rania selama lima tahun ini. Rengga masih tidak bisa menerima semuanya.
Bukan karena tidak ikhlas, dia sudah ikhlas karena mungkin ini memang sudah ketentuan Tuhan. Tapi Rengga hanya rindu, rasanya sakit sekali jika melihat semua tentang Rania di rumah ini, apalagi di dalam kamar itu. Tawanya, keceriaannya, keusilannya, dan semua kelembutan Rania membuat Rengga tidak bisa menahan perasaan.
"Kamu bantu kakak kamu dulu, Mama mau lihat Zira, dia nangis terus dari tadi," ujar Bu Maryam pada Bayu ketika Rengga sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi.
Bayu hanya mengangguk saja, dia membiarkan ibunya pergi keluar untuk melihat putri kecil yang baru hadir di dalam kehidupan mereka. Tapi sayang, kehadiran putri kecil itu malah merenggut sesuatu yang sangat berharga untuk hidup kakaknya.
"Kak, mau makan gak? Biar aku suruh Bibi bawa kemari," tawar Bayu ketika Rengga sudah keluar dari kamar mandi.
"Nggak, aku mau tidur. Kamu pergi sana," usir Rengga dengan acuh. Bahkan dia langsung merebahkan diri di atas ranjang itu dengan rambut yang bahkan masih basah.
Bayu menggeleng pelan dan menghela nafas panjang. Kakaknya sudah seperti orang bodoh yang tidak memiliki semangat hidup saja. Bahkan dia sudah tidak ada makan sejak kakak iparnya meninggal. Hanya minum susu dan itupun karena dipaksa.
"Jangan kayak gitu kenapa,"
Ucapan Bayu membuat Rengga membuka mata kembali, dia menoleh lesu ke arah adiknya.
"Mau sampai kapan kayak gini terus?"
Rengga terdiam dengan pertanyaan Bayu. Dia tidak menjawab dan malah memejamkan matanya kembali.
"Mbak Rania udah tenang di sana, tapi Mas malah kayak orang gila disini. Bukannya bangkit dan ngurus anak, tapi malah terpuruk gak nentu. Sedih boleh, tapi tuh lihat, Zira juga perlu perhatian Mas."
Rengga kembali membuka mata, tapi kali ini matanya sudah mulai berair.
"Jangan nambahi beban Mbak Rania di sana, dia nitip Zira sama Mas. Itu anak yang kalian idamkan selama ini 'kan. Jadi ayolah, semangat demi anak." Bayu sedih sebenarnya, tapi dia juga tidak bisa membiarkan kakaknya seperti ini terus. Semua orang kehilangan Rania, semua orang juga bersedih, tapi yang sudah pergi apa masih bisa kembali? Tentu tidak.
Rengga tidak menjawab apapun, dia beranjak dari tempat tidurnya dan duduk di atas ranjang.
"Mas, setidaknya Mas hidup untuk Zira kalau mas gak tahu lagi harus berbuat apa," Bayu menepuk pundak Rengga dengan lembut. Membuat pria itu mendongak dan memandang ke arahnya.
Rengga mengangguk. Ya, dia tidak bisa seperti ini terus. Kesedihan itu memang tidak akan pernah hilang. Tapi ada anak yang juga membutuhkan dia.
Akhirnya, setelah mendapatkan semangat dari Bayu, Rengga memutuskan untuk pergi ke kamar putrinya. Masih sampai di depan pintu tapi sudah terdengar suara tangis bayi di sana. Sangat kuat dan begitu pilu dan itu semakin membuat hati Rengga menjadi sakit.
Dia masuk ke dalam karena pintu memang tidak terbuka, terlihat Ibunya sedang menimang putrinya yang masih terus menangis, seorang baby sitter yang menjaga anak mereka juga nampak kelelahan.
"Ngga, coba deh gendong, Zira nangis terus. Siapa tahu sama kamu dia diam, biasa ada Shania disini, tapi siang tadi dia bilang mau ke kampus karena ada yang dia urus," Bu Maryam menyerahkan Zira pada Rengga.
Masih terlalu kaku dia menggendong putri kecilnya, tapi ketika melihat wajah mungil itu senyum sendu langsung terbit di wajah Rengga.
"Anak ayah kenapa nangis sayang? Diem dong," pinta Rengga sambil terus menimang dan menggerakkan sedikit tubuhnya, berharap putrinya itu bisa sedikit tenang.
Tapi Zira, bayi yang masih merah itu tetap saja tidak mau diam. Dia masih terus menangis tanpa henti.
"Sayang, ini ayah, nak. Zira jangan nangis,"
Bu Maryam tertunduk dan langsung memalingkan wajahnya dari Rengga. Hatinya hancur dan sedih jika melihat pemandangan ini. Bayi sekecil itu yang masih membutuhkan pelukan seorang ibu tapi malah sudah harus kehilangan.
"Diem ya, sayang. Zira anak baik kan, Zira gak boleh nangis terus," Air mata tanpa terasa menetes di wajah Rengga saat dia menimang anaknya.
Hatinya benar-benar teriris perih melihat putrinya menangis seperti ini.
'Ra, lihat putri kita. Dia menangis terus, dia pasti merindukan kamu Ra. Dia ingin ibunya. Bagaimana aku bisa hidup jika seperti ini terus, Ra. Aku tidak bisa melihat anak kita menangis terus,' batin Rengga dalam hati. Bukannya menenangkan putrinya, dia juga malah ikut menangis dan memeluk bayi kecil itu dalam dekapannya.
"Nak, sudah. Kamu harus kuat," Bu Maryam mengusap bahu Rengga, tapi dia juga tidak bisa menahan air mata, begitu pula dengan baby sitter Zira.
"Rengga nggak bisa, Ma. Rengga nggak bisa," Rengga menangis, bahkan dia langsung berlutut di atas lantai sambil terus memeluk putrinya.
Tangisan bayi kecil itu semakin kuat, apalagi ketika Rengga juga ikut menangis. Dia seolah tahu jika ayahnya sedang bersedih saat ini.
Di tengah-tengah kesedihan mereka, tiba-tiba pintu kamar yang terbuka separuh itu terbuka lebar.
"Assalammualaikum," suara lembut Shania membuat Bu Maryam menoleh. Tapi tidak dengan Rengga, dia masih terus memeluk putrinya.
"Waalaikumsalam. Sha, tolong Zira. Dia nggak mau diam dari sore tadi." Bu Maryam memandang Shania dengan wajah penuh harap.
Shania mengangguk, dia langsung masuk ke dalam kamar itu dan memandang sedih pada Rengga yang masih memeluk putrinya sambil menangis tersedu. Kakak iparnya ini pasti masih begitu terpukul, dan sebenarnya dia juga. Apalagi hanya Rania yang dia punya.
"Berikan Zira, nak," Bu Maryam langsung meraih Zira dari tangan ayahnya dan dia langsung memberikan cucunya itu pada Shania.
Shania menggendong bayi kecil itu dengan perasaan tidak menentu, bayi kecil yang sangat mirip dengan kakaknya.
Shania tersenyum, dia menimang Zira dengan lembut sambil membisikkan kata-kata di telinga bayi itu, dan benar saja, tidak lama hanya berselang beberapa menit Zira mulai tenang.
Rengga tersandar di bawah ranjang dan memperhatikan putrinya dengan sedih.
Zira memang masih butuh seorang ibu.
Tapi ... apa mungkin ibu pengganti itu adalah Shania?
Bagaimana Rengga bisa menikah lagi jika cintanya sudah habis pada Rania. Dan bagaimana mungkin dia menikahi Shania, adik iparnya sendiri?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Deswita
💪🥺
2024-11-25
0
@Tie
ujian hidup duda beranak satu
2024-02-14
0
DozkyCrazy
😭😭
2024-02-03
2