Rengga memandangi Shania yang sudah tertidur di samping putrinya dengan pandangan sedih. Hatinya terasa berat melihat pemandangan ini. Seharusnya Ranialah yang ada di sana, tapi takdir yang cukup kejam ini malah merenggut semua impiannya.
Tepukan di bahu Rengga membuat dia sedikit terkesiap. Rengga menoleh, memandang Bu Maryam yang berdiri di belakangnya. Dengan pelan Rengga menutup pintu kamar dan berbalik arah memandangi wanita itu.
"Mama dan Papa mau bicara sama kamu,"
Rengga hanya mengangguk, dia berjalan mengikuti ibunya menuju ruang keluarga dimana Tuan Banu sudah duduk di sana. Sepertinya Rengga tahu apa yang akan mereka bicarakan malam ini. Pandangan pria paruh baya yang sudah nampak tua itu memandang Rengga dengan sedih.
Nyatanya, kesedihan Rengga memang terasa di hati semua orang. Rania pergi seperti membawa semua senyum di wajah putranya.
"Duduk," ujar Tuan Banu.
Rengga duduk dengan lemas di hadapan orang tuanya. Wajahnya yang kusut, layu dan cekung membuat hati kedua paruh baya itu benar-benar terusik.
"Papa tahu kamu masih begitu sakit dengan kepergian Rania. Tapi putrimu juga butuh seseorang yang bisa mengurus dan merawatnya, nak," Tuan Banu mulai mengutarakan apa yang ingin dia sampaikan pada Rengga. Meski sebenarnya Rengga sudah tahu hal ini.
"Benar, kita semua sedih dan masih dalam keadaan berduka. Tapi Zira, kamu lihat kan, tidak ada siapapun yang bisa membuat dia tenang selain Shania," sahut Bu Maryam pula.
Rengga tertunduk sedih. Tangannya saling meremas satu sama lain.
"Ini sudah seminggu kepergian Rania. Kita tidak bisa seperti ini terus. Kamu harus penuhi wasiat Rania untuk menikahi Shania agar dia tenang di sana dan juga agar Zira bisa tumbuh dengan baik."
Rengga menggeleng pelan. "Bagaimana mungkin aku menikahi adik iparku sendiri."
"Nak," Bu Maryam memandang Rengga dengan pandangan sedih. Dia tahu ini berat untuk putranya, tapi mereka tidak punya pilihan lain. "Tidak ada yang salah, mungkin ini berat tapi pikirkan putrimu. Kita tidak bisa menahan Shania untuk terus berada di sini tanpa status apapun."
Rengga mengusap wajahnya dengan kasar. Dia semakin frustasi sekarang. Cintanya sudah habis pada Rania, janji setia untuk sehidup semati yang pernah dia ucapkan apa harus dia langgar? Meski Rengga tahu jika ini adalah permintaan dari Rania juga.
"Kamu mau anakmu tumbuh tanpa seorang ibu? Papa lihat Shania gadis yang baik, dia pintar dan dia juga punya keahlian yang bagus dalam mengurus Zira. Tidak ada salahnya menikahi dia."
"Demi Zira, dan juga atas permintaan istrimu, nak." Bu Maryam memandang Rengga penuh harap. Dan itu semakin membuat Rengga bingung.
Dia ingin menolak, tapi bagaimana dengan Zira dan bagaimana dengan wasiat istrinya yang memang meminta Shania untuk menjadi penggantinya?
Rengga sungguh bingung.
"Rengga," Bu Maryam memanggil Rengga kembali di saat putranya itu hanya terdiam.
Hingga akhirnya, Rengga yang tidak punya pilihan lain langsung mengangguk pelan. "Demi anakku," ucapnya.
Di sebalik dinding, Shania meneteskan air mata mendengar semua cerita Rengga dan orang tuanya. Dia terisak tertahan dan kembali masuk ke dalam kamar. Duduk di bawah ranjang dimana Zira masih tertidur dengan tenang di sana.
Haruskah dia menikah dengan kakak iparnya sendiri? Lalu bagaimana dengan cita-citanya dan janjinya pada seseorang? Haruskah dia mengabaikan itu semua?
Shania ingin menjadi wanita karir, sebelumnya dia sudah bekerja sebagai karyawan dibagian divisi pemasaran di perusahaan Rengga. Setelah tamat kuliah beberapa bulan lalu dia melamar pekerjaan di sana. Ingin meniti karir dan hidup mandiri tanpa menyusahkan kakaknya. Usianya masih 21 tahun sekarang, apa mungkin dia menikah secepat itu?
Lalu bagaimana dengan kekasihnya? Cinta pertama Shania yang saat ini sedang melanjutkan studinya di luar negeri. Apa dia harus mengabaikan itu? Tapi itu sangat berat.
Shania menangis tertahan, dia memandangi putri kecil kakaknya dengan hati yang perih dan hancur. Melihat wajah mungil ini, Shania juga tidak tega.
Semenjak orang tuanya meninggal, hanya Rania yang dia punya. Dan sekarang Rania juga sudah pergi meninggalkannya seorang diri. Rasanya terlalu jahat jika dia tidak menuruti keinginan kakaknya yang terakhir itu.
'Kak, kenapa kakak pergi secepat ini. Rasanya begitu berat, kak. Shania bingung.'
Shania kembali menangis, menangis untuk yang kesekian kalinya. Mengenangkan nasib dan kesedihan yang sepertinya tidak akan pernah berhenti.
...
"Saya terima nikah dan kawinnya Shania Isnari binti Almarhum Sutomo dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
Suara penuh luka dan kehancuran itu terdengar menggema di dalam ruang tengah rumah keluarga Leksmana. Air mata menetes di wajah Rengga saat dia mengucapkan ijab kabul untuk yang kedua kalinya itu. Begitu pula dengan Shania.
Siang ini, mereka melangsungkan pernikahan sederhana di rumah mewah itu. Tidak ada tempat yang indah, tidak ada acara yang romantis, bahkan tidak ada senyum dari semua orang yang hadir di sana.
Shania tertunduk, berulang kali mengusap air mata yang tidak bisa di tahan.
"Sudah, jangan menangis. Sekarang, kamu sudah menjadi menantu Mama," Bu Maryam mengusap bahu Shania dengan lembut. Gadis itu hanya mengangguk saja.
Dia tidak ingin menangis, tapi keadaan ini terasa begitu menyakitkan. Bukan hanya untuk Rengga saja, tapi juga untuk dia.
Impian untuk menikah dengan orang yang dia cinta harus terkubur rapat, impian untuk memakai gaun yang indah dan pesta pernikahan yang megah juga sirna.
Nyatanya Shania harus menikah dengan kakak iparnya sendiri demi anak yang ibunya sudah tiada lagi.
Terasa sangat menyakitkan, tapi ini sudah jalannya dan Shania harus menjalani.
Bayu memandang sedih kakaknya, tidak ada senyum sama sekali. Jika dulu Rengga menangis karena bahagia saat menikahi Rania, maka sekarang dia menangis sedih saat menikahi Shania.
Acara pernikahan berlangsung singkat, karena mereka memang hanya menikah secara agama lebih dulu. Tuan Banu ingin Shania memiliki status di dalam rumah ini agar tidak menimbulkan fitnah, meskipun tetap saja pernikahan ini menimbulkan pro dan kontra untuk keluarga besar mereka.
Turun ranjang, hal yang masih sangat tabu. Tapi apa boleh buat, demi cucu mereka dan juga demi permintaan terakhir almarhumah.
...
Malam hari, di dalam kamar. Shania duduk sambil memangku Zira yang sudah tertidur di pangkuannya. Dia menoleh memandang Rengga yang masuk ke dalam dengan wajahnya yang datar.
"Pernikahan ini kita lakukan karena Zira dan permintaan Rania. Kamu tahu jika cintaku hanya untuk kakakmu. Jadi jangan pernah berharap apapun dari pernikahan kita."
Deg
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Deswita
😠🥺🥺
2024-11-26
0
sherly
sebel banget aku liat laki modelan kayak gini, bukannya terima kasih dah ada yg mau Ama dia trus ngurus anaknya malah sok2 an... Shania tu punya pacar asal lu tau ya rengga
2024-04-25
2
Fi Fin
banyak cerita novel turun ranjang pasti yg jadi korban adek nya dan kakak ipar nya yg ga mau terima dan seolah dia yg jadi korbannya
2024-04-24
1