Dua hari berada di luar kota untuk menggantikan ayahnya melihat perusahaan cabang nyatanya tidak bisa membuat Rengga bekerja dengan baik. Jika biasanya dia selalu tenang saja saat tidak pulang ke rumah hingga seminggu lamanya, tapi kali ini rasanya sangat berbeda.
Bekerja pun sudah tidak lagi terasa nyaman. Pikirannya selalu ingat rumah, terutama ingat Shania.
Semua perlakuan gadis itu dan juga sikap dinginnya membuat Rengga tidak menentu. Siang tidak fokus dan malam tidak bisa tertidur.
"Pak Rengga saya perhatikan seperti sedang banyak pikiran, ya?" Suara Toto, direktur di perusahaan cabangnya membuat Rengga sedikit terkesiap.
Dia memandang pria paruh baya itu yang sedang menikmati makanannya. Saat ini mereka sedang berada di sebuah restauran untuk makan siang.
"Udah kangen rumah, pak?" tanya Toto kembali.
"Iya, kangen anak," jawab Rengga dengan senyum tipis.
"Bener, kalau jauh pasti suka kangen sama anak. Tapi kalau saya ya lebih kangen sama istri," ucap lelaki berambut cepak itu.
Rengga memandangnya yang tengah tersenyum simpul. "Kangen masakan istri, senyum istri, bahkan kangen sikap manjanya." Pria itu malah tertawa sendiri.
Tapi sungguh, perkataannya membuat Rengga juga jadi terbayang senyum Shania. Ya, senyum yang dulu tidak pernah dia anggap, dan sekarang dia sudah kehilangan senyum itu.
"Kalau sudah punya istri apa seperti itu ya, pak? Rasanya setiap hari saya pengen nyenengin istri. Walaupun sudah tua begini, tapi saya suka lihat dia senyum. Kasihan , sudah capek ngurus rumah, capek ngurus anak. Kalau gak dimanjain, takut dia nyesal nikah sama saya."
Rengga tertegun, bahkan tangannya yang sedang memegang sendok juga langsung mematung.
"Apalagi kalau sudah ngambek, emh takut banget saya," sepertinya Toto terlalu asik berbicara, hingga dia tidak menyadari perubahan raut wajah Rengga.
Dia sedikit menghela nafas, lagi dan lagi, dia malah diingatkan dengan gadis itu. Dan tentunya ingat semua kesalahannya. Rengga jadi berpikir, bagaimana jika Shania memang menyesal menikah dengannya? Dia bilang dia sudah lelah berjuang sendiri. Dan bagaimana jika gadis itu pergi meninggalkannya dan Zira. Apa Rengga harus merasakan kehilangan untuk kedua kali?
"Kalau istri sedang lelah dan ngambek, harusnya kita bagaimana?" Pertanyaan bodoh yang seharusnya tidak Rengga tanyakan. Tapi saat ini dia malah ingin tahu. Seolah dia baru pertama kali menikah.
"Wah, apa istri bapak sedang ngambek? Maka dari itu bapak seperti sekarang? Nggak fokus."
Rengga terpaksa mengangguk dengan senyumnya yang terlihat masam. Apa tidak apa-apa meminta saran dari bawahan? Pikirnya.
"Bapak baru nikah apa gimana? Kok bingung gitu? Atau baru kali ini istri bapak ngambek ya?" Toto mulai ingin tahu cerita Rengga, bahkan dia sedikit memajukan tubuhnya untuk mendapatkan jawaban Rengga.
Rengga terdiam, baru nikah? Tentu saja tidak, dia sudah lama menikah. Sudah dua tahun, bahkan ini adalah pernikahannya yang kedua. Tapi selama memiliki istri, Rengga tidak pernah merasakan membujuk ataupun merayu istri yang sedang ngambek.
Bersama Rania, gadis itu tidak pernah marah ataupun ngambek seperti perkataan Toto. Dari awal mereka menjalin hubungan, bahkan masih Rengga ingat jika yang merayu dan mendekatinya lebih dulu juga Rania hingga akhirnya dia menerima pernikahan itu. Dan bersama Shania, sudah jelas jika dia menikah karena permintaan Rania dan orang tuanya.
Lalu bagaimana Rengga bisa tahu membujuk dan merayu?
"Kayaknya bapak memang bingung ya. Mau saya kasih tahu cara-caranya, pak? Saya selalu berhasil kalau pakai cara ini."
Ucapan Toto membuat Rengga sedikit terkesiap. Dia memandang pria itu dengan cukup serius. "Bagaimana caranya?"
...
Sementara di Jakarta.
Shania baru selesai membersihkan diri, dia sudah rapi dan terlihat segar saat ini. Hari sudah lewat tengah hari dan Shania ingin berbelanja keperluan bulanannya di rumah itu.
Kebetulan Zira sedang bersama mertuanya, dua hari ini Shania hanya sendirian di rumah. Dan dia, cukup menikmati kesendiriannya itu. Meski terasa sepi, tapi cukup untuk menenangkan hati.
Shania pergi dengan menggunakan taksi. Sesekali dia menghela nafas, memandangi kota Jakarta yang cukup panas di siang hari seperti ini.
"Ini, pak. Terima kasih, ya." Shania menyerahkan selembar uang merah pada supir taksi. Dan setelah itu dia langsung turun dari taksi. Berjalan dengan sedikit senyum menembus ramainya orang-orang yang juga memenuhi tempat itu.
Pusat perbelanjaan yang juga cukup ramai. Namun, belum lagi kakinya melangkah masuk. Suara seseorang mengejutkan Shania.
"Shania!"
Shania berbalik, dia langsung terkejut saat melihat Shanum bersama Galang.
"Ini kamu, Sha! Ya ampun, aku kangen banget!" gadis itu langsung berlari dan memeluk Shania dengan erat.
Mereka pernah satu universitas saat kuliah dulu, hanya saja berbeda jurusan. Tapi mereka cukup berteman baik.
"Shanum, kamu di sini?" tanya Shania. Dia memandang canggung pada Galang yang berdiri di belakang Shanum.
"Iya, aku ada meeting sama ... Galang," Shanum menunjuk Galang dengan senyum getir. Dia tahu jika Shania dan Galang pernah berhubungan dan dia cukup terkejut karena mendengar dari Galang jika mereka sudah berpisah dan Shania sudah menikah. Meskipun Shanum tidak tahu Shania menikah dengan siapa sebab selama ini dia juga melanjutkan S2 nya di luar negeri.
Shania hanya mengangguk saja mendengar itu. Hatinya kembali resah melihat mantan kekasihnya ini. Entah kenapa setiap keluar rumah Shania pasti bertemu dengan Galang. Sesempit itukah dunia?
"Ck, sayangnya aku udah harus pergi. Pak Bayu nunggu di mobil. Aku minta nomor ponsel kamu dong, kapan-kapan kita ketemu ya," Shanum berucap dengan cepat karena memang dia sudah harus kembali ke perusahaan.
Lagi-lagi Shania hanya mengangguk saja, dia langsung mengetikkan nomor ponselnya di ponsel Shanum.
"Oke, kalau gitu aku pamit dulu," pamitnya pada Shania. Dan dia kembali menoleh ke arah Galang. "Aku duluan ya, terima kasih untuk meeting hari ini," ucapnya.
Galang mengangguk. Dia memandang kepergian Shanum yang terlihat terburu-buru. Dan sekarang, hanya menyisakan mereka berdua.
Shania tertunduk, debar jantungnya kembali tidak beraturan. Wajah tampan yang semakin dewasa ini tentu membuat hatinya sedikit terpana. Tidak dipungkiri rasa cinta itu memang masih ada. Apalagi selama ini semua berjalan baik-baik saja sebelum menikah dengan Rengga.
Tapi jika mengingat tentang suaminya, lagi-lagi Shania merasa sedih.
"Apa kabar?" tanya Galang, memecah keheningan di antara mereka. Meski ramai pengunjung tapi tetap saja terasa aneh.
"Aku baik," jawab Shania dengan senyum yang terkesan di paksa.
"Mau minum sebentar," tawar Galang sambil menunjuk Starbucks yang berada tidak jauh dari sana.
Shania terdiam, nampak menimbang sesuatu. Namun akhirnya, dia memilih mengangguk dan mengiyakan permintaan Galang.
...
Jangan lupa like dan komen 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Deswita
🙏💪💪💪
2024-11-28
0
Dewie Angella Wahyudie
thor... kalo shania emng gk berjodoh sama galang, tolong jangan biarkan galang terus" berfikiran buruk tentang shania,
kasih kejelasan yg sebenernya donk shan, kasihan galang, setidaknya klo galang cowok yang bijak, dia pasti mengerti.
2024-01-01
2
Dian Rahmawati
wah semoga Shania cerita
2024-01-01
0