Ayo Kita Berpisah

Hari sudah larut malam, bahkan sudah tengah malam ketika Rengga kembali ke rumah. Hatinya yang bergejolak menahan luapan emosi kini berganti dengan perasaan bimbang dan tidak menentu.

Tapi saat ini, dia sudah yakin jika dia tidak akan lagi mau kehilangan untuk yang kedua kali. Ya, Rengga akan mencoba berusaha untuk merebut hati dan simpati Shania kembali.

Kehilangan itu cukup sakit, bahkan dia sampai mengabaikan apa yang ada di hadapannya saat itu. Dan bagaimana jika dia kehilangan lagi saat ini? Tidak, Rengga tidak ingin itu terjadi.

Meski tidak tahu bagaimana perasaannya pada Shania saat ini, tapi satu yang pasti Rengga tidak bisa kehilangan gadis itu.

Pintu rumah tidak terkunci ketika Rengga membukanya. Lagi-lagi ruang tengah sangat gelap, hanya lampu dapur dan kamar mereka yang terang.

Rengga menghela nafas, hatinya sedih, marah dan merasa bersalah secara bersamaan dengan setiap perubahan Shania selama akhir-akhir ini. Apalagi ketika dia mendengar Shania sudah berani keluar dengan lelaki lain. Jelas dia kesal.

Tapi, rasa bersalah itu membuat Rengga tidak bisa marah lagi. Dia tahu, kesalahannya sudah sangat menyakiti hati Shania.

Bibir Rengga tersenyum getir saat melihat Shania sudah tertidur sambil memeluk Zira. Wajah cantik itu terlihat lesu, sepertinya dia memang sedang habis menangis.

"Maafkan aku," gumamnya.

Malam yang dingin dan panjang untuk mereka berdua. Bahkan bukan hanya di malam hari. Tapi sampai di pagi hari.

Biasanya Shania yang lebih dulu membuka mata, tapi kali ini Rengga yang terbangun lebih dulu bahkan dia sudah rapi dan bersih.

Shania cukup heran sebenarnya, tapi lagi dan lagi dia tidak ada menyapa lelaki itu. Masih dia ingat bagaimana marahnya Rengga malam tadi. Tapi pagi ini entah apa yang terjadi, ketika dia keluar kamar bersama Zira, sarapan sudah terhidang di atas meja. Padahal jam masih menunjukkan pukul enam lewat.

'Apa dia tidak tidur? Atau dia beli sarapan diluar?' batin Shania.

"Selamat pagi anak ayah, sudah bangun ya? Sudah harum?" Rengga langsung menyambut Zira ke dalam gendongannya, dia menciumi putri kecilnya itu dengan gemas.

Namun, ketika melihat Shania yang ingin kembali ke kamar, Rengga sedikit terkesiap.

"Shania!" panggilnya.

Shania berhenti, namun tidak berpaling.

"Sarapan dulu," ujar Rengga.

Shania menggeleng pelan. "Masih kenyang," jawabnya dingin. Bahkan setelah mengatakan hal itu dia langsung pergi dari sana. Meninggalkan Rengga yang hanya bisa mematung memandang kepergian Shania.

Lelaki itu menoleh sedih ke arah sarapan yang sudah dia buat, meskipun hanya nasi goreng dengan telur yang sedikit gosong, tapi ini adalah yang pertama kali dia masak sejak dua tahun yang lalu. Sejak kepergian Rania.

Rengga menghela nafas, dia kembali memandang putrinya dan mencoba untuk tersenyum. "Zira aja yang makan ya nak."

Lelaki itu langsung mendudukkan Zira di kursinya, menyuapi putrinya makan dengan senyum yang terkesan getir. Baru sekali di tolak dan beberapa hari di abaikan, tapi kenapa rasanya sangat sakit? Apa begini yang Shania rasakan selama dua tahun ini? Ya Tuhan, sungguh berdosa sekali dia.

..

Hari itu adalah hari weekend, jadi Rengga tidak masuk ke perusahaan. Dia hanya di rumah, menghabiskan waktu bersama Zira. Bermain di rumah dan sesekali bekerja lewat ipad nya jika Zira tidur.

Hari itu, sama sekali Shania tidak ada memegang Zira. Bahkan, gadis itu hanya mengurung diri di dalam kamar. Jika di tanya, dia hanya menjawab seadanya, dan jika di ajak pergi, Shania menolak dengan alasan lelah.

Ketika Zira sudah tidur, Rengga memutuskan untuk menemui Shania di kamarnya. Hari sudah malam kembali saat itu. Dan Rengga, tidak bisa seperti ini terus. Rumah yang seharusnya penuh kasih dan kehangatan, tapi terasa dingin dan menyedihkan.

Rengga membuka pintu kamar, terlihat Shania sedang duduk bersandar di atas tempat tidur sambil membaca buku.

Bahkan, ketika Rengga masuk pun, tidak ada jawaban dari gadis itu.

"Sha," panggil Rengga. Dia duduk di sisi ranjang Shania, tepat di dekat kaki gadis itu.

Shania hanya meliriknya saja, tapi hanya beberapa detik karena setelah itu dia langsung memalingkan wajahnya kembali. Tidak tahu kenapa Rengga bisa seperti ini.

"Kamu marah?"

Shania terdiam. Hanya bulu mata lentik itu yang berkedip lembut.

"Aku minta maaf, ya."

Dada Shania seperti terasa tersentak sesuatu ketika mendengar itu. Bahkan dia sampai menahan nafas untuk beberapa detik saat Rengga mengucapkan kalimat aneh itu. Dia meminta maaf? Apa Shania tidak salah dengar?

"Aku tahu aku salah, dan kamu boleh marah. Tapi tolong, tolong jangan pernah menyerah," pinta Rengga. Dia memandang Shania dengan wajah yang begitu memelas.

Shania langsung menoleh ke arah Rengga. Dia memandang lekat wajah lesu lelaki itu. Entah kenapa, jika biasanya dia selalu merasa sedih, tapi kali ini dia sama sekali tidak merasakan apapun. Hanya rasa kesal yang dia rasakan ketika memandang lelaki ini.

Shania menghela nafas panjang, dia menutup bukunya dan semakin memandang Rengga dengan lekat. "Ini sudah tahun kedua kita menikah," ucapnya.

"Dan entah sudah berapa ratus hari yang Shania lalui hanya untuk meraih simpati Mas. Tapi sekarang, Mas minta Shania untuk tidak menyerah? Mas mau minta Shania untuk terus berjuang? Begitu?"

Rengga langsung menggeleng kuat, dia ingin meraih tangan Shania, tapi Shania menolak dan malah menghempaskan tangan itu.

"Sha, aku minta maaf. Aku salah dan aku menyadari semuanya. Aku tidak memintamu untuk berjuang lagi, tapi untuk saat ini, aku hanya ingin diberikan kesempatan kedua," Rengga berucap dengan wajah yang bersungguh-sungguh dan begitu dalam. Sedalam harapannya yang tidak ingin kehilangan gadis ini.

Shania tersenyum getir, dia menggeleng pelan dan memalingkan wajahnya dari lelaki itu.

Kenapa rasanya ini terdengar seperti drama? Ini sangat dia harapkan sejak dua tahun terakhir, mendengar Rengga yang mau berjuang bersamanya. Tapi setelah semua rasanya terlambat dan hambar, kenapa laki-laki ini malah datang dan meminta kesempatan?

"Sha, aku mohon," pinta Rengga.

"Untuk apa kesempatan kedua itu?"

Rengga terdiam.

"Untuk mempertahankan Shania agar tetap bisa mengurus Zira? Begitu?"

Rengga menggeleng pelan. "Tidak Sha, tentu tidak. Tidak pernah sekalipun aku berpikiran seperti itu. Selama ini aku hanya tersiksa karena masih dibayangi dengan kepergian Rania. Maafkan aku, aku sadar jika ternyata aku salah telah mengabaikan kamu," Rengga berucap lirih.

"Lalu untuk apa meminta kesempatan kedua jika Mas masih belum bisa melepaskan bayangan kak Rania? Apa mas pikir Shania bisa hidup satu atap dengan lelaki yang tidak bisa menerima Shania setulus hatinya?"

"Sha, tolong beri aku kesempatan, sekali lagi," pinta Rengga kembali.

"Apa sudah ada cinta di hati Mas untuk Shania?"

Rengga terdiam, bahkan tubuhnya langsung kaku ketika mendengar pertanyaan itu.

"Tidak ada kan?" Shania langsung tersenyum getir.

"Tolong jangan egois, Shania sudah lelah berjuang sendiri. Shania mau kita pisah!"

Deg

Sebuah hantaman langsung menerjang jantung Rengga hingga membuat dia merasa sesak untuk yang kedua kalinya.

Terpopuler

Comments

Nining Moo

Nining Moo

horeee😄😄😄

2025-01-31

0

Deswita

Deswita

👏👏😀🤭

2024-11-28

0

Fi Fin

Fi Fin

mamam tuh perbuatan mu Rengga

2024-04-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!