Ini sudah tahun kedua pernikahan Rengga dan Shania. Setiap hari yang berganti, selalu masih sama dan tidak ada yang berubah dari sikap Rengga pada istrinya.
Lelaki itu masih selalu dibayang-bayangi oleh kepergian Rania. Sikapnya yang dingin, datar dan tidak pernah melihat ke arah Shania sedikitpun mulai membuat Shania ingin menyerah.
Bukan sekali dua kali, tapi sudah ratusan bahkan jutaan kali dia berusaha untuk meraih simpati Rengga agar bisa melihat sedikit ke arahnya.
Tapi nihil, setiap apapun yang Shania lakukan, tidak pernah sedikitpun dilihat oleh lelaki itu.
Sakit sekali ketika hidup hanya memiliki suami, tapi sedikitpun suami yang Shania harapkan tidak pernah melihat ke arahnya.
Shania mematung, memandang Rengga yang tengah bermain dengan Zira di ruang tengah rumah mereka. Kini bayi mungil itu sudah beranjak besar, sudah bisa berlari dan berbicara sedikit demi sedikit.
Jika bukan karena Zira, mungkin sudah sejak lama dia pergi. Rasanya mulai jengah, mulai sesak dan semua pengorbanannya tidak pernah terlihat di mata lelaki itu.
"Mas, sore nanti kita belanja keperluan Zira, yuk. Pampers sama susunya sudah habis?" Shania berjalan mendekat ke arah Rengga sambil membawa segelas teh dan cemilan. Entah diminum atau tidak, tapi Shania masih ingin berbakti pada suaminya.
"Kenapa bukan kamu aja? Biasanya kamu bisa belanja sendiri?" Rengga memandang Shania dengan aneh.
"Bukan gitu, kan mumpung weekend. Kita ajak Zira keluar, kasihan dia di rumah terus," ujar Shania.
"Yasudah, kamu saja yang belanja. Nanti Zira aku bawa ke rumah ibu," jawab Rengga tanpa memandang ke arah Shania sedikitpun. Masih sibuk memainkan Zira yang semakin lama semakin menggemaskan.
Gadis itu menghela nafas panjang yang terasa perih. Rengga tidak pernah mau keluar bersamanya. Semua kepentingan Zira memang dia yang mengatur. Bahkan, Shania hanya memperkerjakan pembantu untuk membereskan rumah. Untuk mengurus Zira, keperluan Rengga dan memasak, semua dia yang melakukan.
Mereka juga sudah pindah rumah. Berpisah dari kedua orang tua Rengga. Itu juga keinginan Shania dan tentunya atas bantuan mertuanya juga. Shania ingin mandiri dan agar Rengga tidak terbayang-bayangi kenangan bersama kakaknya. Tapi tetap saja, sampai detik ini semua yang dia lakukan tidak membuahkan hasil.
"Mas," Shania kembali memanggil Rengga.
Rengga menoleh, memandang Shania kembali.
"Ini udah dua tahun kita sama-sama, kenapa sampai sekarang Mas gak bisa juga lihat sedikit Shania sebagai istri Mas?"
Rengga terdiam.
"Shania ini istri Lo, Mas. Bukan pembantu," kata Shania lagi. Dia sudah lelah, dia ingin bertahan, tapi jika hanya berjuang sendiri. Bagaimana bisa?
"Shania udah berjuang sebisa Shania untuk jadi istri yang baik, Shania udah selalu berusaha untuk mempertahankan rumah tangga kita supaya seperti orang lain. Tapi kenapa Mas masih kayak gini?" Shania memandang Rengga dengan mata yang berkaca-kaca.
Namun, lelaki itu hanya diam dan malah beranjak dari tempat duduknya. Menggendong Zira dan merapikan sedikit pakaian putrinya.
"Aku mau bawa Zira ke rumah ibu," ucapnya yang langsung pergi dan meninggalkan Shania sendiri. Pergi tanpa ingin berbalik dan tanpa mengatakan apapun lagi.
"Selalu seperti ini," lirih Shania seorang diri. Bibirnya bergetar menahan tangis yang tidak bisa dia tahan. Dadanya sesak dan hatinya perih.
Setiap membicarakan hal yang sensitif, Rengga selalu mengelak. Tidak pernah dia mau mendengarkan keluhan Shania. Lelaki itu hanya tahu memberi uang, mencukupi kebutuhan mereka. Bermain bersama Zira, dan selebihnya, Shania hanya di anggap angin lalu.
"Kak, sampai kapan Shania akan seperti ini?"
...
Sementara di dalam mobil, Rengga memandang nanar ke jalanan depan. Sesekali dia menoleh ke arah Zira yang dia letakkan ke dalam stroller bayi dan masih duduk tenang di sana. Apalagi dia memang sudah mengantuk.
Hati Rengga tidak menentu sekarang. Ini sudah tahun kedua. Sudah sejauh ini dia melewati perjalan rumah tangga bersama Shania. Tapi kenapa rasanya masih ada yang berat?
Bohong jika dia tidak terkesan dengan semua perlakuan Shania. Bohong jika dia tidak melihat ke arah gadis itu, nyatanya semua perhatian yang Shania berikan padanya dan Zira sudah mampu membuat Rengga bergantung pada gadis itu.
Tapi, kenapa sampai saat ini dia masih sulit menerima? Bayang-bayang Rania masih selalu menghantui dirinya.
...
Hari sudah mulai sore, Shania juga sudah rapi dengan setelan santainya. Malas sekali dia keluar hari ini, tapi kebutuhan Zira sudah habis. Dan tidak bisa ditunda lagi.
Jadi mau tidak mau Shania harus tetap keluar. Dress pink yang dia kenakan dan rambut yang dia urai begitu saja membuat penampilan Shania terlihat segar. Meski lelah harus mengurus rumah dan Zira tapi Shania tetap memperhatikan penampilannya.
Hanya keluar ke minimarket terdekat, mungkin itu sudah cukup untuk sekedar mencari angin segar. Atau mungkin Shania juga bisa berjalan-jalan sebentar untuk menenangkan diri. Rengga juga tidak akan peduli jika dia pulang telat bukan.
Taksi yang Shania pesan sudah tiba di depan rumah, dia langsung pergi dari rumah itu menuju ke pusat kota.
Niat untuk ke minimarket dia urungkan, Shania memilih pergi ke pusat perbelanjaan saja sambil menghabiskan waktu. Sudah lama sekali dia tidak keluar sendirian seperti ini. Apalagi ke mall.
Shania bahkan lupa kapan terakhir dia memanjakan diri.
'Sepertinya aku udah ngerasa tua banget sekarang,' gumamnya dalam hati ketika sudah tiba di pusat perbelanjaan itu.
Rasanya benar-benar sedikit lega, mungkin setelah ini dia akan lebih banyak memikirkan dirinya sendiri dari pada Rengga yang selalu acuh. Ya, mungkin seperti itu.
Tapi tetap, dia tidak melupakan Zira.
Cukup lama Shania berjalan sendirian di sana, terserah apa kata orang yang melihatnya seorang diri. Tapi sekarang, Shania hanya ingin menenangkan hati yang sesak karena ulah suaminya.
Sesekali Shania menghela nafas perih ketika melihat sebuah keluarga yang berjalan bersama, tertawa dan bercanda. Hatinya sakit melihat itu. Di dalam hati dia bertanya-tanya, apa dia tidak akan pernah bisa merasakan hal itu?
Shania menggeleng lemah, dia ingin mengabaikan tapi pandangannya selalu tertuju pada orang-orang yang sedang mengabiskan waktu di tempat itu. Apalagi ini memang waktu weekend.
Bagaimana bisa tenang jika setiap saat ada saja yang membuat hatinya perih.
Bruk
"Astaga, maaf, maaf,"
Karena tidak melihat jalan, Shania yang akan keluar dari tempat pakaian langsung menabrak seseorang.
Seorang pria tampan berkacamata.
Deg
Deg
Deg
Shania dan lelaki itu langsung terperangah terkejut saat sudah saling memandang.
"Galang,"
"Shania,"
...
Hai guys. Like nya jangan lupa, biar entar malam aku update lagi. Terimakasih yang sudah membaca!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Deswita
👏👏💪🙏
2024-11-28
0
𝐀𝐲𝐮_𝐋𝐨𝐟𝐚𝐳𝐢𝐝
𝐊𝐨𝐤 𝐚𝐤𝐮 𝐧𝐠𝐚𝐫𝐞𝐩𝐧𝐲𝐚 𝐒𝐡𝐚𝐧𝐢𝐚 𝐠𝐚𝐧𝐭𝐢𝐚𝐧 𝐜𝐮𝐞𝐤 𝐝𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐬𝐚𝐦𝐚𝐫 𝐫𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚,, 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐭𝐚𝐮 𝐫𝐚𝐬𝐚,, 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐚𝐝𝐚 𝐠𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠,, 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐩𝐚𝐧𝐚𝐬𝐬𝐬𝐬 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐝𝐚𝐧𝐲𝐚.. 🤭🤭
2024-05-01
1
Priscilla Atik Susilowati
kesabaran yang bagus
2024-04-03
0