Rengga tersenyum tipis saat hari ini dia sudah bisa pulang ke Jakarta. Empat hari berpisah dari Zira membuat dia sudah merindukan buah hatinya itu. Tapi rasanya bukan hanya Zira, melainkan juga dengan Shania.
Rasa penyesalan di dalam hati nyatanya membuat sesuatu yang selama ini tidak disadari mulai menguar. Kehilangan senyum dan sikap hangat Shania membuat Rengga sadar, jika dia sudah bergantung pada gadis itu dan mungkin merasakan hal yang lebih.
Senyum Shania, tawa Shania, perlakuannya, membuat luka di hati Rengga mulai terobati. Bahkan bisa dia rasakan jika saat ini bukan lagi tentang Rania yang dia ingat, melainkan tentang Shania.
Rengga menunduk, memandang sesuatu di dalam genggaman tangannya. Bibirnya mengulas senyum tipis. Seperti saran dari pak Toto, dia ingin mencari kembali senyum itu.
..
Sementara di tempat lain, sesuai dengan perkataannya kemarin, Shania membawa Zira berjalan-jalan keluar rumah. Dia ada janji temu dengan Galang di sebuah tempat.
Shania menggendong Zira saat telah turun dari taksi, tepatnya di taman kota yang sore itu memang dipenuhi dengan tempat permainan anak-anak.
Matanya memandang ke sana dan kemari. Mencari seseorang yang sudah menunggunya.
"Shania, kalian datang juga!" seruan Galang membuat Shania langsung menoleh.
Dia tersenyum menyambut lelaki berkacamata itu yang ternyata sudah menunggunya sejak tadi.
"Kamu udah dari tadi?"
"Belum, paling baru lima menit. Kan kantor aku lebih dekat kesini," ungkap Galang.
Shania mengangguk, bisa dia lihat jika pakaian lelaki ini masih sangat rapi dengan setelan jas formalnya. Galang benar-benar menjadi pewaris perusahaan Arkana seperti permintaan ayahnya.
"Ini Zira?" lelaki itu tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Zira.
"Iya, ini Zira."
"Mirip banget sama kamu," ucap Galang.
Shania tertawa.
"Mau ikut Om, sayang? Sama Om ganteng," Galang menjulurkan tangannya, tapi balita kecil itu malah memandang dia dengan heran.
"Kayaknya dia masih takut, Lang. Belum pernah ketemu soalnya." Shania berucap sambil membenarkan topi yang Zira pakai.
"Kita beli mainan?" tawar Galang sambil menjulurkan tangannya.
Untuk anak kecil, penawaran seperti itu tentu saja membuatnya tergiur. Dia langsung menjulurkan tangannya ke arah Galang hingga membuat Shania dan lelaki itu tertawa.
"Oh ya ampun, lucu sekali anak manis," gemas Galang. "Ini pertama kalinya aku menggendong balita," ucap lelaki itu kembali.
Mereka berjalan bersama ke arah tempat spot-spot terbaik yang ada di sana. Cukup ramai pengunjung dan semua membawa anak mereka untuk bermain.
"Anggap saja untuk latihan sebelum kamu memiliki anak sendiri," ucap Shania.
Galang mendengus senyum tipis. "Aku bahkan tidak berpikir ke sana lagi."
Shania langsung menoleh ke arah lelaki itu. Memandang Galang dengan pandangan lekat. "Maksud kamu?"
Lelaki itu menggeleng pelan. "Tidak ada maksud apa-apa. Kita nikmati saja waktu hari ini sebagai keluarga yang bahagia. Semoga saja tidak ada yang melihat kita, karena jika iya, mungkin aku akan dipenggal oleh Tuan Rengga itu," ucap Galang sambil tertawa kecil. Dia kembali mencubit gemas Zira yang kini duduk tenang dalam gendongannya.
Shania tersenyum masam sambil membatin di dalam hati. 'Apa dia peduli?'
Mereka menghabiskan waktu sampai hari mulai sore. Membawa Zira bermain di sana, bercerita dan mengobrol seperti biasa. Mereka layaknya keluarga kecil yang bahagia. Tapi sayang, kebahagiaan mereka nyatanya hanyalah kebahagiaan semu. Terlihat senyum dan tawa saat bersama, tapi nyatanya hati mereka tidak sebahagia itu.
Kata 'andai saja' selalu terngiang di dalam hati. Tapi kenyataan membuat mereka harus bisa berpikir sehat. Mereka bukan lagi sepasang kekasih. Bahkan hanya untuk menghabiskan waktu seperti ini pun, rasanya sudah sangat tidak pantas.
Tapi, mau bagaimana lagi, hati yang rapuh menutup segala dosa yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan.
Cukup lama waktu yang mereka habiskan, hingga akhirnya Shania membawa Zira pulang ketika hari sudah sore dan hampir senja.
Dia pulang dengan menggunakan taksi, Shania menolak untuk Galang antar. Sedikit banyaknya dia tidak ingin mengundang kecurigaan orang-orang.
Namun, ketika tiba di rumah. Shania tertegun ketika melihat mobil Rengga sudah terparkir rapi di garasi.
"Dia sudah pulang," gumamnya.
Zira sudah mulai mengantuk, tapi tangannya tidak lepas memegang boneka dolphin yang dibelikan oleh Galang tadi.
Shania menghela nafas, dia masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki yang lesu. Entahlah, rasanya semakin kesini semangat untuk bertemu Rengga sudah mulai surut.
Ceklek
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Shania langsung membuka pintu. Dia sedikit mematung saat melihat Rengga duduk di sofa dengan wajah yang sudah segar. Sepertinya dia baru saja selesai membersihkan diri.
Sungguh, Shania tidak tahu jika Rengga akan pulang hari ini.
Suara teriakan Zira memecah keheningan di antara mereka. Bersamaan dengan Rengga yang juga beranjak dari atas sofa.
"Ayah!" Zira langsung menjulurkan tangannya ke arah Rengga.
Pria itu tersenyum lebar, dia meraih Zira ke dalam gendongannya dan menciumi wajah putrinya itu dengan gemas. "Sayang ayah dari mana nak, beli mainan tadi ya?"
Zira mengangguk, dia menunjuk boneka dolphin yang dia pegang. "Beli om anteng, yah!"
Deg
Shania terkesiap. Matanya mengerjap saat Zira mengatakan hal itu. Astaga, kenapa anak kecil ini jujur sekali.
"Sama Om Bayu?" tanya Rengga lagi yang tidak mengerti apa perkataan anaknya.
"Ama Om, yah," Balita kecil itu masih berusaha untuk berbicara, tapi sayang omongannya yang masih susah membuat Rengga malah tertawa dan memeluk Zira dengan gemas.
"Iya iya, uh ayah kangen banget sama Zira."
Shania hanya diam, dia ingin masuk ke dalam kamar, tapi tiba-tiba suara Rengga membuat langkahnya kembali terhenti.
"Nanti malam kita makan di luar aja. Kamu gak usah masak. Pasti capek dari luar," ujar Rengga.
Shania mematung, dia memandang Rengga dengan heran. Sejak kapan lelaki ini peduli?
"Gimana keadaan selama aku nggak ada?" tanya Rengga lagi.
Shania mengerjapkan matanya, masih bingung dengan sikap Rengga yang berbeda. Jika biasanya lelaki ini tidak banyak bicara tapi sekarang dia malah terlihat aneh dengan sikapnya itu. Apalagi bertanya tentang keadaan mereka. Ah, apa dunia sudah akan kiamat?
"Sha,"
Shania terkesiap. "Semua baik-baik saja, Mas. Gak ada yang aneh," jawab Shania.
"Syukurlah," jawab Rengga.
Shania mengangguk, dia ingin kembali berjalan meninggalkan Rengga. Tapi baru beberapa langkah berjalan dapat dia dengar ucapan pria itu pada Zira.
"Zira kok aromanya beda, bau parfum laki-laki, tapi bukan Bayu,"
Deg
Langkah kaki itu kembali terhenti, namun kali ini dengan debar jantung yang sedikit tersentak. Apalagi ketika dia menoleh dan Rengga pun menoleh ke arahnya.
"Kamu pergi dengan siapa?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Deswita
😀👏💪
2024-11-28
0
Fi Fin
wajat jika Sania kembali sama Galang . sakit jd istri yg tak di anggap
2024-04-24
0
Xzip_92
saking haus belaian akibat jadi JABLAY
2024-02-23
0