Galang Samudra, nama itu terus terngiang di kepala Rengga. Bahkan sepanjang meeting yang mereka laksanakan, Rengga sedikit kesulitan untuk fokus. Nama Galang nyatanya mampu membuat dia menjadi tidak menentu sepanjang hari. Entah kenapa, padahal nama Galang bukan hanya satu di dunia ini. Dan tidak mungkin kan jika Galang Samudra adalah Galang yang disebutkan Shania dalam ketidaksadarannya.
"Ngga!"
Seruan Tuan Sam membuat Rengga yang sedang menyetir mobil sedikit terkesiap. Mereka sudah di perjalanan pulang saat ini. Mereka pulang bersamaan karena Bu Maryam dan Bayu juga ada di rumah Rengga, jadi mungkin Tuan besar itu sekalian ingin pulang bersama anak dan istrinya.
"Lusa kamu saja ya yang gantiin Papa ke Surabaya."
Rengga langsung melirik Tuan Sam dari kaca depan. "Kok gitu sih Pa? Emang Papa kenapa? katanya belum percaya kalau Rengga yang ngurus," protesnya.
"Kamu nih, ya kan sekalian kamu belajar. Lagian kamu juga udah bagus kok. Papa mau ambil cuti dulu. Mau ajak Zira liburan,"
"Terus Shania sama siapa?" Tiba-tiba dia malah ingat akan istrinya itu.
"Tumben banget kamu nanya Shania? Biasa kamu tinggal dia seminggu juga gak pernah kamu tanyak. Selalu Zira dan Zira." Tuan Sam memandang Rengga dengan mata yang sedikit memicing, tapi senyum simpulnya mampu membuat Rengga merasa salah tingkah.
"Nggak, bukan gitu. Cuma nanti dia gak ada temennya, diakan penakut banget. Yang ada nyusahin karena nelponin Rengga terus," kilahnya.
Tuan Sam mendengus sinis. Putranya ini cukup angkuh sekali. Gengsinya terlalu tinggi.
Rengga menghela nafas panjang. Sial, kenapa Rengga malah bertanya hal itu. Benar kata ayahnya, kenapa juga dia malah mengkhawatirkan Shania. Gadis itu pasti akan baik-baik saja walaupun Rengga tidak pulang sekalipun.
Tapi ... bagaimana jika dia bertemu dengan lelaki bernama Galang itu? Ah sial, kenapa malah Galang lagi?
"Hei, kenapa malah melamun?" Tuan Sam kembali berseru hingga membuat Rengga sedikit terkesiap.
"Kamu mau buat Papa mati cepat?"
"Bukan gitu Pa, nggak melamun kok," kilah Rengga.
Tuan Sam mendengus kesal. "Kalau sama istri itu harus peduli. Dimana lagi kamu bisa mendapatkan istri seperti Shania. Kalau terus kamu anggurin lama-lama dia bisa cari pelampiasan Lo."
"Pelampiasan?" Rengga kembali bergumam dan memandang ayahnya dengan bingung.
Tuan Sam mengangguk pelan dengan senyum penuh arti. "Iyalah, kamu tahu kenapa istri selalu selingkuh di luar sana? Itu karena dirumah dia tidak mendapatkan perhatian dari suaminya sendiri."
Deg
Rengga langsung mematung mendengar itu.
...
Beberapa saat kemudian, masih di rumah Shania. Mereka masih bersantai di ruang tengah. Zira sudah tertidur di atas kasur kecil yang ada di sana. Bayu juga berbaring di atas sofa, sedangkan Bu Maryam dan Shania duduk bersantai dan bersandar di sandaran sofa.
"Gak terasa, udah dua tahun Rania pergi ya, Sha," Bu Maryam berbicara sambil mengusap pundak Zira dengan lembut.
Shania tersenyum tipis dan mengangguk pelan. "Iya, Ma. Gak kerasa," jawabnya.
"Gimana hubungan kamu sama Rengga?" tanya Bu Maryam.
Shania jelas terdiam. Harus menjawab apa dia?
"Jangan ditanya lah, Ma. Kalau selingkuh nggak dosa, udah Bayu ajarin Shania untuk cari laki-laki lain," sahut Bayu.
Shania langsung tersenyum masam mendengar itu. Apalagi ketika Bu Maryam menampar lengan putranya dengan kesal. "Sembarangan aja kalau ngomong kamu,"
Bayu meringis, dia beranjak sambil mengusap lengannya yang terasa pedas. "Gak sembarangan kok. Bayu serius. Mama aja gak tahu kan kalau anak kesayangan Mama itu sampai sekarang masih terus anggurin Shania. Suami macem apa coba?"
"Bayu," tegur Shania. Dia memandang Bayu dengan kesal. Tidak enak rasanya jika mertuanya harus tahu tentang hubungan rumah tangga mereka.
"Mama tahu kok," ucap Bu Maryam.
Shania dan Bayu langsung terdiam. Bahkan Shania langsung mematung ketika Bu Maryam menandang dia dengan lekat.
"Mama gak maksa kamu, Sha. Rasanya dua tahun itu bukan waktu yang sebentar. Selama ini Mama lihat kamu sudah cukup baik dalam mengurus Zira dan Rengga. Tapi sayang, putra Mama itu masih belum bisa lepas dari bayangan Rania."
Shania tertunduk, dia tersenyum getir dan menggeleng pelan.
"Kamu berhak bahagia, kalau kamu gak tahan, Mama gak bisa maksa kamu untuk terus bertahan bersama Rengga."
Deg
Shania kembali terpaku.
"Nah, benarkan. Lihat, Mama aja udah mendukung, Sha.
"Bukan mendukung, tapi Mama gak mungkin biarin Shania terus tersiksa hidup sama Rengga. Kalau boleh memilih dan meminta, Mama maunya Shania yang jadi menantu Mama. Jadi ibu untuk Zira sampai selamanya." Bu Maryam terlihat bersedih, bahkan matanya langsung berkaca-kaca saat mengucapkan hal itu.
"Mama," Shania langsung mengusap lengan Bu Maryam dengan lembut.
Wanita paruh baya itu menoleh ke arah Shania dengan senyum. Terlihat jelas jika dia merasa berat jika Shania harus pergi. Tapi sebagai seorang ibu dan mertua, dia juga tidak mungkin membiarkan seorang gadis terus-menerus tersiksa hidup bersama putranya.
"Untuk saat ini, Shania masih mencoba untuk bertahan. Berat memang untuk melupakan orang yang dicintai dan menggantikannya dengan yang lain. Mungkin itu yang dirasakan Mas Rengga,"
"Tapi nanti, ketika Shania udah gak tahan lagi, Shania minta maaf ya, Ma," ucap Shania. Matanya juga ikut berkaca-kaca dan ingin menangis sekarang. Apalagi ketika melihat Zira. Dia memang tidak melahirkan bayi mungil itu, tapi rasa sayangnya sudah seperti anak kandung sendiri.
"Kamu berhak bahagia sayang," ucap Bu Maryam. Mereka langsung saling berpelukan satu sama lain. Sudah sejauh ini, dan banyak harapan serta impian yang ingin mereka bangun, terutama untuk Zira.
Tapi sayang, Rengga tidak bisa menerima kehadiran Shania dengan mudah. Akankah semua berjalan mulus? Dan apakah Shania bisa bertahan dalam pernikahannya?
...
Hari sudah malam, kedua mertua Shania dan Bayu juga sudah pulang ke rumah mereka setelah makan malam tadi. Kini, Shania juga sudah masuk ke dalam kamar bersama Zira yang memang sudah tertidur sejak tadi.
Dia meletakkan balita yang menggemaskan itu ke dalam tempat tidur bayinya yang berada di antara ranjang mereka berdua.
Rengga yang duduk di sisi ranjang masih terus memperhatikan Shania. Tapi tetap, Shania tidak ada memperdulikan pandangan itu. Bukan karena apa, tapi hatinya yang sebenarnya sudah merasa lelah. Dia ingin menyerah, tapi bayangan Zira dan Rania membuat Shania masih ingin bertahan. Meski semangat itu kini sudah pudar.
"Kamu kenapa?"
Shania tertegun saat mendengar pertanyaan Rengga.
"Kenapa apanya?" tanya Shania sambil berjalan menuju ranjangnya sendiri. Menarik selimut dan merebahkan tubuhnya di sana.
"Akhir-akhir ini kamu berubah."
Shania tersenyum tipis mendengar itu. Tapi dia sama sekali tidak menanggapi perkataan Rengga.
"Shania! Aku sedang bicara denganmu!" Rengga berusaha untuk menahan suara agar Zira tidak terbangun, meskipun sekarang dia sedang menahan emosi melihat sikap Shania. Dia tidak suka diabaikan seperti ini.
Shania menoleh, memandang Rengga dengan lekat. "Berubah apa yang Mas maksud?"
"Kamu tidak menyadari itu?" tanya Rengga pula.
"Mungkin itu hanya perasaan Mas saja." Shania mulai memejamkan matanya. Apalagi ketika melihat pandangan mata Rengga yang mulai berbeda. Lelaki itu terlihat memendam amarah. Dan Shania sangat tidak ingin berkelahi, apalagi hari sudah malam dan dia tidak ingin membuat Zira terbangun.
"Apa ini karena lelaki bernama Galang itu?"
Deg
Shania langsung membuka mata saat mendengar ucapan Rengga.
"Galang?" gumamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Deswita
🤭💪
2024-11-28
0
Dewie Angella Wahyudie
nohh itu tau, ngapain nanya???? gedek juga lama" sama rengga, pingin dch akun kirim rengga kesamudra hindia biar aku tenggelemin disaana.
2023-12-31
1
Farida Wahyuni
udah deh rengga, lepasin aja kalau ga mampu membahagiakan. ingat dosa kamu sama shania udah 2 tahun loh. mau tambah dosa berapa tahun lagi, rengga?
2023-12-31
3