Malam ini Rengga tidur di rumah sakit, Shania yang demam membuat dia tidak bisa diam saja. Zira sudah dia titipkan ke rumah orang tuanya. Dan kini, hanya dia yang ada di sana menemani Shania setelah mengantar Zira tadi.
Rengga terus memandangi Shania yang masih tertidur karena pengaruh obat. Demamnya sudah turun, dan sekarang hanya tinggal wajah pucatnya saja.
Hari sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Mata Rengga sudah mengantuk, tapi dia sama sekali belum bisa tertidur. Gumaman Shania tadi terus saja mengusik hatinya.
Entah siapa Galang yang Shania maksud. Apa lelaki itu yang membuat sikap Shania berubah seperti ini? Apa lelaki itu selingkuhan shania? Tapi rasanya mustahil, sebab selama dua tahun mereka menikah, Shania tidak pernah keluar rumah tanpa izin dari Rengga. Jika pun dia keluar, Shania hanya berbelanja kebutuhan Zira dan kerumah orang tuanya saja.
Entah kenapa perasaan Rengga menjadi tidak menentu seperti ini.
Sampai hari menjelang pagi, kepala Rengga hanya dipenuhi oleh berbagai prasangka terhadap lelaki bernama Galang.
Mata yang semula berat akhirnya tertidur juga, tapi tidak lama sebab pintu ruangan yang terbuka membuat dia yang ketiduran di sofa langsung terbangun.
"Selamat pagi,Tuan. Maaf, kami mau memeriksa Nona Shania dulu," pamit seorang perawat yang masuk dengan membawa buku catatan serta alat medisnya. Perawat itu terlihat kikuk saat melihat Rengga terkejut karena kedatangan mereka.
Rengga menghela nafas, dia hanya mengangguk sambil mengusap kasar wajahnya. Namun tiba-tiba, pandangan matanya tanpa sengaja bersitatap dengan Shania.
Rengga tertegun, istrinya itu sudah bangun. Tapi dia heran, kenapa tidak ada bersuara sama sekali? Atau Rengga yang tidak mendengar.
"Keadaan Nona sudah lebih baik, jangan lupa minum obatnya ya setelah sarapan," ujar perawat cantik itu setelah memeriksa Shania.
Shania tersenyum tipis dan mengangguk pelan. "Terima kasih, Suster," ucapnya.
Keadaan dan suasana kamar kembali hening setelah kedua perawat itu keluar. Rengga yang masih duduk di sofa masih terus memandangi Shania. Tapi lagi-lagi, gadis itu malah mengabaikannya.
Ini benar-benar hal yang sangat mengusik hati. Rengga tidak tahan, dia beranjak dan berjalan mendekat ke arah Shania.
"Kamu mau makan? Atau cuci muka dulu?"
"Zira dimana?" Shania tidak menjawab pertanyaan Rengga, tapi dia malah menanyakan hal yang lain.
Tentu saja itu membuat Rengga hanya bisa menghela nafas. "Zira aku antar ke rumah Mama."
Shania hanya mengangguk saja. Dia mencoba untuk beranjak, meski masih lemas tapi dia sudah lebih baik dari semalam. Banyak pertanyaan yang ada di kepalanya, tapi entah kenapa hatinya sangat enggan untuk berbicara dengan Rengga saat ini.
"Aku bantu," tawar Rengga yang langsung ingin menggapai lengan Shania. Tapi gadis itu malah menolaknya.
"Shania bisa sendiri. Mas gak perlu repot," ucap Shania yang sudah duduk di tepi ranjang.
Rengga mematung. Apalagi ketika melihat Shania yang turun dan meraih botol infusnya sendiri. Bahkan gadis itu turun dari tempat tidur dan berjalan sambil menggeret tiang infus ke kamar mandi.
Rasa kesal di hati langsung menguar, membuat Rengga merasa sesuatu di dalam dadanya terasa sesak.
"Apa ini ada hubungannya dengan lelaki bernama Galang?" gumamnya seorang diri.
Hingga tidak lama kemudian, ketika Rengga sedang menenangkan hati di atas sofa. Pintu ruangan terbuka, Bu Maryam dan Bayu masuk ke dalam sana. Tentunya bersama Zira.
"Ayah!" seru gadis kecil yang berada dalam gendongan Bayu.
Rengga langsung tersenyum dan meraih putrinya.
"Shania mana, nak? Gimana keadaannya?" tanya Bu Maryam dengan heran, di tangannya menenteng sebuah keranjang makanan. Sepertinya dia membawa sarapan untuk mereka.
Belum lagi Rengga menjawab, pintu kamar mandi terbuka, membuat semua orang langsung menoleh ke arah sana. Shania keluar dengan wajahnya yang pucat sambil menggeret tiang infus.
"Ya ampun, nak. Kok gak ditolongin sih. Kalau Shania jatuh di kamar mandi tadi gimana coba!" Bu Maryam menggerutu dan meletakkan keranjangnya di atas meja dengan cepat. Tapi lebih cepat Bayu yang berjalan ke arah Shania dan membantu kakak iparnya itu.
"Memang gak pengertian banget jadi suami," gerutu Bayu. Matanya memandang kesal pada Rengga tapi tangannya membantu Shania untuk berjalan.
"Dia yang gak mau dibantu," jawab Rengga, tapi dengan suara pelan.
Puk
Satu tamparan langsung mendarat di bahu Rengga. Bu Maryam menandang kesal putranya itu. "Kamu ini, jangan keterlaluan. Shania lagi sakit bukannya inisiatif sendiri. Dia itu kecapean ngurus kamu sama Zira."
"Iya, biar aja, Ma. Nanti kalau ada laki-laki lain yang lebih sayang sama Shania, baru tahu rasa dia," sahut Bayu yang tengah membantu Shania duduk di atas ranjangnya kembali.
Shania hanya tersenyum tipis saja mendengar perkataan Bayu. Cukup mewakili hatinya yang masih sangat enggan memandang ke arah Rengga. Tidak tahu kenapa, tapi semenjak pertemuannya dengan Galang waktu itu, perasaan Shania menjadi tidak menentu.
Rengga tidak menjawab, dia hanya diam dan terus memandangi Shania yang kini sudah mulai terbaring dan tersandar di kepala ranjang.
"Nda..." Zira melambaikan tangannya pada Shania. Sepertinya bayi kecil itu ingin mendekat pada Shania.
"Bunda lagi sakit sayang, kamu sama ayah dulu ya," ujar Bu Maryam.
"No, No. Mau nda," seru Zira.
"Gak apa-apa, Ma. Biar sama Shania aja," sahut Shania. Tidak tega rasanya membiarkan Zira merengek seperti itu.
Bu Maryam langsung meraih Zira dari gendongan Rengga. Bahkan dia mengabaikan Rengga dan melengos kesal pada putranya itu.
Rengga hanya bisa meringis dan memandangi ketiga orang itu yang kini sudah berkumpul di dekat ranjang Shania.
"Anak bunda, nggak nakal kan sama Nenek?" Shania mengusap wajah Zira yang sudah bersih dan segar. Apalagi harum aroma bayi di tubuh Zira membuat kepala Shania yang semula terasa berat dan pusing kini mulai berkurang.
"Mana nakal, tadi malam dia tidur sama aku kok. Ya kan," Bayu juga mencubit gemas hidung Zira hingga membuat bayi kecil itu menggeliat dan tertawa lucu.
"Cuma sebentar, habis itu dia ngamuk kamu tinggal tidur," gerutu Bu Maryam.
Shania dan Bayu langsung tertawa mendengar itu. Sedangkan Rengga yang duduk di sofa, hanya bisa memandang kesal pada mereka.
"Sudah sini, biar Mama suapin kamu makan," ujar Mama. Dia langsung duduk di samping Zira sambil membawa kotak makanannya.
"Shania bisa sendiri, Ma."
"Nggak, itu lihat infusnya aja ada di tangan kanan. Gimana mau makan. Sudah cepat buka mulutnya, biar cepat sembuh." Bu Maryam langsung menyodorkan makanannya ke mulut Shania.
Dengan cepat Bayu mengambil Zira dan dia pangku di kursi.
"Masakan Mama memang paling enak," puji Shania.
"Siapa dulu dong, Mama Bayu," sahut Bayu sembari memainkan alisnya hingga membuat Bu Maryam dan Shania langsung tertawa. Bahkan Zira yang tidak mengerti saja juga ikut tertawa.
Mereka benar-benar mengabaikan Rengga yang saat ini sudah sangat kesal.
"Ma, Rengga juga lapar dari semalam belum makan!" sahutnya yang sudah jengah karena diabaikan.
Mama memandang kesal ke arahnya. "Kamu kan punya uang, coba cari makanan di luar," ketus wanita paruh baya itu. Sepertinya dia sedang marah sekali dengan putranya ini.
Deg
Rengga langsung meringis mendengar itu. "Sebenarnya disini siapa sih yang anaknya," gerutunya seorang diri.
...
Like jangan lupa ya guys!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Deswita
🥺🙏
2024-11-28
0
Esther Lestari
emang enak dicuekin smua orang Rengga
2024-02-05
1
Farida Wahyuni
pokoknya nanti udah tiada baru terasa nih judulnya, biarin deh, biar tau rasa.
2023-12-29
1