Melepas Atau Memperjuangkan

Shania terdiam untuk beberapa saat ketika mendengar perkataan Rengga. Dia kembali memalingkan wajahnya tapi Rengga masih sangat ingin tahu. Sepertinya lelaki itu sudah curiga sekarang.

"Shania kamu tidak ingin mengatakan kamu pergi bersama siapa?" tanya Rengga. Kali ini dia berdiri sambil menggendong Zira di tangan kirinya.

Shania berbalik arah, hingga tatapan mereka kini saling beradu dengan kuat.

"Kami pergi bersama Galang."

Deg

Satu hantaman serasa membuat jantung Rengga tersentak. Dia memandang Shania dengan lekat, bahkan sama sekali tidak ada ekspresi di wajah Shania ketika dia mengatakan hal itu.

"Berjalan-jalan di taman kota dan membawa Zira bermain."

Tanpa sadar, tangan Rengga langsung mengepal mendengar itu. Raut wajahnya langsung berubah drastis, memandang Shania semakin dalam dan tentunya dengan perasaan yang tidak menentu.

"Ayahnya tidak bisa diharapkan, jika di ajak berlibur selalu punya seribu alasan untuk menolak. Dan hari ini, Zira sangat senang."

Lagi dan lagi, Shania seperti menyiram bara api di dada Rengga.

"Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan, Shania?" Dia bertanya dengan nada yang terdengar dingin dan dalam hingga membuat Zira terpaku memandang ayahnya.

"Sadar," jawab Shania yang memang seakan ingin membuat semua menjadi rumit.

"Kenapa? Mas mau marah?"

"Shania! Kamu istriku. Apa pantas seorang istri keluar bersama lelaki lain!" Tanpa sadar Rengga berkata keras hingga membuat Zira terkejut. Bibirnya bergetar menahan tangis melihat kemarahan ayahnya.

Shania yang sadar lebih dulu langsung merebut Zira dari tangan Rengga. "Apa yang Shania lakukan itu semua karena Mas yang tidak pernah peduli," ucap Shania sebelum akhirnya dia pergi masuk ke dalam kamar membawa Zira. Menutup pintu kamar itu dan menguncinya rapat-rapat.

Meninggalkan Rengga yang hanya bisa mematung dengan wajah yang memerah menahan emosi. Dia meraup wajahnya dengan kasar. Dadanya bergemuruh, ada segumpal daging yang terasa terbakar di dalam sana. Dan itu membuat Rengga merasa sangat sesak dan ingin berteriak kuat.

Dia terduduk di atas sofa kembali, raut wajahnya kelam dan masih menahan emosi. Bagaimana mungkin Shania bisa berpikiran seperti itu? bagaimana mungkin dia melampiaskan kesalahan Rengga dengan lelaki lain?

Rengga tersenyum getir dan langsung menggeleng pelan. Ini adalah kali pertamanya dia merasa perasaan yang aneh. Perasaan marah dan juga cemburu sekaligus.

Dia tahu dia salah, tapi bukan berarti pergi dengan lelaki lain adalah hal yang dibenarkan bukan? Kenapa tidak berbicara baik-baik dan beri dia kesempatan. Kenapa harus melampiaskan kekesalan itu dengan menghadirkan orang ketiga?

Rengga membanting pintu rumah dengan kuat, hingga dentumannya terdengar sampai ke dalam kamar. Shania masih memeluk Zira dengan wajah yang menahan tangis. Apalagi ketika dia dengar suara mobil Rengga yang pergi meninggalkan rumah. Suara mobil yang di gas dengan kasar hingga suaranya cukup membuat jantung merasa nyeri.

Tidak tahu kemana, tapi Shania tahu ini awal yang buruk. Dia menoleh, memandang Zira yang masih menyusu dalam dekapannya.

"Bunda sayang sekali dengan Zira. Bunda nggak mau pisah dari Zira. Tapi bertahan dengan ayah yang gak pernah mencintai bunda juga rasanya sakit, nak." Shania menggigit bibirnya, menahan Isak tangis dan air mata yang mulai keluar membasahi wajah cantik itu.

...

Brak

Tanpa mengetuk pintu lebih dahulu, Rengga masuk ke dalam rumah orang tuanya. Bahkan dia langsung berjalan menuju kamarnya di rumah itu. Bukan ke kamar atas, tapi ke kamar tamu yang pernah dia tempati di awal waktu dia menikah dengan Shania.

Bayu yang baru selesai membersihkan diri dan baru keluar dari dapur langsung mematung melihat kedatangan kakaknya.

"Hantu apa Mas Rengga ya?" gumamnya seorang diri. Bahkan karena bodohnya dia langsung mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang.

Rengga berjalan sangat cepat masuk ke dalam kamar itu, dan tentu saja itu membuat Bayu hanya bisa memandangnya sekilas saja.

Puk

"Ah!"

"Den, ini Bibi!" seruan Bi Ijah membuat Bayu langsung menghela nafas panjang sambil mengusap dadanya.

"Bibi, ngejutin aja deh!" gerutu Bayu, dia memandang Bi Ijah dengan kesal.

"Aden sih, melamun. Lagi ngelihatin apa?" Bi Ijah juga langsung menoleh dan ikut mengintip kemana arah pandangan mata Bayu.

"Ish si Bibi, malah ikutan ngintip. Coba panggilin Mama deh, kayaknya Mas Rengga Dateng, tapi kok langsung masuk kamar ya,"

"Mas Rengga?"

"Iya, udah sana tolong panggilin Mama dulu," ujar Bayu kembali.

Wanita paruh baya itu mengangguk cepat, bahkan dia langsung berlari ke belakang dimana Bu Maryam masih memasak di dapur. Sedangkan Bayu memilih untuk melihat dan memastikan apa benar Rengga yang datang. Pasalnya dia tidak tahu jika Rengga sudah pulang dari Surabaya.

Bayu mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Hingga akhirnya, dia mencoba membuka pintu kamar itu. Dan ... Dia langsung terpaku melihat Rengga duduk di sisi tempat tidur dengan wajah yang kusut dan berantakan.

"Mas!" panggil Bayu takut-takut.

Rengga menoleh, masih dengan wajah datar dan dinginnya.

"Mas Rengga atau hantu?"

Mata Rengga langsung memicing mendengar itu. Tapi, karena tatapan mata itu membuat Bayu langsung bisa bernafas lega. Dia tahu, jika sudah seperti ini, pasti benar kakaknya.

"Kok udah pulang?"

Rengga tidak menjawab.

"Kenapa pulang kesini?"

Masih tidak ingin menjawab.

"Berantem sama Shania?"

Dia malah tertunduk dengan helaan nafas panjang.

"Kayak anak-anak banget, berantem tapi kabur ke rumah orang tua," ejek Bayu.

Bugh

Satu lemparan bantal langsung mendarat di kepalanya. Dan itu membuat Bayu langsung meringis kesal.

"Kenapa marah, kan aku bilang yang sebenarnya," ucapnya sambil mengusap kepalanya yang sedikit bergoyang.

"Kamu tahu sesuatu tentang Galang?" Rengga memandang Bayu dengan lekat.

Tapi bukannya menjawab, adiknya itu malah tersenyum sinis dan duduk di meja rias yang ada di hadapan Rengga.

"Jadi karena itu marah?"

"Jawab saja brengsek!" bentak Rengga.

"Wow wow, santai dong," Bayu kembali tertawa melihat wajah kusut kakaknya. Ternyata karena itu yang membuat Rengga seperti ini. Entah apa yang sudah dilakukan Shania bersama lelaki itu hingga membuat Rengga terbakar.

"Siapa yang gak kenal Galang Samudra, anak dari Tuan Arkana. Putra tunggal pewaris kekayaan keluarga konglomerat itu,"

Rengga tertegun. "Jadi benar Galang itu," gumamnya.

"Mantan kekasih Shania yang terpaksa berpisah karena harus menikah denganmu."

Deg

Jantung Rengga langsung berdenyut nyeri mendengar itu.

'Shania sudah merelakan semuanya, cita-cita Shania, impian Shania, bahkan cinta Shania! Tapi apa yang Shania dapatkan. Sedikitpun senyum dari Mas saja tidak pernah Mas berikan kan!'

Perkataan Shania beberapa waktu lalu langsung terngiang di kepalanya dan itu membuat hati Rengga benar-benar terusik.

"Kenapa? Mas marah. Salah sendiri sih di anggurin. Siapa yang tahan coba. Dua tahun loh Shania berjuang untuk dapetin hati Mas. Tapi apa yang mas lakuin. Cuma mas abaikan dan Mas anggap sebagai baby sitter aja. Huh, siapa yang gak lelah," Bayu berbicara dengan nada yang menahan kesal. Dia juga kesal melihat kakaknya ini.

"Dan sekarang Mas mau marah karena dia berhubungan lagi dengan mantan kekasihnya? egois sekali," ucap Bayu kembali.

"Tapi bukan berarti dia berselingkuh hanya karena sikapku kan. Itu juga bukan hal yang pantas dilakukan," sahut Rengga.

"Lantas kamu mau bagaimana?"

Suara Bu Maryam membuat mereka sedikit terkesiap, Rengga dan Bayu langsung menoleh ke arah Bu Maryam yang masuk setelah dia mendengar pembicaraan kedua putranya ini.

"Kamu marah ketika Shania dekat dengan lelaki lain, tapi keberadaannya sama sekali tidak pernah kamu hargai."

Rengga tertunduk.

"Nak, Shania memang salah karena dia dekat dengan lelaki lain padahal statusnya masih istri kamu. Tapi kamu juga lebih salah karena sudah mengabaikan dia dua tahun lamanya. Dia juga punya hati dan kesabaran yang ada batasnya. Dan sekarang, inilah waktunya. Waktu dimana kesabarannya untuk mendapatkan hati kamu sudah usai," ungkap Bu Maryam panjang lebar.

Rengga hanya mampu tertunduk sambil menahan perasaan yang tidak menentu.

"Pilihan hanya dua sekarang."

Ucapan Bu Maryam membuat Rengga menoleh ke arahnya dengan getir.

"Lepaskan Shania dan biarkan dia bahagia dengan orang lain. Atau, jika kamu masih ingin bersamanya, buka hati kamu dan raih cinta Shania."

Rengga langsung mematung mendengar perkataan ibunya.

Apa yang harus dia lakukan? Melepaskan Shania? Tapi, kenapa rasanya berat sekali. Tapi, untuk memperjuangkan cintanya, bagaimana caranya, ketika ada lelaki lain yang sudah pernah memiliki hati Shania dan kini kembali lagi. Bisakah dia melakukan hal itu?

Terpopuler

Comments

Nining Moo

Nining Moo

keran tante👋🫰🫰🫰

2025-01-31

0

Deswita

Deswita

👏👏👏

2024-11-28

0

sherly

sherly

hello pak Rengga yg mungkin lg eror otaknya, 2 THN pak Shania dah berusaha situnya aja yg emang cari masalah... ngk waras Galang tu bukan org ke tiga justru kamu tu yg org ketiga... hehehheh

2024-04-26

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!