Kesedihan Shania

Mata Shania mengembun, memandangi lelaki yang sudah dua tahun lebih tidak dia lihat ini. Lelaki yang semakin tampan dengan wajah dan perawakan yang semakin terlihat dewasa.

"Maaf, aku ... Nggak sengaja," Shania berucap lirih, dia tertunduk dan tidak lagi berani memandang ke arah Galang. Sejak tadi, lelaki itu terus saja menatap ke arahnya. Wajahnya datar, tapi Shania tahu jika lelaki ini pasti sangat kecewa padanya.

Dua tahun lebih berlalu, Shania sangat berharap tidak lagi bertemu dengan Galang, tapi kenapa takdir malah kembali mempertemukan mereka di saat rumah tangga Shania sedang tidak baik-baik saja.

"Permisi," Shania ingin berlalu, tapi tangannya langsung dicekal oleh lelaki itu. Membuat Shania terpaku dan memandang ke arah Galang.

"Kamu mau pergi begitu saja setelah meninggalkan aku tanpa alasan?"

Deg

"Ikut aku!" Galang langsung menarik tangan Shania pergi dari sana. Membawa gadis itu ke tempat yang sepi dari pengunjung.

Langkah kaki Shania sedikit terseret, dia hanya pasrah dan entah kenapa tidak bisa menolak. Air matanya mulai mengalir, perasaan yang sempat tertanam dan terkubur di dalam hatinya kini mulai menguar. Walau bagaimanapun hubungannya dengan Galang berjalan baik-baik saja sebelum akhirnya Shania harus menikah dengan Rengga.

"Sekarang jelaskan padaku," ujar Galang. Dia memandang Shania dengan lekat, begitu tajam dan tentunya penuh dengan kekecewaan. Matanya tak lepas dari wajah cantik Shania yang mulai memerah menahan tangis.

"Nggak ada lagi yang perlu dijelaskan. Aku udah bilang kalau aku ..."

"Shania!" Galang langsung memutuskan perkataan Shania. Membuat gadis itu terkesiap. Dia memalingkan wajahnya dari Galang. Namun, lelaki itu malah meraih bahu Shania hingga mau tidak mau kini pandangan mata mereka kembali saling tatap.

"Kenapa kamu tega berbuat begini sama aku, Sha?" Galang memandang Shania penuh kekecewaan. "Kamu janji kamu akan nunggu aku sampai aku kembali kan?"

Shania terdiam, dia hanya tertunduk perih.

"Aku pikir kamu memutuskan hubungan kita karena kamu ingin fokus pada karir kamu, aku pikir karena kamu ingin aku fokus dengan pendidikan aku. Tapi ketika aku mencari kamu di perusahaan itu, kamu gak ada lagi. Di rumah kamu gak ada, dan di rumah mertua kakakmu juga kamu nggak ada."

Shania tidak bisa berkata-kata apa-apa. Dia memandang Galang dengan sendu, jadi lelaki ini masih terus mencarinya? Apa itu berarti dia sudah tahu kalau Shania..

"Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sudah menikah?"

Deg

Jantung Shania terasa perih mendengar itu.

"Kenapa kamu khianati cinta aku?"

Air mata semakin mengalir di wajah Shania. Hatinya sakit.

"Kenapa Sha?"

"Karena aku gak bisa nunggu kamu terlalu lama, Galang!" sahut Shania.

Galang menggeleng lemah, tangannya langsung terlepas dari bahu Shania.

"Kamu bohong," ucap Galang dengan mata yang berair. Beberapa hari lalu dia baru tiba di Indonesia, dia langsung mencari Shania ke rumahnya, tapi tidak ada siapapun di sana.

Galang juga sudah mencari Shania ke perusahaan tempat dia bekerja, tapi yang dia dapatkan malah Shania sudah resign dua tahun yang lalu. Dan hal mengejutkan yang membuat jantungnya serasa ingin lepas adalah ketika dia pergi ke rumah keluarga Tuan Sam, berniat untuk menemui Rania tapi yang dia dapatkan malah kabar buruk. Rania sudah meninggal dan Shania sudah menikah.

Galang memang tidak bertanya dengan siapa Shania menikah, karena kabar itu sudah membuat dia benar-benar terpukul. Apalagi yang mengatakan itu adalah adik ipar Rania, Bayu. Dia memang tidak bertemu dengan orang tua Rengga, tapi dari Bayu itu sudah cukup menjawab semua rasa gelisah Galang.

"Kenapa kamu tega khianati cinta aku? Kamu tahu aku cinta banget sama kamu kan Sha? Salah aku dimana?" Kali ini mata Galang berkaca-kaca saat mengatakan hal itu. Dan tentu saja itu membuat Shania semakin tidak bisa menahan hati.

Dia rindu, sangat rindu dengan kekasihnya ini, rasa ingin memeluk dan menumpahkan segala perasaan yang dia rasakan, tapi itu tidak mungkin. Shania masih ingat, jika dia masih berstatus istri orang lain sekarang, meskipun tidak dianggap.

"Maafkan aku, Galang. Tapi .. Aku tidak bisa lagi bersama kamu."

Galang menggeleng pelan. Wajahnya memerah, dia mengusap wajah itu dengan kasar.

"Lupakan aku, kamu berhak mendapatkan perempuan yang lebih baik dari aku," Shania memandang Galang dengan perasaan hancur. Dia ingin pergi karena dia tidak sanggup jika terus berada di dekat lelaki ini. Tapi Galang kembali meraih lengannya.

"Semudah itu kamu berucap, Sha?"

Shania hampir terisak, dengan cepat dia melepaskan tangan itu. "Maafkan aku," ucapnya dan langsung berlari meninggalkan Galang yang mematung dan tersenyum perih.

Air mata merembes keluar dari sudut matanya.

...

Shania menangis, menangis terisak begitu kuat. Hari sudah mulai gelap saat dia tiba di rumah. Tidak ada apapun yang dia lakukan ketika tiba di rumah. Rengga dan Zira belum kembali, dan tidak tahu akan pulang atau tidak. Tapi yang jelas, saat ini Shania hanya ingin menangis. Menangis dan menumpahkan segala rasa perih di hati.

Kenapa harus bertemu dengan Galang? Kenapa harus di saat seperti ini? kenapa harus disaat hati Shania mulai lelah dengan segala perjuangannya mendapatkan hati Rengga?

Tuhan, sedih sekali rasanya berada di posisi ini. Di saat sudah mulai lelah dengan sifat suami, tapi mantan kekasih yang masih dia cintai malah kembali. Perasaan Shania benar-benar tidak menentu hingga akhirnya membuat dia tertidur karena lelah lahir dan batin.

...

Ceklek

Rengga membuka pintu, tidak terkunci tapi ruang tengah gelap bahkan hanya lampu di dapur yang menyala.

Matanya mengernyit, memandang keadaan rumah yang nampak berbeda. Biasanya jika dia pulang rumah akan selalu terang, tapi kenapa ini tidak?

Ditangannya menggendong Zira yang sudah tertidur sejak di perjalanan tadi. Dia melirik jam dinding, masih pukul delapan malam. Kemana Shania?

Karena tidak ingin membuat anaknya terbangun, Rengga langsung masuk ke dalam kamar. Kamar utama yang memang ada dua ranjang di sana, ranjangnya dan ranjang Shania.

Lucu bukan, mereka suami istri tapi tidak pernah tidur satu ranjang. Mereka satu kamar, tapi tidur terpisah.

Deg

Rengga tertegun, ketika melihat Shania sudah tertidur.

'Kenapa cepat sekali?' batin pria itu heran.

Dia tidak membangunkan Shania, karena dia pikir jika gadis itu lelah. Tapi lampu kamar yang juga tidak menyala membuat Rengga semakin bingung. Apalagi dia tahu jika Shania paling tidak bisa tidur dalam keadaan gelap.

Apa gadis itu baik-baik saja? Tiba-tiba ada pikiran tidak nyaman yang dia rasakan ketika melihat kejanggalan Shania malam ini.

Terpopuler

Comments

Farida Wahyuni

Farida Wahyuni

kenapa ga dijelasin sama galang sih alasan kamu menikah. kasian galang, bukan cuma kamu yang sakit shania, tapi galang juga, tapi kamu tetap tega ga mengatakan alasannya. mengorbankan cinta kamu demi laki2 yang tidak menganggap keberadaanmu, sangat tidak sepadan pengorbanan kamu shania.

2023-12-26

10

Dewie Angella Wahyudie

Dewie Angella Wahyudie

aku jadi ikutan lelah, ngebayangin kehidupan shania, thor jangan suka ngaduk" perasaan orang donk, kshin shania pasti dya lelah dengan rumah tangganya, biarkan dia lepas dari rengga, dan bahgia sama galang, kalo emang shania gak diterima sama rengga, biar dia nyari kebahgaian sendiri.

2023-12-26

3

kirana

kirana

pasti sakit bngt kamu shania, sudah bnyk berkorban tpi tidak dihargai sama sekali, tpi jgn mngambl kputusan dengan emosi ya, kl memang lelah, menepi lah, kl memang hrs berpisah, berpisah dengan baik2 ,😔😔😔

2023-12-26

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!