Shania terpaku ketika mendengar Rengga menyebutkan nama Galang. Dia langsung menoleh ke arah suaminya itu. Memandang wajah Rengga yang terlihat datar namun menyimpan seraut emosi yang terpendam.
"Siapa Galang?"
Mata Shania mengerjap, dia bingung dari mana Rengga tahu tentang Galang. Apa dari Bayu, tapi itu rasanya mustahil.
"Kamu tidak ingin menjawab, Sha?" Rengga terus mencecar Shania dengan pertanyaan.
Shania menghela nafas, dia memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Rengga. "Untuk apa Mas mau tahu?"
Rengga langsung mengernyit. "Kamu bertanya untuk apa?" Dia terlihat tidak suka.
Tapi Shania malah terlihat santai dan tersenyum tipis. "Ya, untuk apa Mas mau tau tentang lelaki bernama Galang itu?"
"Aku ini suami kamu, Sha. Jelas aku berhak tahu siapa lelaki itu."
Shania mematung untuk beberapa saat, namun sedetik kemudian dia langsung mendengus senyum dan beranjak dari tidurnya. Duduk di sisi ranjang dan menatap lekat pada Rengga. Hingga kini, mereka saling pandang dengan dibatasi oleh ranjang Zira.
"Mas ingat kalau Mas suami Shania?"
Rengga terdiam.
"Mas anggap Shania sebagai istri Mas?"
Rengga masih tidak menjawab, hanya debar jantung yang terasa berbeda.
"Shania tidak salah dengar?" Shania menatap Rengga dengan lekat. Jika tidak ada Zira, ingin sekali dia berteriak di depan wajah lelaki ini. Lelaki yang sudah membuat hatinya porak poranda selama dua tahun terakhir.
"Suami ya," Shania tertawa getir dan menggeleng pelan. Dia memalingkan wajahnya dan menatap ke arah Zira dengan sendu sambil menggigit bibir untuk menahan tangis.
"Apa ada suami yang tidak pernah menyentuh istrinya sendiri?" tanya Shania, masih tidak memandang wajah Rengga.
"Apa ada suami yang tega mengabaikan kehadiran istrinya sendiri selama dua tahun?"
Rengga diam membisu.
"Kenapa nggak jawab?" tanya Shania. Dia memandang Rengga dengan lelehan air mata di wajahnya.
"Shania capek Mas," ucap Shania. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Langsung beranjak dari sana dan berjalan keluar.
Rengga juga bangun, dia ikut menyusul Shania yang sudah keluar sambil menahan tangis.
"Shania, tunggu!" Lelaki itu langsung menarik lengan Shania yang ingin masuk ke dalam kamar tamu.
"Lepasin!" Gadis itu menghempaskan tangan Rengga dengan kuat.
"Kamu boleh marah, tapi bukan berarti kamu simpan laki-laki lain kan!" ucap Rengga.
"Kenapa menangnya? Apa peduli Mas?" tantang Shania. Mereka saling pandang dengan tajam sekarang.
Bahkan Shania yang tidak pernah melawan kini semakin berani pada Rengga.
"Ada apa denganmu?"
"Mas tanya ada apa?" Shania semakin terisak mendengar itu. "Shania capek, Mas!" teriaknya.
"Shania capek berjuang sendiri selama dua tahun ini. Apa pernah mas lihat Shania sedikit saja ha?"
Rengga kembali terdiam. Bahkan saat Shania memukul dadanya dengan kuat pun lelaki itu tetap terdiam, Isak tangis Shania yang begitu pilu membuat dirinya tidak bisa mengatakan apapun. Ada rasa sesak mendengar dan melihat Shania yang menangis seperti ini. Tapi rasa kesal atas nama Galang itu juga masih membuat Rengga tidak menentu.
"Apa Mas pikir Shania bahagia hidup kayak gini?" Shania menggeleng pelan. "Nggak, Mas. sakit," ucap Shania sambil menepuk dadanya sendiri.
"Sakit ketika diabaikan sama suami sendiri. Sakit ketika mas cuma anggap Shania sebagai baby sitter Zira, sakit ketika Mas memperlakukan Shania cuma kayak pembantu, sakit Mas!" teriak Shania. Isak tangisnya semakin kuat.
"Shania!" Rengga ingin meraih tubuh Shania. Namun gadis itu kembali menghempaskan tangannya dengan kuat.
"Mas, Shania juga terpaksa Nerima pernikahan kita. Tapi Shania udah selalu coba untuk jadi istri yang baik, jadi ibu yang baik untuk Zira. Tapi apa yang Shania dapetin? mas gak pernah lihat sedikitpun pengorbanan Shania kan?" Shania tertunduk, dia menangis semakin pilu dan terasa perih, hingga membuat emosi Rengga kini berganti dengan rasa bersalah yang begitu besar.
Semua perlakuan Shania, perjuangannya, dan sikapnya kembali terngiang di kepala Rengga. Tapi sialnya, perlakuannya yang jahat dan tidak pernah melihat Shania sedikitpun juga menyelubungi kepalanya, hingga membuat perasaan bersalah itu semakin menjadi.
"Shania, aku ..."
"Jangan sentuh! Udah cukup Shania berjuang Mas. Shania capek. Shania udah melepaskan semua impian dan cita-cita Shania hanya untuk menikah dan jadi istri yang baik untuk Mas. Bahkan Shania juga rela ngelepas cinta Shania demi kalian!"
Deg
Rengga langsung tertegun mendengar itu.
"Tapi apa yang Shania dapatkan? Gak ada, hanya senyum sedikit pun dari Mas gak pernah bisa Mas kasih kan."
Rengga tertunduk, dadanya terasa sesak mendengar itu.
Shania menggeleng sambil mengusap wajahnya kembali.
"Shania capek, Mas," lirihnya. Dia memandang Rengga sejenak dan setelah itu langsung masuk ke dalam kamar. Menutup pintu dengan kuat dan menguncinya dari dalam.
Rengga terpaku, memandang nanar pintu kamar Shania. Tangannya terjulur ingin mengetuk, tapi ketika mendengar suara Isak tangis Shania, Rengga malah semakin tidak menentu.
"Sha," panggilnya lirih. Tapi Shania sudah tidak ingin lagi menjawab, hanya Isak tangisnya saja yang terdengar pilu. Dan itu membuat Rengga semakin merasa bersalah.
...
Sejak malam itu, hubungan Rengga dan Shania semakin dingin. Bukan karena saling acuh, tapi Rengga terlihat lebih canggung dan semakin merasa bersalah. Apalagi sikap Shania yang berubah sangat dingin terhadapnya.
Rengga tidak lagi marah, sebab dia tahu sekarang kenapa Shania seperti itu. Perasaan yang tidak menentu membuat Rengga bingung harus berbuat apa.
Tapi yang pasti, di abaikan seperti ini membuat sesuatu di dalam hati Rengga menjadi tidak nyaman dan .... Merindu.
"Aku pergi dulu," pamit Rengga pada Shania. Hari ini dia akan pergi ke Surabaya untuk melakukan perjalanan bisnis.
Shania hanya mengangguk, dia hanya diam saat mengambil Zira dari tangan Rengga.
"Ayah pergi ya, nak. Jangan nakal sama bunda," ujar Rengga pada putrinya.
"Ya, yah," ucap balita celat itu.
Rengga memandang ke arah Shania. Dia tersenyum memandang wajah dingin yang sekarang terlihat mengiris hati. Tidak ada lagi senyuman, tidak ada lagi kehangatan.
"Sha," panggilnya sambil menjulurkan tangan pada Shania.
Shania mengerti, dia langsung meraih tangan itu dan dia cium punggungnya seperti biasa. Meski kali ini dia juga heran karena Rengga yang lebih dulu memulai. Dan yang lebih heran lagi, saat Shania ingin menarik tangannya, Rengga malah menahan tangan itu.
"Aku minta maaf," ucap lelaki itu.
Shania mematung.
"Untuk semua perlakuanku, aku mohon jangan menyerah," pintanya. Memandang Shania dengan wajah yang memelas.
"Shania tidak ingin hidup dengan lelaki yang egois. Seumur hidup itu lama, dan berjuang sendirian itu ... melelahkan."
Deg
"Hati-hati dijalan, kami masuk dulu." Shania langsung meninggalkan Rengga yang terpaku di tempatnya. Memandang Shania yang sudah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan rapat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Nining Moo
bagus shania,,,kamu harus tegas ,,,jangan lemah
2025-01-31
1
Deswita
🙏💪💪
2024-11-28
0
sherly
betul tu sha, dah cukuplah 2 THN, emang sableng si Rengga nih perasaan dia yg paling menderita ditinggal Rania...
2024-04-25
1