Elena tampak diam saja dengan pandangan kosong di depan kamar Noah saat Louis melihatnya. Wanita itu sedang berpikir apakah wanita muda yang disebut Bianca adalah suruhan ibunya juga sama seperti pria yang bersamanya malam itu?
Bianca bilang, ia seorang wanita muda. Jika pikirannya benar, maka ada seseorang yang ia curigai. Apalagi jika orang itu masih berhubungan dengan ibunya, mudah saja menebak siapa orangnya.
Elena menghela nafas cukup kasar. Kenapa kehidupannya kacau begini. Dari keluarga hingga percintaan tidak ada yang berhasil. Apa sebenarnya ia pantas mendapatkan keluarga kecilnya lagi? Bagaimana jika dirinya ditakdirkan sendiri lagi? Apa benar-benar tidak ada lagi tempat untuknya?
Louis mendekat dengan wajah dingin khasnya. Sepertinya wanita itu tidak dalam keadaan baik. Setiap melihat Elena mulai menujukkan kesedihan atau wajah murungnya, tidak bisa di pungkiri bahwa Louis sebenarnya tidak nyaman. Ia lebih suka melihat wajah cerianya yang cerewet setiap hari daripada raut tak bernyawa itu. Meski menyebalkan, tapi itu lebih baik.
Ya, itu hanya pikiran dangkal dari lubuk hatinya. Louis enggan mengakui jika perasaannya memang nyaris goyah.
Namun, apa yang di lakukan Louis? Pria itu justru melempar handuk kecilnya ke wajah Elena hingga wanita itu tersentak kaget. Elena sempat linglung sejenak, tapi segera di sadarkan oleh suara Louis.
"Keringkan rambutku."
"Apa?" Elena masih belum mencerna.
"Keringkan rambutku, Elenaa ..." geramnya.
"Rambutmu? Kau, kan, punya pengering rambut."
Jadi, untuk apa di keringkan dengan susah payah begini, pikir Elena.
"Tidak mau?" datarnya.
"MAU!" jawab Elena cepat. "Apa aku boleh masuk ke kamarmu?"
"Hm." Louis hanya berdehem sembari melangkah masuk ke kamarnya. Elena langsung mengikuti dengan suka cita.
Cepatlah, Elena. Sebelum pria itu sadar dan mengusirmu lagi, batinnya bersemangat.
"Kau mulai tidak normal?" Louis mengangkat sebelah alisnya tanpa ekspresi di wajahnya.
Senyum gembira Elena langsung surut, berganti dengan bibir mengerucut. "Tidak ada wanita secantik aku yang gila," ketusnya.
"Cih. Percaya diri sekali," sarkas Louis.
"Percaya diri? Ini bukan sekedar percaya diri. Kecantikanku sudah diakui oleh sekian banyak orang termasuk kau!" tunjuk Elena.
"Aku?" Louis menunjuk dirinya sendiri, kemudian terkekeh sinis. "Dalam mimpimu!" Menyentil kening Elena hingga berbunyi. Wanita itu spontan mengelus keningnya yang sakit.
"Louiss!"
"What?" Dengan wajah tanpa bersalahnya.
"Jelas-jelas kau selalu mengatakan aku cantik! Jangan lupa kau selalu bilang, Elena-ku yang paling cantik tidak ada duanya. Belum lagi saat kau merayuku jika ingin melakukan— emph!"
"Apa mulutmu tidak pernah lelah berbicara?!" Menutup mulut Elena dengan sebelah tangan. Wajah Louis nyaris memerah. "Aku sudah berubah pikiran. Keluarlah!" Membalik tubuh Elena ke arah pintu.
Gawat!
"Hehe ... aku hanya bercanda." Memegang tangan Louis sambil mengayunkannya.
"Ck!"
"Jangan usir aku," bujuknya memasang wajah imut.
"Itu tidak berguna." Meskipun kenyataannya tidak begitu. Louis sudah memalingkan wajah karena tidak tahan. "Cepatlah. Sebentar lagi waktunya Noah bangun." Akhirnya.
Jadi, sepanjang Elena mengeringkan rambutnya, wanita itu masih saja terus bicara meski tidak lagi menyinggungnya. Louis hanya menanggapi dengan kata ya, hm, yang membuat Elena tidak puas dan akan terus bicara sampai Louis kesal menjawabnya.
Namun, tanpa Elena sadari, senyum tipis terbit di bibir Louis. Suasana ini persis seperti saat mereka bersama. Kelakuan Elena tidak pernah berubah. Mulut cerewet yang menyerocos itu telah menjadi ciri khasnya. Satu-satunya keanehan mungkin saat wanita itu diam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Hera Puspita
persatukan lg mereka thor
2024-07-15
0
Rifa Endro
sepertinya kau sudah mukai mencurigai sesuatu
2024-03-03
1
bunga cinta
hmmm
2024-02-08
1