Waktu memang tidak bisa di putar, tapi masa depan belum ditentukan dan takdir masih bisa di ubah. —Elena Joyce
°
°
Louis berjalan memasuki mansion setelah pulang lebih awal hari ini. Hal pertama yang di lihatnya adalah Noah yang sedang mengerjakan pr-nya di ruang tengah tanpa di temani siapa pun.
Louis meletakkan tas kerjanya di meja dan duduk di sebelah Noah. Pria itu tampaknya sedang kelelahan. Terbukti karena Louis langsung merebahkan setengah tubuhnya di bawah sofa sambil memejamkan mata.
"Kenapa tidak langsung ke kamar saja, Dad," kata Noah tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
"Dimana Elena?" Tanpa membuka mata.
Hm? Tidak seperti biasanya ayahnya bertanya.
"Memasak," jawab Noah seadanya.
Louis tersenyum sinis mendengarnya. Dulu, di bujuk beberapa kali pun Elena selalu menolak melakukannya. Pantang bagi wanita itu memasuki dapur, kecuali dalam keadaan darurat seperti haus di tengah malam atau lapar sebelum jam makan.
"Butuh bantuan?" Melirik pada Noah yang sangat serius.
"Aku bisa mengatasinya, Dad."
Setelah itu keadaan menjadi hening kembali. Dua orang yang sama-sama tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan akan sulit berkomunikasi seperti saat ini.
Hingga keheningan mereka di pecahkan oleh pekikan kegirangan dari Elena yang berlari dari arah dapur dengan membawa sepiring cake yang masih hangat.
"Pelan-pelan, Nona." Jason mengejar dari belakang dengan was-was. Khawatir wanita itu akan tersandung, lalu jatuh.
"Aku berhasil!" pekik Elena. "Cobalah!" Tanpa aba-aba langsung memasukkannya ke mulut Noah yang hendak bicara.
"Louis, kau sudah pulang juga? Kalau begitu cobalah!" Wanita itu terlalu gembira sehingga melupakan sesuatu. Begitu gembiranya sehingga ia juga memaksa Louis memakan kue buatannya itu.
Ayah dan anak itu tak dapat menolak selain menghabiskan kue di mulut mereka dengan paksa. Belum lagi melihat mata Elena yang berbinar senang.
"Bagaimana? Enak tidak? Ini percobaan kelima dan berhasil. Rasanya lebih baik daripada kue sebelumnya. Benarkan, Paman Jason?" Elena tak berhenti berbicara.
"I— iya, Nona." Jason sedikit khawatir dengan reaksi Louis karena Elena menyuapinya dengan paksa.
"Kenapa kalian diam saja? Aku sudah berusaha keras, tahu!"
"Ewnakk! Em— enak, Bibi." Noah memaksa kue-nya masuk ke tenggorokan.
"Kau mau membunuh kami?!" hardik Louis setelah menelan semuanya. Rasanya memang tidak buruk, tapi baginya masih tidak layak di sajikan.
Elena lantas tersentak dan memasang raut sedih.
"Seharusnya aku menyerah saja," lirihnya pelan.
"Enak! Daddy berbohong, Bibi. Dia pasti malu mengakuinya," bantah Noah, tidak mau melihat Elena sedih.
"Noahh!" desis Louis. "Dari mana kau punya keberanian memaksaku makan, hm?" Kali ini pada Elena yang seketika menyadari perbuatannya.
"Jika tidak bisa memasak, ya tidak perlu memasak. Lagipula siapa yang mau memakan makanan yang rasanya seperti—"
"Daddyy! Rasanya enak, tahu!" pekik Noah kesal.
"Siapa yang mengajarimu berbohong? Kau mau memakan makanannya setiap hari? Kau mau pencernaanmu sakit?"
Astaga, lihat gerutuan panjangnya itu. Bibir Elena sudah mengerucut kesal mendengar setiap ocehan Louis yang menyebalkan. Tidak bisakah hargai dirinya sedikit?
Ah bodohnya kau Elena ... kau mau mendengarkan apa dari pria berlidah tajam seperti Louis, hah?! batinnya menyadarkan.
Jadi tanpa menyela apapun, Elena berdiri setelah tanpa sadar melempar sebuah serbet ke wajah Louis dimana pria itu sangat peka dan langsung menepis sebelum mengenai wajahnya.
"ELENA!" teriak Louis.
"KAU MENYEBALKAN, LOUIS!" balas Elena berteriak setelah menjauh.
"What?!" Louis terperangah. Noah sudah tertawa di sebelahnya, begitu pun dengan Jason yang menahan tawa.
Hanya Elena yang berani bersikap begitu pada Louis. Pria itu pasti kesal setengah mati.
Beraninya wanita itu ...!
"Saya akan mengawasi nona Elena lagi, Tuan. Permisi," pamit Jason.
"Noah—" Louis hendak marah, namun melihat Noah tertawa lepas seperti ini membuatnya mengurungkan niatnya. Perasaan hangat timbul di hatinya. Noah yang selalu bersikap dingin mulai menunjukkan tawa yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Kau sangat menyukainya, Noah?" tanya Louis mulai santai.
"Memangnya siapa yang tidak menyukainya?" Noah balik bertanya. "Daddy tidak menyukainya?"
Louis tidak dapat menjawab. Mulutnya tertutup rapat. Tanpa sadar matanya melirik ke arah dapur dimana Elena sebelumnya pergi.
Kalau begitu kau harus bekerja keras— menjaga hatimu.
Sial! Ia terlalu meremehkan ucapan ibunya.
"Daddy, kau tidak menyukai bibi?" tanya Noah sekali lagi. Ia tidak mau Elena merasa tidak nyaman di rumah ini.
"Aku akan ke kamar. Lanjutkan saja pr-mu." Menyentuh kepala Noah sebelum beranjak. Sedangkan, Noah menatap kepergian ayahnya dengan diam.
"Sedang memikirkan apa, Dear?"
"Grandma?"
"Apa ada yang bertengkar?" Ia sempat mendengar teriakan saat menuju kesini setelah selesai mengurus bunga-bunga di halaman belakang.
"Bibi melempar daddy dengan serbet karena kesal," kata Noah jujur.
"Really?" Rosemary lumayan terkejut. Elena masih sangat berani ya.
"Bibi hebat, kan, Grandma? Sepertinya hanya dia yang berani berbuat begitu pada daddy."
Rosemary tersenyum lembut dan mengelus kepala Noah. Andai cucunya ini tahu bagaimana kedua orang itu hidup bersama dengan cinta sebelum ia lahir. Melihatnya saja seperti pasangan yang akan selalu bersama selamanya.
Louis yang sangat posesif dan protektif, lalu Elena yang tidak bisa diam. Rosemary ingat betul bagaimana gilanya Louis setelah berpisah dari Elena untuk kedua kali. Putranya bahkan sempat mengabaikan Noah selama tiga bulan pasca bercerai.
"Apa kau tahu, Nak ... Elena sangat mirip dengan ibumu."
Wajah Noah langsung berubah datar setelah Rosemary mengatakan itu.
"Mereka tidak mirip," katanya tanpa ekspresi.
"Memangnya kau tahu seperti apa ibumu?" Rosemary masih berujar lembut.
Belum pernah sekalipun Noah bertanya atau ingin melihat foto ibunya sejak mengetahui perbuatan wanita itu.
"Aku tidak peduli pada wanita itu seperti dia yang tidak peduli pada kami."
"Kau juga membencinya, ya?"
"Meski tidak benci, aku tetap tidak mau terlibat dengannya." Dibawah meja, kedua tangan Noah mengepal kuat. Kenapa sang nenek tiba-tiba membicarakan tentang ibunya? Padahal wanita itu adalah luka bagi ia dan ayahnya.
Rosemary diam-diam melirik pada satu tempat dimana seseorang berdiri di baliknya. Elena yang membawa segelas susu mendengar pengakuan menyakitkan dari Noah. Wanita itu tertunduk menatap susu di tangannya tanpa bergerak.
Maafkan aku, Noah. Aku benar-benar ibu yang buruk. Aku gagal menjadi ibumu.
Jika saja ia tidak menjebak Louis untuk bersamanya lagi, Noah tidak akan lahir dan merasakan perasaan seperti ini, kan? Harusnya anak itu lahir dari orang tua yang bisa membuatnya mendapatkan kasih sayang berlimpah dan menjadi anak kecil yang normal seperti anak lain yang bermain di usianya. Terkadang ucapan Noah sudah seperti orang dewasa yang membuatnya merasa terenyuh setiap mendengarkannya.
Elena menyandarkan tubuhnya di dinding dan memejamkan mata serta mengatur nafas yang mulai menyesakkan dadanya.
Kalau aku jadi kau, meski lima puluh tahun lagi tetap tidak akan cukup.
Benar. Jika lima puluh tahun saja masih kurang, bagaimana dengan satu tahun? Tentu saja tidak akan cukup. Elena berbalik menatap Noah kembali. Jika ia ingin Noah memiliki kehidupan masa kecil yang normal, ia hanya perlu menjadi egois sekali lagi, bukan?
Noah sudah terlahir dari dirinya. Terlambat untuk menyesal. Meski menyesal pun, Noah tetap anak yang terlahir dari ibu yang buruk sepertinya. Namun, ia bisa mengubahnya jika ia mau bekerja keras lebih banyak lagi.
"Kalau begitu maaf, Louis. Kau harus menjadi milikku lagi kali ini," tekadnya bulat.
Demi Noah, ia akan melepas harga dirinya sekali lagi. Memangnya kenapa? Ia, kan, selalu bertindak sesuai keinginannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...menurut kalian ceritanya bagus aja ga sih?...
...kadang aku ngerasa novel ini datar dan biasa aja 🥲...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Nus Wantari
baguuusss Thor... terimakasih ya semangat terus..🥰🥰🥰
2025-02-19
0
Fika Chu
mnyengkn buat dbcaa...i like it👌👌
2025-02-17
0
Endang Sulistia
lanjut ...
2025-03-26
0