Flashback
Keacuhan Elena menjadi salah satu alasan mengapa wanita itu mudah disalahpahami. Seperti tidak bersuara saat marah dan jarang menggubris respon seseorang. Pada dasarnya, Elena menyukai ketenangan karena ia tidak menyukai keributan. Selain itu, Elena wanita yang sulit mengungkapkan perasaannya. Hal itu di karenakan tidak banyak yang bersedia mendengarkan.
Menurutnya meski berbicara panjang lebar sekalipun, buruk sangka orang lain terhadapnya tidak akan berubah. Jadi, tidak ada bedanya berbicara atau tidak. Elena yang ceria dan tenang tidak lebih dari sekedar topeng yang menutupi rasa kesepiannya.
"Elena!"
"Ada apa, Mom?" jawabnya malas.
"Kau masih berhubungan dengannya?" Kathryn Joyce. Sosok itu tak kalah cantik meski sudah terdapat tanda penuaan pada wajahnya. Sudah di ketahui dari mana wajah rupawan Elena berasal?
"Jika sudah tahu, mengapa masih bertanya?"
"Bukankah sudah kami tegaskan padamu? Akhiri secepatnya! Kau tidak bisa hidup hanya dengan cinta saja, Elena."
Sudah bukan sekali dua kali Elena mendengar keluhan ini. Betapa keluarganya sangat ingin ia melepaskan kekasih yang sudah beberapa lama ini menjalin hubungan dengannya.
Namun, Elena hanya acuh tak acuh. Meski sudah beberapa kali keluarganya memperingatinya. Baginya itu hanya terdengar seperti gertakan.
"Kau tidak mendengarkan lagi, kan, Elena?"
"Mom, aku percaya padanya," ujarnya. "Dia bisa memenuhi kebutuhanku."
"Elena ... kami punya seseorang yang lebih baik darinya—"
"Mom! Kumohon ...."
"Ini demi kebaikanmu, Elena. Jika kau masih keras kepala, jangan salahkan kami."
-
-
-
-
Elena tersenyum lebar begitu melihat seseorang yang di cintainya sudah menunggu di depan kampus. Ia melambai-lambaikan tangannya, kemudian berlari mendekat.
"Louis!" Gadis itu melompat ke pelukannya.
"Kau tidak bersama supirmu lagi hari ini." Sambil mengetuk dahi Elena pelan. Gadis itu hanya menyengir memperlihatkan giginya.
"Kenapa? Sedang kesal lagi?" tanya Louis. Saat kesal dengan keluarganya, Elena selalu pergi tanpa menunggu supirnya.
"Hm, bukan apa-apa. Hari ini kita akan makan apa?"
Keduanya berjalan beriringan saling bergandengan tangan menuju kelas masing-masing yang kebetulan masih searah.
"Sepertinya hari ini tidak bisa. Aku ada urusan dengan ibuku."
"Begitu." Elena menjadi murung, membuat Louis merapatkan tubuhnya dan merangkul Elena. Tak lupa satu kecupan di berikan pada Elena di keningnya.
"Akan menemuimu setelah selesai, ok?"
"Tidak perlu. Kau fokus saja dengan urusanmu. Kau, kan, harus jadi lebih kaya dariku." Louis terkekeh mendengarnya. Benar, ia harus lebih kaya dari Elena agar tidak ada yang berani mengambil miliknya.
"Tunggu saja. Kau akan jadi ratunya."
Elena sangat percaya dengan Louis. Pria itu juga tahu jika keluarga Elena menentang hubungan mereka. Namun, kekeras-kepalaan Elena dan keteguhan Louis berhasil membuat mereka bertahan satu sama lain.
Akan tetapi, apa yang dilakukan keluarga Joyce kali ini bukan sekedar gertakan saja. Urusan yang dimaksud Louis bersama ibunya ternyata bukan hal sepele. Elena tidak akan mengetahuinya jika berita mengenai perusahaan Halbert nyaris bangkrut karena kasus penipuan dan korupsi telah menyebar kemana-mana. Hal itu tak lebih dari campur tangan keluarga Joyce untuk membuatnya berhenti. Ia terlalu menganggap remeh ancaman sang ibu yang ternyata bukan sekedar gertakan semata seperti yang biasa ibunya lakukan.
Jadi malam itu, Elena memohon pada orang tuanya agar berhenti. Kerja keras Louis selama ini tidak boleh hancur karena ulah mereka. Louis juga tidak tahu jika dirinya adalah alasan dari masalah yang menimpanya kali ini, kan?
"Aku— aku akan berhenti. Jadi— jadi kembalikan seperti semula," mohonnya sesegukan. Ia masih ingat jelas bagaimana ekspresi Kathryn yang menampilkan wajah penuh kemenangan miliknya.
Tekad mempertahankan itu telah runtuh. Elena tidak bisa berbuat apapun, kecuali menurut pada keluarga yang mengontrolnya.
Jadi ia datang dalam keadaan kacau di hadapan Louis yang tidak mengetahui apapun atas perbuatan ibunya.
"Ada apa? Kenapa kau menangis?" Raut dan nada kecemasan terpatri di wajah Louis yang merengkuh pipinya. Pria itu berusaha menghapus air matanya. "Tenang saja. Aku disini." Memeluk Elena untuk menenangkan. Gadis itu semakin sesegukan.
Apa yang harus ia katakan? Ia tidak bisa menyakiti pria ini lagi. Ia mencintai Louis, tapi pria itu akan hancur karenanya.
Setelah cukup puas menangis di pelukan Louis, Elena lantas mendorongnya menjauh.
"Kita putus saja! Aku tidak bisa menikah dan tinggal di rumahmu. Besarnya saja tidak sampai setengah dari mansionku!" pekiknya.
"Apa yang kau katakan, Elena. Kemarilah—"
"Tidak! Apa kau tidak mengerti juga?! Aku lelah berpura-pura menerimamu, Louis," bentaknya.
Tangan Louis yang hendak meraihnya terhenti dan jatuh ke samping tubuhnya. Pria itu sempat terdiam, kemudian berkata, "kau mendengar berita itu, kan? Aku akan mengurusnya segera, Elena. Aku janji. Jadi, kemarilah." Louis tidak menyerah.
Tangis Elena semakin pecah, sembari menggeleng ia melangkah mundur menjauhi Louis yang berusaha mendekat.
"Aku tidak akan sanggup hidup denganmu, Louis. Kau harus tahu diri dan melihat posisimu!" teriak Elena.
Gadis itu kemudian berlari sejauh mungkin, tidak membiarkan Louis mendekat sedikitpun. Elena ingin memohon dan berlutut pada pria itu. Ucapannya sudah keterlaluan, tapi harus begitu agar Louis melepaskannya.
"Maaf— maafkan aku. Maafkan aku, Louis," isaknya masih berlari. Louis tidak lagi mengejarnya sehingga Elena bebas bergumam sendiri.
Sejak saat itu keduanya bagai orang asing. Keluarga Joyce juga menepati janji dengan tidak mengganggu keluarga Halbert lagi. Tak lama kemudian Elena mendengar kabar jika Louis sudah keluar dari kampus dan pindah ke tempat lain. Pada akhirnya hubungan mereka benar-benar berakhir.
Namun, siapa mengira jika hubungan itu akan benar-benar berakhir seperti dugaannya. Dengan kenekatan Elena, diam-diam ia mencari Louis kembali setelah menemukan cara agar keluarganya tidak bisa menentangnya lagi.
"Jika kau hamil, mungkin keluargamu tidak akan menentangnya lagi, Elena."
"Iya. Kurasa Edith benar." Joella setuju. Ide itu terdengar bodoh, tapi sepertinya akan berhasil. Tidak mungkin keluarganya membuatnya sengsara setelah menikah, kan?
"Louis pasti masih mencintaimu juga, tapi untuk berjaga-jaga kita gunakan rencana lain. Setelah ucapan kasarmu waktu itu, dia pasti tidak akan menerimamu dengan mudah," ujar Edith lagi.
"Kita jebak saja dia. Bilang padanya jika Elena mabuk karena frustasi dan menarik sembarang orang ke kamarnya."
"Itu sangat ekstrem," jawab Elena. "Tapi apa peduliku." Sejak awal citranya memang sudah buruk.
"Tenang saja, Elena. Kami akan menyelesaikannya untukmu!"
"Kau cukup ikuti kami saja."
Flashback Off
—
—
—
—
Begitulah kira-kira awal mula kekacauan dalam hubungannya. Bukan hal mudah menerima kembali orang yang telah menyakiti kita. Sama halnya dengan Louis yang akan sulit menerimanya kembali. Sejak awal, semua kekacauan ini berasal darinya.
"Jika lapar, panggil koki untuk memasakkanmu." Entah sejak kapan Rosemary sudah ada disana. Mantan mertuanya itu berbeda dengan Louis yang terang-terangan bersikap dingin.
"Nyonya, apa kau membenciku juga?" tanya Elena penasaran.
"Tergantung."
"Tergantung?"
"Bagaimana kau bersikap baik selama di sini." Elena tertawa pelan sambil mengaduk susunya.
"Itu akan sulit," ucapnya jujur. "Aku akan menggoda Louis lagi."
Rosemary hanya melirik kecil sambil sibuk mengumpulkan beberapa bahan untuk memasak. Tidak usah heran karena Rosemary sering melakukannya.
"Akan ku ucapkan selamat jika kau berhasil."
Elena tertawa lagi dibuatnya.
"Anda sangat aneh, tapi aku sedikit lega."
"Aku juga seorang ibu," datar Rosemary singkat.
"Iya, kau juga seorang ibu," gumam Elena tersenyum lembut. Ia yakin Rosemary mengerti maksudnya.
Sebagai ibu tidak ada salahnya berjuang untuk anaknya. Seperti yang dilakukan Elena demi Noah kesayangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...yang nunggu bab 35 kemungkinan bukan di bab 35 lagi ya say. karena ada yang di revisi, otomatis babnya ga nentu seperti kemarin lagi😉...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Zila Aziz
Sadis hidup elena
2024-04-06
0
Rifa Endro
OMG , ternyata orang tua Elena ada menjadi dalangnya.
2024-03-03
2