Louis melangkah menuju Elena yang terdiam menatapnya juga.
"Kemasi barang-barangmu hari ini," perintahnya tanpa ekspresi.
"Apa?!" Elena terkejut. "Kenapa?"
"Kenapa? Kau bodoh masih bertanya?"
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun!" sergah Elena.
Joella dan Edith merespon bingung. Mereka juga mengenal Louis sebagai kekasih Elena dulunya, tapi apa yang terjadi pada keduanya, mereka tidak tahu. Keduanya tidak terlihat seperti sepasang kekasih lagi.
"Kau lupa apa yang kau lakukan dengan teman-teman mu tadi? Kau merasa hebat setelah melakukan itu pada orang lain?"
Louis tidak mungkin lupa dengan mereka. Elena, Joella dan Edith. Ketiganya begitu terkenal sebagai primadona kampus. Mereka akan mengganggu siapa saja yang dianggap merusak mata dengan bersikap seenaknya dan semena-mena. Apalagi jika orang itu berada di bawah mereka.
"Apa maksudmu?"
Apa ada kesalahpahaman disini?
"Jika tidak salah dia wanita yang berjalan kesana- kemari untuk memberi kalian makan. Benar, kan?"
Elena tidak menyangkalnya.
Ya, memang benar. Freya adalah gadis yang dulu melayani mereka. Setiap jam istirahat, Freya akan pergi ke kantin dan membawakan mereka makan. Bukan hanya itu, Freya juga yang membawa tas mereka begitu turun dari mobil.
Betapa buruknya hal itu, kan? Kenapa mereka seperti itu?
"Ini tidak seperti yang kau lihat, Louis."
"Benar! Elena tidak melakukan apapun." Joella memasang badan. Meski belum mengerti alur ceritanya, tapi sepertinya Elena sedang terkena masalah karena mereka.
"Kalau kau mengira barusan ulah Elena, kau salah. Kami berdua mengaku salah, tapi justru Elena yang menghentikan kami." Edith ikut bersuara.
Elena menatap keduanya dalam diam. Sebenarnya ia tidak berniat menjelaskan. Biarkan saja jika Louis berpikir dirinya buruk, toh pria itu selalu begitu meski ia membela diri. Tapi usaha dari teman lamanya ini tidak bisa ia abaikan. Bagaimanapun mereka sudah berusaha membelanya.
"Kalian berdua pergilah. Temui Freya. Kita akan bicara lagi nanti."
"Menginggalkanmu sendiri? Louis kelihatannya sangat curiga dan tidak percaya." Setahu Joella hubungan mereka begitu harmonis. Sekarang Louis menatapnya dengan pandangan permusuhan begitu.
"Jika kalian sungguh peduli, maka dengarkan aku," pinta Elena.
"Louis, Elena tidak seperti yang kau pikirkan," ucap Edith sekali lagi pada Louis sebelum menyeret Joella bersamanya.
Jeff sendiri sudah mundur atas perintah Elena sebelum pria itu bergerak masuk. Mau tidak mau Jeff akhirnya pergi.
"Aku melihat Edith dan Joella mengganggu Freya, jadi aku menghentikan mereka. Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi aku tidak bisa pergi meninggalkan Noah sebelum kesepakatan kita selesai. Silahkan berpikir sesukamu tentang diriku. Toh sejak dulu kau begitu." Elena tidak menunggu jawaban Louis karena ia segera pergi dari sana, meninggalkan Louis yang hanya bisa mengepalkan tangannya.
Apa ia salah paham? Louis merasa tidak nyaman dalam hatinya. Sejak dulu ia memang belum mempercayai wanita itu sepenuhnya meski ia mencintainya. Masih ada rasa curiga serta tak yakin.
Mungkin hal itu muncul sejak Elena mendapatkan dirinya dengan cara licik. Ya, rasa curiga dan was-was berasal dari sana.
Beberapa tahun lalu sejak mereka masih kuliah bersama, ia jatuh cinta pertama kali pada wanita itu. Mungkin benar bahwa cinta itu buta sehingga ia tidak peduli dengan rumor dan perbuatan Elena pada saat itu. Louis percaya ia bisa mendapatkan Elena meski di rendahkan beberapa kali olehnya.
Saat itu keluarga Halbert belum ada apa-apanya. Tidak bisa dibandingkan dengan keluarga Joyce yang kekuasaannya berada di puncak. Meski begitu ia berhasil mendapatkan hati Elena dan membuat wanita itu menurut padanya. Tentu saja Louis merasa bahagia.
Namun beberapa bulan setelahnya entah apa yang terjadi wanita itu menemuinya sambil menangis.
"Kita putus saja. Aku tidak bisa menikah dan tinggal di rumahmu. Besarnya saja tidak sampai setengah dari mansionku!" Elena mengatakannya dengan terisak seolah ia sangat terluka.
Louis tak langsung menyetujuinya. Ia Berusaha meyakinkannya berkali-kali hingga pada akhirnya ia kalah. Ucapan Elena justru semakin menyakitinya dengan berbagai hinaan. Padahal ia berjanji akan berusaha keras untuk mencapai puncak dan membuatnya tidak akan kesulitan sama sekali. Mungkin sejak itu ia sudah mulai membenci Elena.
Sampai akhirnya kejadian tak terduga membuat mereka kembali terlibat. Elena diam-diam menjebaknya di sebuah club malam dan cinta satu malam terjadi hingga Noah hadir. Wanita itu meminta pertanggungjawaban. Karena cinta yang masih tersisa di hati Louis, pria itu menyetujuinya.
"Maafkan aku, Louis. Aku tulus padamu. Aku berjanji akan berubah dan menjadi ibu yang baik."
Janji itu yang ia percayai selama pernikahan mereka. Elena benar-benar melakukannya. Wanita itu tak pernah berulah lagi. Ia pun semakin bekerja keras membesarkan perusahaan keluarga yang di wariskan padanya demi wanita itu dan calon anak mereka.
Tapi kejadian malam untuk kedua kalinya, namun dengan pria lain membuat kepercayaan itu hancur berkeping-keping hingga hanya kebencian yang tersisa di hati Louis tanpa mencari tahu lagi.
Menurutnya ia sudah terlalu percaya pada Elena yang sudah menjatuhkan cintanya berkali-kali.
"Tuan ..." Panggilan Lucas membuyarkan ingatannya.
"Interogasi wanita itu, Lucas. Apa yang Elena lakukan padanya."
-
-
-
"Jadi kalian bercerai?" pekik Joella dan Edith. Keduanya sudah berada di satu mobil dengan Elena dan Jeff setelah meminta maaf dengan tulus pada Freya.
"Kami sangat menyesal, Elena. Perbuatan kami juga berdampak buruk padamu."
"Bukan itu maksudku. Kalian lihat nasibku sekarang. Jangan sampai kalian jadi sepertiku juga. Itu sebabnya aku meminta kalian berhenti!"
"Maaf, Elena. Kami janji tidak akan mengulangi."
"Jangan berjanji, tapi lakukan!" Ia sudah muak dengan kata janji.
"Baik. Kami akan lakukan!"
"Jadi bagaimana sekarang? Kita harus jelaskan pada Louis," ujar Edith.
Mereka tidak menyangka kehidupan pernikahan Elena jadi berantakan, bahkan tidak dikenali oleh anaknya sendiri. Mereka pikir Elena sudah bahagia setelah menikah dengan orang yang dicintainya meski orang tuanya menentang keras bahkan Elena rela menjebak pria itu agar tidak ada pilihan lain karena munculnya anak.
"Tidak perlu. Dia sudah menelan banyak kekecewaan. Lagipula tidak mungkin dia mendengarkan kalian."
Benar juga. Louis saja tidak percaya pada Elena, apalagi dengan mereka.
"Elena ..." Joella memeluknya. "Kami senang bertemu kau lagi." Edith juga ikut memeluknya.
"Meski tidak ada yang percaya padamu, kami akan selalu mempercayaimu."
"Sudahlah. Aku sudah terbiasa."
Keduanya mungkin buruk, namun hanya mereka yang mengerti dirinya. Jika seandainya ia tidak pernah berteman, Elena tidak mungkin terjerumus sejauh ini, namun itu bukan penyesalan. Ia telah belajar banyak hal.
"Kalian harus berkenalan dengan Jeff."
Mereka sampai lupa jika ada orang lain.
"Halo Jeff, aku Joella dan ini Edith."
"Halo," sapa Edith.
"Jeff," datarnya tetap fokus pada kemudi.
Bagaimana bisa tidak ada cctv! Jeff memikirkan hal lain. Ia kesal karena Louis selalu meragukan nona mudanya yang baik hati.
"Kenapa tidak ada cctv di sekitar toilet?"
"Oh, maaf. Aku lupa memasangnya," kata Joella tanpa rasa bersalah. Tidak ada sahutan dari Jeff.
"Aku akan memasangnya," koleksi Joella.
"Hm."
Joella mencibir, "dia irit bicara." Sambil berbisik.
"Dia payah," jawab Elena berbisik.
"Dia tampan," sambung Edith.
Elena memutar bola mata malas.
"Jangan lupa temui Freya lagi besok. Kalian harus membantunya sebagai permintaan maaf."
"Kita beli saja tempatnya bekerja untuknya," ujar Edith.
"Kau lupa tempat itu milikku?" Joella mengingatkan.
"Intinya kalian harus hilangkan rasa trauma nya. Jika perlu, berteman saja dengannya. Perlakukan dia dengan baik."
Jadi selama perjalanan menuju sekolah Noah, Elena tidak berhenti memperingati keduanya dengan berbagai kata-kata.
-
-
-
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...gabisa langsung up banyak ya beb. aku mau sambil revisi juga soalnya^^...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
@nkM@k
krisis kepercayaan nih si abang lou, terimakasih ka
2023-12-16
1
Visha_Varisha
sabar menunggu thorrr .. 😍🥰
2023-12-16
0