Elena meletakkan sendok dan garpu sebagai tanpa penutup dari makanan yang telah di nikmatinya. Sepiring steak dan sebotol bir sangat memuaskan isi perutnya. Meski telah mengisi perutnya, ia tak berniat bergerak dari tempatnya.
Elena juga tak berniat pulang ke kediaman Halbert tanpa Noah yang sekarang pasti telah memulai kelas pertamanya. Masih sangat lama sampai Noah keluar lagi. Seperti biasa ia hanya akan berkeliling kota untuk memuaskan diri dengan berbelanja atau sekedar jalan-jalan sambil menunggu Noah pulang. Namun kali ini ia merasa malas untuk melakukannya.
"Tunggulah disini. Aku mau ke toilet." Beranjak dari kursinya. Jeff mengiyakan.
"Jangan membuat masalah," peringat Jeff.
Elena berdecak, "memangnya aku mau melakukan apa!" ketusnya.
Bukan Jeff tidak percaya. Elena sudah terlalu sering memberinya kejutan. Itu sebabnya ia khawatir jika tidak bersama nona mudanya itu.
Sudah setengah jam berlalu sejak Elena keluar. Jeff mulai tidak bisa berpikir jernih. Apa ke toilet perlu waktu setengah jam? Menghela nafas, sepertinya firasatnya benar. Jeff akhirnya beranjak untuk menyusul Elena.
Benar saja. Ada keributan disana dengan Elena sebagai salah satunya. Ada dua wanita lainnya dalam kondisi kacau dan berantakan. Lalu satu wanita lagi dibelakang Elena dalam keadaan basah dan kotor.
Mungkin bukan pemandangan asing lagi bagi Jeff. Seperti yang ia katakan sebelumnya bahwa Elena sudah sering memberinya kejutan. Namun berbeda ceritanya jika ada dua orang lagi yang seharusnya tidak ada. Seseorang yang menatap Elena dengan dingin.
-
-
-
Elena baru saja memasuki area toilet begitu suara keributan terdengar cukup keras. Situasi yang terjadi di depan matanya ini sudah tidak asing lagi dan Elena tidak berniat ikut campur di dalamnya. Ia sudah bertekad untuk berubah dan menjadi wanita baik untuk Noah, kan? Ya, ingat itu. Elena mengingatkan dirinya sendiri.
Jadi, ia mengabaikan dan masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Sambil bertopang dagu menuntaskan diri dalam diam, Elena masih mendengar keributan di iringi sedikit jeritan dan isakan. Kenapa tidak melawan. Memangnya mereka berhenti jika menangis dan berteriak. Begitu pikir Elena berusaha tidak menghiraukan.
Setelah beberapa saat, Elena akhirnya menghela nafas kasar. Menjengkelkan hanya diam saja menyaksikan dan mendengar hal seperti ini di depan mata, jadi setelah menyelesaikan rutinitasnya, Elena keluar dan melewati ketiga wanita itu dengan acuh menuju kaca besar yang terpajang disana.
"Hei." Salah satu wanita berambut hitam legam mendekatinya dengan senyum miring.
"Kau berlalu-lalang dengan santai disini." Merangkul Elena yang masih acuh, padahal ada kekerasan di depan matanya. Bukannya takut atau lari, justru masih santai dengan aktivitasnya. Rupanya itu mengganggu perhatian mereka.
"Kau tidak takut bernasib sepertinya." Membalik tubuh Elena agar menghadap wanita yang tersimpuh di lantai dengan miris. Di lihat dari seragam kerjanya, wanita di bawah itu seorang pelayan. Wanita yang merangkulnya itu tertawa seolah itu mainan.
"Dia seorang baby sitter." Wanita kedua berambut blonde mendekatinya juga sambil menyentuh pakaiannya. "Apa yang kau lakukan di tempat mewah begini? Ingin mencari pengusaha kaya? Benar, kau sangat cantik untuk melakukannya." Menepuk-nepuk kerah baju Elena.
Jadi sebut saja keduanya si hitam dan si blonde.
"Kenapa kalian tidak berteman saja? Atau kau ingin bergabung dengan kami saja?" Keduanya tertawa. "Ayo bergabung."
Sedangkan wanita yang ada di lantai bergetar takut sambil menggeleng.
Elena akhirnya tersenyum setelah cukup lama diam. Ia melepas rangkulan dan sentuhan kedua wanita itu di tubuhnya.
"Aku sangat sibuk," tolaknya. "Sepertinya dia juga sibuk. Boleh kubawa dia?" tunjuk Elena pada wanita di lantai.
Keduanya wanita itu saling menatap, kemudian tertawa keras dan berkata, "kau serius?!"
"Tentu saja serius. Sebenarnya kami sudah ada janji." Elena merasa konyol dengan mengatakan ini. Dengan santai ia hendak membantu wanita di lantai untuk berdiri. Meski ragu menerima uluran Elena, wanita itu tetap meraihnya.
Belum sempurna wanita itu berdiri, seseorang sudah menarik rambut Elena.
"Kau pikir kami bodoh, hah?!" hardik si blonde.
Sudah sadar rupanya, pikir Elena. Tapi, jambakan ini lumayan sakit juga. Pertengkaran ala wanita. Hal biasa, bukan?
"Beraninya kalian," desis Elena menahan sakit. "Padahal aku sudah berbaik hati." Tanpa ragu Elena melakukan hal yang sama. Kedua tangannya meraih rambut mereka hingga pekikan keras terdengar.
"LEPAS!" teriak mereka.
"Kau lepaskan dulu rambutku!" bentak Elena. Bukannya dilepaskan, keduanya malah berteriak seperti orang bodoh.
"JOELLA, EDITH! AKAN KU BUNUH KALIAN BERDUA!" Sontak cengkeraman keduanya terhenti meski belum terlepas.
"Bagaimana kau—" Kemudian salah satu dari mereka terbelalak kaget dan segera melepas jambakannya. Tangannya menutup mulut tak percaya.
"Kau— kau Elena!" pekik si hitam yang diketahui bernama Joella. "Lepaskan dia, Edith!"
paniknya.
Mendengar itu, wanita blonde yang dipanggil Edith pun melepaskan tangannya dan bergerak menjauh. "Tidak mirip!" kilahnya.
"Dia Elena, Edith! Astaga apa yang kita lakukan."
Elena meniup rambutnya yang menutupi wajah dan merapikannya. Elena kemudian menatap tajam keduanya seperti peluru.
"Pikir kalian berapa perawatan rambutku? Kau mau membayar? Bagaimana denganmu?" tudungnya satu persatu.
"Kau benar-benar Elena?" Edith masih tidak percaya. Bukan karena berubah, tapi Elena jauh lebih cantik daripada dulu. Tidak, bukan begitu maksudnya. Elena selalu sempurna, hanya saja yang sekarang lebih sempurna lagi. "Kau melakukan operasi? Tidak— kenapa kau memakai pakaian—"
Buk! Elena melempar segulung tisu toilet yang masih baru pada Edith dengan keras langsung pada wajahnya.
"Beraninya orang seperti kalian mencemari mataku! Kalian tidak berubah, hah?!"
"Astaga, memang Elena."
Elena tidak memperdulikannya, melainkan membantu wanita malang di bawahnya berdiri. Untungnya tidak ada luka sedikitpun. Hanya saja wanita ini pasti ketakutan, kan?
"Kau tidak apa-apa, kan, Freya?"
Itu sebabnya Elena sulit mengabaikan kejadian di depan matanya ini. Selain karena ia sangat mengenal dua orang ini, wanita yang menjadi korban juga ia kenali. Ketiganya masih orang yang pernah satu universitas dengannya. Meski awalnya ia masih belum menyadari.
"Aku—" Freya tersendat-sendat. Elena sampai kasihan melihatnya. Astaga, dua jalang ini memang keterlaluan.
"Minta maaf!" bentak Elena, membuat ketiganya tersentak kaget.
Joella dan Edith tidak langsung bergerak. Keduanya seperti kebingungan.
"Kalian tidak dengar," geram Elena mulai menarik tangan mereka dengan kasar dan membawanya ke hadapan Freya. "Kalian masih saja menganggu Freya! Sudah kubilang hentikan, bodoh! Cepat minta maaf!"
"Apa?" Elena serius menjadi orang baik? Heh apa-apan itu. Meski begitu mereka tetap meminta maaf sesuai perintah Elena.
"Maaf, Freya," enggan mereka.
"Freya, aku benar-benar tidak tahu jika mereka masih mengganggumu. Maafkan aku." Ia sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan siapapun dari masa lalunya. Elena jadi merasa bersalah, padahal ia sudah berjanji pada Freya jika Edith dan Joella tidak akan mengganggunya lagi.
"Ini bukan salahmu," jawabnya cepat.
"Kau bekerja disini?" Freya mengangguk. Lebih tepatnya ia bekerja bersama Joella karena restoran ini memang milik Joella.
"Astaga, maaf—"
"Miss. Joyce."
Oh God!
A
Elena langsung berbalik dan membeku. Ternyata ada dua pasang mata— bukan, tapi tiga pasang yang melihatnya. Sejak kapan mereka semua disana?
"Bawa wanita itu, Lucas," perintah Louis dingin. Tatapan tajamnya tidak beralih dari Elena.
"Baik, Sir." Seperti perintah, Lucas membawa Freya yang dalam keadaan kacau.
Tinggalah Louis dan Jeff yang ada dibelakangnya.
Sial! Dari cara Louis menatapnya sepertinya ia akan terkena masalah lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...cape banget sama Elena😭😂...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Anonymous
cape ya elena....maksud mau berubah jadi baik...malah masalah terus yg datang.
2025-01-31
1
Rifa Endro
salah paham kan ? sabar elena. semua akan baik2 saja kau bersama jeff
2024-03-03
1
dewi
salah faham lagikah 🤦
2023-12-23
0